Mahasiswi UNS bunuh diri di Jembatan Jurug, tinggalkan surat wasiat. (Istimewa)
JawaPos.com-Kota Surakarta diguncang tragedi memilukan. Seorang mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) bernama Devita Sari Anugraheni mendadak viral usai diduga melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari Jembatan Jurug ke Sungai Bengawan Solo.
Aksi nekat itu terjadi di tengah lalu lintas siang yang cukup padat. Saksi mata, seorang pengemudi ojek online bernama Hariadi, menjadi orang terakhir yang melihat Devita hidup.
"Dia sudah berdiri di atas besi pembatas jembatan. Saya teriak supaya dia turun. Tapi belum sempat saya hampiri, dia langsung loncat," kata Hariadi yang masih terlihat syok saat diwawancarai yang mana video tersebut viral di media sosial.
Begitu tubuh Devita menghilang ditelan derasnya arus sungai, Hariadi langsung menepi dan mencoba mencari keberadaan korban. Namun air Bengawan Solo yang keruh dan deras menyulitkan pencarian. Hingga malam hari, jasad Devita belum ditemukan.
Di lokasi, polisi menemukan motor Honda Beat merah putih yang ditinggalkan Devita. Sebuah tas hitam, ponsel, kartu identitas, dan buku catatan kecil ditemukan di dalamnya, barang-barang terakhir yang ditinggalkan sebelum ia menghilang bersama arus.
Namun yang paling mengejutkan bukan hanya peristiwanya, melainkan latar belakang Devita. Dalam pernyataan resmi kampus, UNS mengungkapkan bahwa Devita adalah klien tetap layanan konseling sejak awal 2025.
Ia diketahui memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan telah beberapa kali melakukan upaya bunuh diri sejak 2023.
“Ini murni masalah kejiwaan, tidak ada kaitannya dengan akademik atau lingkungan kampus,” kata Agus Riwanto, Sekretaris UNS. Kampus juga menyatakan bahwa Devita telah menjalani berbagai perawatan kejiwaan, termasuk rawat inap di rumah sakit jiwa, konsultasi psikiater, serta konseling reguler.
Catatan tragisnya panjang. Devita dilaporkan pernah menenggak obat berlebihan, menyayat tubuhnya sendiri, hingga beberapa kali mencoba mengakhiri hidupnya. Meski kampus dan pihak medis sudah berupaya melakukan pendampingan, keputusan akhir tetap tragis.
Aksi Devita langsung menyita perhatian publik di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan kesiapan lembaga pendidikan tinggi dalam menangani krisis mental mahasiswa. Ada pula yang menyoroti minimnya dukungan sosial terhadap orang-orang dengan gangguan jiwa.
Tragedi ini kembali membuka luka besar yang kerap disembunyikan di balik dinding kampus: tekanan mental, kesepian, dan perasaan tak berdaya yang tak terlihat di permukaan.
Sementara itu, tim SAR masih terus melakukan pencarian tubuh Devita di aliran Bengawan Solo, berharap bisa segera mengakhiri penantian panjang keluarga dan kerabatnya. (*)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
