
Ilustrasi komoditas kentang. (pexels/pixabay)
JawaPos.com-Indonesia yang sering disebut sebagai negara agraris menghadapi kenyataan yang tak seindah kisahnya. Misalnya, swasembada pangan masih belum tercapai.
Berbagai komoditas strategis seperti gandum, kedelai, dan bawang putih, masih bergantung impor. Bahkan kebutuhan pangan dasar seperti beras dan gula kerap impor dari luar.
Sementara itu, di dalam negeri, sektor pertanian terhimpit berbagai persoalan mulai dari produktivitas yang stagnan, distribusi pupuk yang kerap bermasalah, keterbatasan bibit unggul, hingga alih fungsi lahan.
Kendala lain yang semakin nyata adalah krisis regenerasi petani. Data BPS menunjukkan, rata-rata usia petani Indonesia mendekati 50 tahun.
Minimnya minat anak muda untuk menekuni pertanian membuat pekerjaan ini masih didominasi orang tua. Kondisi ini bukan hanya menimbulkan kekhawatiran soal ketersediaan tenaga kerja di masa depan, tapi juga menghambat inovasi.
Tanpa keterlibatan generasi muda yang melek teknologi, transformasi pertanian menuju era modern sulit terwujud. Mengacu pada isu tersebut, Petrokimia Gresik (PG) menggelar Pestani Dieng Raya. Lebih dari 170 petani dari lima kabupaten, Banjarnegara, Wonosobo, Pekalongan, Magelang, dan Batang, ikut serta dalam lomba mengembangkan kentang raksasa, salah satu komoditas pangan yang bernilai manfaat tinggi bagi tubuh.
Hasilnya menunjukkan secercah harapan. Sebagian peserta berhasil meningkatkan produktivitas hampir 10 persen, dari 16,5 ton per hektare menjadi 18 ton. Peningkatan ini menegaskan bahwa dengan pendampingan dan teknologi budi daya yang tepat, kontribusi Dieng terhadap kebutuhan pangan nasional bisa lebih besar.
Komisaris Utama Petrokimia Gresik Suhardi Alius menyampaikan, ratusan peserta lomba telah dibekali pengetahuan teknis mencakup budi daya sesuai GAP (Good Agriculture Practice) dengan mengaplikasikan produk PG. Pihaknya melakukan monitoring dan diskusi selama lomba berlangsung untuk mendorong peserta lebih kreatif dan inovatif.
"Kami berharap, dengan adanya kegiatan ini dapat menarik minat petani khususnya generasi muda untuk terjun di sektor pertanian dan menjadi tumpuan awal menuju pertanian berkelanjutan di Indonesia," kata Suhardi Alius melalui keterangannya.
Dia melanjutkan, capaian tersebut belum cukup menutupi ancaman krisis regenerasi. Sebab saat ini, kalau anak muda hanya melihat pertanian sebagai pekerjaan berat dengan hasil kecil, tentu mereka enggan meneruskan.
"Tapi kalau hasil panen membaik, pertanian bisa dilihat sebagai sektor yang layak,” lanjut Suhardi Alius.
Tanpa masuknya generasi baru, pertanian berpotensi semakin tertinggal dibanding sektor lain yang lebih cepat beradaptasi dengan teknologi. Padahal, inovasi seperti digital farming, precision agriculture, hingga pemanfaatan data satelit sangat membutuhkan SDM muda yang terbiasa dengan teknologi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
