
Bunga teratai yang memiliki makna terkait nilai-nilai spiritual dan filsafat Buddhisme. (Kredit: Freepik)
JawaPos.com – Hari Raya Waisak merupakan hari suci bagi umat Buddha untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha, yaitu kelahiran, kecerahan, dan kewafatan Buddha Gautama.
Menjelang hari raya Waisak, umat Buddha menyambutnya melalui berbagai tradisi yang memiliki nilai budaya dan spiritual tinggi, salah satunya melalui dekorasi bunga teratai.
Bunga teratai menjadi simbol penting dalam perayaan Waisak bukan hanya karena fungsi estetika, namun bunga tersebut juga melambangkan kehidupan, kesucian, dan kebijaksanaan dalam ajaran Buddha.
Menurut penelitian oleh Pham Thi Kim Trinh dari Universitas Nalanda, India, kelahiran Buddha dilambangkan melalui tujuh tahap mekarnya bunga teratai.
Langkah pertama yang Buddha ambil adalah melirik ke arah Timur dan menyatakan, “Timur adalah obor yang menerangi rute utama bagi seluruh makhluk hidup.” Sang Buddha menjelaskan bahwa jalan menuju pencerahan adalah dengan membandingkan posisi diri dengan posisi terbitnya matahari.
Langkah kedua, Sang Buddha melakukan perjalanan ke Selatan dan mengajarkan seluruh makhluk hidup cara mengubah karma buruk menjadi baik dengan menyebarkan kebijaksanaan melalui analisa realita dengan seksama. Harapannya, seluruh entitas dapat memahami cara mengubah lintasan karmanya.
Pada fase ketiga, Buddha menghadap ke Barat yang dilambangkan oleh matahari terbenam. Hal tersebut menyiratkan ketenangan mental yang absolut.
Pada tahap keempat, Sang Buddha menghadap ke Utara dan menyatakan, “Utara menunjukkan kepada semua makhluk hidup bahwa kita telah memperoleh tingkat pencerahan yang tertinggi.” Pada titik ini, Sang Buddha mulai memutar roda yang melambangkan dharma.
Setelah tahap keempat, Buddha melanjutkan ke tahap kelima, yaitu menjalani kehidupan agar sesuai dengan cara mengubah takdir. Buddha melihat ke bawah dan mengatakan bahwa di bawah sana ia akan membantu manusia mengatasi penderitaan. Hal ini dilakukan atas belas kasihnya terhadap manusia yang menderita akibat kefanatikan, keserakahan, kemarahan, dan lain-lain.
Pada tahap keenam, Sang Buddha membuat gestur ke arah atas dan menyatakan, “Bagian atas secara eksklusif diperuntukkan bagi makhluk hidup yang hidup sesuai dengan lima kepribadian dan mempraktikkan sepuluh karma baik.” Karma baik merupakan hal yang harus dilakukan oleh seluruh umat untuk terbebas dari penderitaan.
Pada akhirnya, langkah ketujuh, Sang Buddha menunjuk ke atas dengan satu tangan, menunjuk ke bawah dengan satu tangan, dan berkata, "Surgawi di seluruh dunia, hanya satu diri. Kelahiran dan kematian yang tak terukur, akhir dari Nibbāna". Saya hanyut dalam tiga alam dari enam jalan, semuanya dikendalikan oleh diri, dan datang ke kehidupan ini adalah kelahiran terakhir saya.”
Sang Buddha menunjuk ke atas dengan satu tangan, menunjuk ke bawah dengan satu tangan, dan berkata, "Surgawi di dunia, hanya diri sendiri."
Secara singkat, bunga teratai memiliki kualitas yang tidak dimiliki oleh jenis bunga lainnya. Kelopaknya yang tetap bersih meski tumbuh dari lumpur dan air melambangkan pencerahan. Seperti bunga teratai yang dapat mekar berulang kali, setiap makhluk hidup yang sudah meninggal diharapkan akan dilahirkan kembali ke kehidupan yang lebih baik.
Selain mengumpulkan kebajikan, umat Buddha diharapkan dapat memaknai tiga peristiwa suci Sang Buddha di Hari Raya Waisak melalui bunga teratai sebagai simbolnya.
(*)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
