
Ilustrasi. (Freepik)
JawaPos.com-Ada sesuatu yang istimewa tentang tumbuh besar di tahun 70-an. Waktu itu, hidup terasa lebih sederhana.
Anak-anak bebas berlari ke luar rumah tanpa perlu terus-menerus diawasi, belum ada gadget yang membuat mereka terpaku di layar, dan hampir semua hal harus dilakukan dengan tangan sendiri.
Tanpa disadari, masa itu mengajari generasi ini sederet keterampilan hidup yang hari ini mulai “hilang”—keterampilan yang membentuk mereka menjadi orang dewasa yang tahan banting, kreatif, dan solutif.
Dilansir dari laman Geediting.com pada Selasa, 29 April 2025, mari kita nostalgia sebentar dan lihat 7 keterampilan penting yang dipelajari anak-anak tahun 70-an, yang mungkin bisa menginspirasi kita semua untuk membangkitkan kembali semangat mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
1. Mentalitas "Do It Yourself" (DIY) yang Tangguh
Di tahun 70-an, kalau mainan rusak, pilihan utama bukan membuang lalu beli baru. Anak-anak justru langsung mencari cara untuk memperbaikinya sendiri—pakai lem, kawat, lakban, apa saja yang ada.
Spirit DIY ini tak cuma soal mainan. Mereka juga membuat permainan sendiri, memperbaiki sepeda, bahkan memasak makanan sederhana saat orang tua sibuk.
Ini semua menanamkan kebiasaan:
Menghadapi masalah tanpa panik
Berpikir kreatif mencari solusi
Merasa bangga menyelesaikan sesuatu dengan tangan sendiri
Sekarang memang gampang tinggal cari tutorial YouTube. Tapi kemampuan berpikir mandiri seperti ini tetap jadi modal penting di dunia modern yang serba cepat.
2. Bernavigasi Tanpa GPS atau Google Maps
Dulu, kalau mau ke tempat baru, yang dibawa bukan HP, tapi peta kertas besar yang dilipat-lipat.
Orang tua biasanya menandai rute dengan spidol, dan anak-anak ikut menghafal arah—"belok di toko roti", "setelah jembatan ambil kanan", begitu seterusnya.
Kalau tersesat? Ya tanya orang!
Kemampuan ini membentuk:
Kepekaan terhadap lingkungan sekitar
Kemampuan membaca tanda-tanda jalan alami
Ketahanan mental saat keadaan tidak berjalan sesuai rencana
Hari ini, saat sinyal hilang, banyak orang langsung panik. Anak-anak 70-an? Mereka justru merasa itu bagian dari petualangan.
3. Keterampilan Perbaikan Dasar
Televisi patah antena? Sepeda rantainya putus? Alat listrik mendadak mati?
Anak-anak tahun 70-an terbiasa mengutak-atik dan memperbaiki peralatan sendiri, minimal tahu dasar-dasarnya.
Mereka belajar:
Ganti sekring
Pasang ban sepeda
Perbaiki kabel yang lepas
Bukan cuma hemat uang, keterampilan ini juga mengajarkan kemandirian dan kepercayaan diri—bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan memanggil bantuan profesional.
4. Mengelola Uang Sejak Dini
Tak ada aplikasi bank digital atau dompet elektronik. Anak-anak 70-an memegang uang tunai sungguhan.
Mereka diberi uang saku mingguan dan harus pintar-pintar:
Membagi untuk jajan, menabung, atau membeli mainan impian
Memutuskan prioritas: Beli sekarang atau tahan dulu?
Merasakan sendiri sakitnya kehabisan uang sebelum minggu berganti
Pelajaran ini membentuk sikap:
Hidup sesuai kemampuan
Menghargai nilai setiap rupiah
Tidak gampang tergoda untuk belanja impulsif
Hari ini, mengajarkan anak-anak tentang uang tunai dan menabung tetap penting, agar mereka tidak tumbuh menjadi generasi “gesek dulu mikir belakangan.”
5. Memasak Makanan dari Awal
Makanan instan di tahun 70-an bukan makanan harian, tapi sesuatu yang jarang-jarang.
Biasanya, anak-anak ikut bantu di dapur:
Mengaduk adonan kue
Mengupas sayur
Memotong buah
Membumbui masakan
Memasak dari nol mengajarkan:
Kesabaran (karena makanan enak butuh proses)
Perencanaan (karena harus tahu bahan apa yang perlu disiapkan)
Kreativitas (karena seringkali bahan seadanya)
Lebih dari sekadar keterampilan, ini juga membangun koneksi emosional yang hangat dengan keluarga.
6. Berkomunikasi Tanpa Teknologi
Belum ada WhatsApp, Instagram, atau TikTok. Kalau mau ngobrol, ya:
Menelepon lewat telepon rumah
Menulis surat tangan
Datang langsung ke rumah teman
Anak-anak belajar:
Mendengarkan secara aktif
Mengutarakan perasaan dengan kata-kata
Membaca ekspresi dan bahasa tubuh
Keterampilan ini membuat hubungan mereka lebih dalam dan lebih tulus dibanding sekadar kirim emoji hari ini.
Komunikasi manusiawi seperti ini tetap jadi kunci dalam membangun hubungan pribadi dan profesional yang kuat.
7. Menikmati Kesederhanaan Hidup
Bermain di halaman belakang, membangun benteng dari kardus, menjadikan tongkat kayu sebagai pedang—itulah hiburan sejati anak-anak tahun 70-an.
Mereka tidak butuh gadget mahal atau paket liburan mewah untuk merasa bahagia.
Kesederhanaan ini:
Mengasah imajinasi
Membangun rasa syukur
Mengajarkan bahwa kebahagiaan itu sederhana
Di zaman sekarang, di mana "lebih banyak" sering dianggap "lebih baik," pelajaran tentang menghargai hal-hal kecil terasa semakin penting.
Menghidupkan kembali semangat tahun 70-an bukan berarti menolak teknologi.
Tapi ini soal mengambil yang terbaik dari masa itu:
Ketangguhan
Kemandirian
Kesederhanaan
Kecintaan terhadap proses
Bayangkan dunia di mana anak-anak tahu memperbaiki barang, sabar menunggu hasil usaha, tahu mengatur uang, dan bisa berbicara tatap muka dengan percaya diri.
Bukankah itu dunia yang lebih tangguh dan lebih berempati?
Mungkin, di tengah semua kemudahan hari ini, kita perlu mengingatkan diri sendiri: Hidup tidak harus selalu instan untuk bisa terasa lebih memuaskan.***

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
