Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Maret 2025 | 22.45 WIB

Ajak Anak-anak Lepas 265 Ekor Burung, Menhut Raja Juli Antoni Ingatkan Tidak Boleh Berburu Burung

Sejumlah burung dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (16/3). (Humas Kemenhut) - Image

Sejumlah burung dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (16/3). (Humas Kemenhut)

 
 
 
JawaPos.com - Praktik perburuan satwa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) ditengarai masih banyak dilakukan masyarakat. Pemerintah mengingatkan perburuan satwa tidak bisa dilakukan sembarangan. Apalagi jika sampai memburu satwa yang dilindungi, bisa tersangkut perkara hukum. Edukasi tidak melakukan perburuan satwa disampaikan dalam pelepasliaran 265 ekor burung di TNGHS Bogor pada Minggu (16/3). 
 
Pelepasliaran burung-burung itu dipimpin langsung oleh Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni. Dalam pelepasliaran itu, Raja secara khusus melibatkan anak-anak warga setempat. Tujuannya sekaligus untuk edukasi kepada anak-anak untuk tidak berburu burung, maupun satwa lainnya. 
 
"Tadi ada 265 ekor burung yang kita lepaskan ada empat jenis," kata Raja.
 
Perinciannya adalah 150 ekor Jalak Kerbau, 50 ekor Tekukur, 50 ekor Kutilang, dan 15 ekor Trucukan. Pelepasliaran yang melibatkan anak-anak dan warga sekitar itu berlangsung meriah.
 
Raja mengingatkan anak-anak tersebut agar tidak menangkap maupun membunuh burung-burung. Terutama yang berada di lingkungan sekitar.
 
"Sudah dilepaskan, jangan ditangakpin ya," ujar Raja disambut anggukan anak-anak. 
 
Dia mengatakan sengaja mengajak anak-anak yang berada di lingkungan sekitar. Hal ini lantaran masa depan kelestarian hutan bergantung pada mereka. Raja juga mengingatkan agar sejak dini anak-anak diajak untuk perduli tentang lingkungan.
 
"Sambil berbisik saya ingatkan jangan ditembak, jangan diketapel. Mengajak anak-anak kita dari usia dini untuk peduli tentang keanekaragaman hayati kita dan hutan kita akan menjadi lestari," sambungnya.
 
Dalam kunjungan kerjanya ke Bogor itu, Raja juga menyampaikan soal program perhutanan sosial. Dia mengatakan ada sekitar 7 juta hektar lahan hutan yang dijadikan program perhutanan sosial. Nantinya warga atau petani bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk bertani atau berladang. 
 
Raja mengatakan perhutanan sosial menjadi salah satu dukungan untuk program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. "Program perhutanan sosial ini kita punya rencana dan sekarang menjadi program strategis nasional," ujar Raja. 
 
Dia mengatakan, Kemenhut mengidentifikasi kembali dan menemukan adanya tambahan potensi lahan yang dapat dijadikan perhutanan sosial. Sehingga menurutnya saat ini terdapat 7 juta hektare yang dapat diberikan akses kepada para petani.
 
Raja mengatakan, Kemenhut saat ini mengajak para petani untuk dapat memaksimalkan dan memanfaatkan fungsi hutan untuk ketahanan pangan dan energi. Selain itu, secara bersamaan masyarakat juga diajak untuk tetap menjaga hutan.
 
"Kalau dulu, pada masa lalu, para petani di kawasan hutan berjarak dengan hutan, dilarang masuk hutan, polisi hutannya galak-galak, kalau sekarang lebih humanis," terangnya.
 
Sekarang yang terjadi sebaliknya, pemerintahan mengajak petani masuk ke hutan dan memanfaatkan. Sehingga bisa memaksimalkan fungsi hutan untuk ketahanan pangan dan energi, secara bersamaan juga menjaga hutan.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore