Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Mei 2023 | 17.40 WIB

LPDP Kelola Dana Abadi Penelitian Rp 13 Triliun

Suasana Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu (26/3/2023). PP Muhammadiyah sampaikan surat pengaduan pelanggaran kode etik ASN terkait dugaan tindak pidana fitnah, pencemaran nama baik dan ujaran kebencian terkait ancaman Halalkan - Image

Suasana Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu (26/3/2023). PP Muhammadiyah sampaikan surat pengaduan pelanggaran kode etik ASN terkait dugaan tindak pidana fitnah, pencemaran nama baik dan ujaran kebencian terkait ancaman Halalkan

JawaPos.com – Dana abadi yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) semakin menggelembung. Saat ini nilai pokok dana abadi di LPDP telah mencapai Rp 140 triliun. Sebagian besar untuk pendanaan pendidikan. Sebagian lagi untuk dana abadi penelitian, termasuk pembiayaan proyek riset dan inovasi.

Perkembangan pengelolaan dana abadi itu disampaikan Direktur Riset LPDP Wisnu Sardjono Soenarso di Kebun Raya Cibinong, Kabupaten Bogor, kemarin (22/5).

Dia menjelaskan, ada empat dana abadi yang dikelola LPDP. Yaitu, dana abadi pendidikan, dana abadi kebudayaan, dana abadi penelitian, dan dana abadi perguruan tinggi.

"Kita kelola dana abadi penelitian sekitar Rp 13 triliun. Ini dana pokoknya," katanya. Dari dana pokok tersebut, setiap tahun dihasilkan nilai manfaat sekitar Rp 400 miliar sampai Rp 500 miliar. Nilai manfaat itu bergantung performa investasi yang dijalankan LPDP.

Wisnu menuturkan, LPDP hanya mengelola uang pokok dana abadi penelitian. Sementara itu, nilai manfaat atau hasil investasinya langsung disalurkan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengelolanya. Dana tersebut antara lain digunakan untuk pembiayaan riset yang bersifat kompetisi.

"Peneliti tidak mengajukan pendanaan risetnya ke LPDP, tetapi ke BRIN," katanya. Jadi, seluruh kegiatan penelitian, baik dari internal BRIN, kampus, perusahaan swasta, maupun masyarakat umum, usulannya masuk ke BRIN terlebih dahulu. Setelah itu diseleksi BRIN dan yang lolos akan mendapatkan pendanaan riset yang bersumber dari dana abadi penelitian.

Lebih lanjut, Wisnu menuturkan, salah satu program pendanaan riset yang didanai dari dana abadi penelitian adalah Riset Inovasi Indonesia Maju (RIIM). Setiap tahun dibuka beberapa gelombang pengajuan pendanaan riset dalam program RIIM tersebut. Selain itu, ada pendanaan riset kategori ekspedisi. Baik ekspedisi di daratan maupun lautan.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, target dana abadi penelitian yang dicanangkan pemerintah mencapai Rp 100 triliun. "Sekarang masih jauh. Setiap tahun pokoknya ditambah," tuturnya. Dengan semakin besarnya pokok dana abadi penelitian, diharapkan nilai manfaat atau hasil investasi setiap tahun ikut naik.

Handoko menegaskan, secara akumulasi, tahun ini diharapkan kucuran hasil investasi dana abadi penelitian untuk kegiatan riset bisa mencapai Rp 1 triliun. Dia mengatakan, skema pendanaan riset yang ada di BRIN bersifat terbuka dan kompetisi.

Dia menceritakan sempat menerima keluhan dari peneliti BRIN karena sering tidak lolos. Sebaliknya, banyak usulan kegiatan riset oleh kampus atau perguruan tinggi yang lolos. Menurut Handoko, kondisi tersebut murni dari hasil seleksi pengajuan proposal yang masuk. Jika proposal dari internal BRIN tidak lolos, berarti mereka memang kalah bersaing dengan usulan dari perguruan tinggi atau kampus.

Mantan kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut mengatakan, tidak ada tema khusus terkait pengajuan penelitian atau riset untuk didanai dari LPDP itu. Secara umum hanya dibagi berdasar karakter aktivitas penelitiannya. Misalnya, ada kegiatan RIIM untuk ekspedisi Papua, Wallace, Borneo, dan Indonesia Barat. ’’Jadi, berdasar lokus atau lokasi penelitiannya,’’ ujarnya.

Handoko mengatakan, saat ini ada beberapa penelitian yang terus dikebut. Di antaranya, penelitian untuk memperoleh vaksin penyakit malaria. Dia menyatakan, malaria adalah penyakit endemis Indonesia. Tetapi, sampai saat ini belum ada vaksinnya.

’’Saya tidak bisa mengatakan sudah seberapa jauh dan targetnya kapan,’’ ungkapnya. Yang jelas, dia mengatakan, untuk penyakit-penyakit endemis, sudah harus diupayakan vaksinnya. Selain malaria, ada penyakit TB dan demam berdarah atau dengue. Handoko menegaskan, jangan sampai vaksin malaria, misalnya, keduluan negara lain. Sampai akhirnya Indonesia harus membeli vaksinnya dari negara lain itu. (wan/c19/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore