Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Mei 2025 | 13.34 WIB

Pesut Mahakam Terancam Punah, Menteri Hanif Faisol: Populasinya Kurang dari 50 Ekor

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat di Kebun Binatang Surabaya (KBS) Surabaya, Rabu (7/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat di Kebun Binatang Surabaya (KBS) Surabaya, Rabu (7/5). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Dikenal kaya akan keanekaragaman hayati, Indonesia menghadapi tantangan pelik dalam menjaga kelestarian satwa langka, termasuk pesut Mahakam yang populasinya kian mengkhawatirkan.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan bahwa populasi pesut Mahakam, satwa endemik di  Kalimantan Timur, saat ini kurang dari 50 ekor.

"Pesut mahakam ini kan dia punya karakter fisiologis. Dia akan kembali ke laut, kemudian masuk lagi ke sungai," tutur Hanif saat melakukan kunjungan kerja ke Kebun Binatang Surabaya (KBS), Rabu (7/5).

Melansir indonesia.go.id, Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) merupakan mamalia air yang hidup di sungai tawar daerah tropis. Tubuhnya tegap, lurus, dan berwarna putih keabu-abuan.

Pesut Mahakam memiliki kepala berbentuk umbi tanpa moncong, sehingga tidak mirip dengan lumba-lumba. Sirip punggungnya kecil, berbentuk segitiga membulat, dan menjadikan bentuk tubuhnya tampak unik.

Menurut Animal Diversity, panjang Pesut Mahakam berkisar 1,5-2,8 meter dan beratnya 114-135 kg. Mereka bisa hidup hingga 30 tahun, di mana organ reproduksinya matang di usia tiga tahun.

"Saat ini sungainya (habitat Pesut Mahakam) kan penuh dengan batu bara, sehingga menduk-menduk (benjol) kepalanya," imbuh Hanif yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

Hanif menuturkan Pesut Mahakam masuk dalam jenis satwa yang dilindungi negara, sebagaimana UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya serta PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

"Teman-teman kehutanan sudah sangat berusaha keras, tetapi secara fisik memang sebagian binatang berada di luar taman nasional. Seperti kita katakan Pesut Mahakam," tutur Hanif.

Meski demikian, pemerintah berupaya melakukan penangkaran satwa di luar habitat aslinya. Kementerian Lingkungan Hidup juga bekerja sama dengan kebun binatang demi menjamin kesejahteraan satwa di Indonesia.

"Jangan hanya kita yang sejahtera. Kita tidak hanya boleh memanfaatkan, tetapi kita harus menjaga kesenambungan dari biodiversity kita yang ada di kebun binatang. Ini yang sedang kita sesuaikan bersama," tukas Hanif. (*)

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore