Ilustrasi: Pelajar mengikuti kegiatan belajar di PAUD Bahrul Iman, Jakarta, Selasa (2/5/2023).
JawaPos.com – Upaya transformasi pendidikan ke digital Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendapat tanggapan positif. Dalam skala likert 10 (1: sangat tidak setuju – 10: sangat setuju), inisiatif ini mendapat nilai rata-rata 9 oleh pelaku pendidikan.
Fakta tersebut terkuak dari hasil riset Segara Research Institute. Survei dilakukan secara online terhadap 3.725 responden di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua. Jumlah tersebut terdiri dari 1.521 kepala sekolah, 1.591 guru, 328 dosen, dan 285 mitra kerja lain yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.
Direktur Eksekutif Segara Institute Piter Abdullah mengungkapkan, survei ini dilakukan bukan hanya menguji efektivitas dari platform-platform yang dibuat Kemendikbudristek. Tapi, juga membantu memetakan persoalan di lapangan. Sehingga ke depan adopsi teknologi digital bisa lebih dioptimalkan lagi untuk memajukan pendidikan. ”Yang tak kalah penting adalah masukan-masukan dari responden untuk meningkatkan kualitas dan manfaat teknologi aplikasi dan platform digital Kemendikbudristek,” ujarnya pada webinar bertajuk “Efektivitas Teknologi Dalam Ekosistem Dunia Pendidikan di Indonesia, Jumat (12/5).
Adapun lingkup aplikasi dan platform digital yang menjadi objek survei adalah Platform Merdeka Mengajar (PMM), Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah), Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS), Rapor Pendidikan, Akun Belajar,id, dan Kedai Reka.
Dengan menggunakan skala likert 10, hasil survei menunjukkan bahwa kehadiran aplikasi dan platform digital Kemendikbudristek disambut sangat baik oleh pelaku dunia pendidikan. Misalnya, 9,14/10 dari para kepala sekolah, 8,61/10 oleh para guru, 9,36/10 untuk dosen, dan 9,24/10 untuk mitra/industri.
Respon positif ini, kata Piter, tidak terlepas dari tingkat penerimaan pelaku dunia pendidikan, dalam hal ini kepala sekolah, guru, dosen dan mitra/industri, terhadap kemajuan teknologi dan digitalisasi. ”Hasil ini juga mengindikasikan bahwa hampir seluruh kepala sekolah, guru, dosen dan mitra industri sangat terbuka pada perkembangan teknologi dan digitalisasi,” ungkapnya.
Kendati begitu, hasil survei juga menemukan bahwa tidak semua responden sudah menggunakan dan memanfaatkan aplikasi/platform digital Kemendikbudristek. SIPLah misalnya. Dari beberapa aplikasi/platform yang ada, aplikasi untuk pengadaan barang ini baru digunakan 1.080 sekolah dari 1.521 total responden sekolah (71 persen).
Hal ini, menurutnya, dipicu sejumlah faktor. Antara lain, kendala akses internet dan listrik di daerah, kebutuhan sekolah maupun guru belum tercukupi melalui aplikasi/platform yang ada, sekolah sudah memiliki sistem internal sendiri, serta kurang mendapat sosialisasi dan bimbingan teknis secara langsung.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
