
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait kritikan dari bakal calon presiden (capres) Anies Baswedan soal kebijakan subsidi mobil listrik.
JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan buka suara terkait kritikan dari bakal calon presiden (capres) dari Koalisi Perubahan Anies Baswedan soal kebijakan subsidi mobil listrik.
Sebelumnya, Anies menyebut bahwa kebijakan subsidi mobil listrik bukan solusi untuk menghadapi tantangan masalah lingkungan hidup. Mulai dari emisi karbon yang akan tetap meningkat hingga mobil listrik pribadi yang bisa menimbulkan kemacetan di jalan.
Menanggapi hal itu, Luhut menyebut bahwa subsidi mobil listrik sudah melalui studi komprehensif. Bahkan, yang sedang menerapkan kebijakan ini tidak hanya Indonesia melainkan seluruh dunia.
"Mobil listrik sudah ada studi komprehensif. Saya kira seluruh dunia (menerapkan), bukan hanya kita. Jangan lawan arus dunia," kata Luhut saat ditemui di The Westin Jakarta, Selasa (9/5).
"Siapa yang berkomentar, saya enggak tahu itu. Nanti suruh dia datang ke saya, nanti biar saya jelasin bahwa itu enggak ada, enggak benar omongannya itu," imbuh Luhut.
Untuk diketahui, Anies Baswedan menyampaikan kritik terhadap kebijakan subsidi motor listrik dalam pidato politik saat deklarasi dukungan dari Relawan Amanat Indonesia (Anies) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu (7/5).
Anies menilai bahwa kebijakan subsidi mobil listrik justru tidak menjadi solusi atas permasalahan lingkungan. Sebab menurutnya, emisi karbon yang dikeluarkan mobil listrik justru lebih tinggi daripada emisi karbon dari bus dengan bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, kata Anies, mobil listrik justru akan menambah kemacetan di jalan. Terlebih jika yang diperbanyak adalah mobil listrik pribadi, bukan kendaraan listrik untuk transportasi umum dan kendaraan logistik.
"Kalau kita hitung apalagi ini contoh ketika sampai pada mobil listrik emisi karbon mobil listrik per kapita per kilometer sesungguhnya lebih tinggi daripada emisi karbon bis berbahan bakar minyak," jelasnya.
"Kenapa itu bisa terjadi? Karena bisa memuat orang banyak sementara mobil memuat mobil sedikit. Ditambah lagi pengalaman kami di Jakarta bahwa kendaraan pribadi berbasis listrik dia tidak akan mengganti mobil digarasinya, tetapi menambah mobil di jalanan menambah kemacetan di jalan," imbuhnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
