Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Istimewa)
JawaPos.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat impor LPG Nasional pada tahun 2023 tembus mencapai 6,9 juta ton per tahun. Sedangkan produksi gas nasional hanya sebesar 1,98 juta ton per tahun.
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap gas mencapai 8 juta ton per tahun. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menilai Pemerintah Indonesia harus segera berupaya untuk mengurangi impor tersebut.
Oleh sebab itu, ia membeberkan strateginya ke depan mulai dari membangun industri gas hingga membuat jalan tol jaringan gas (jargas).
"Maka program ke depan yang akan kita lakukan adalah kita akan segera membangun industri gas untuk kualitas yang bisa dikonversi ke gas LPG," kata Bahlil dalam Repnas National Conference di Jakarta, Senin (14/10).
Menurutnya, Indonesia kini memiliki potensi mencapai 2,5 juta ton gas yang bisa dikonversi menjadi LPG. Terkait itu, Bahlil berkomitmen untuk menggaet sejumlah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
Selain itu, Bahlil juga berniat untuk membangun jalan tol khusus jargas. Sehingga ke depan, kata dia, Indonesia tidak mati dengan impor.
"Sisanya kita bikin jargas, jargas ini harus kita buat kalau tidak nanti impor lagi, impor lagi, lama-lama mati dengan impor," ujar Bahlil.
"Saya kebetulan menganut mazhab kedaulatan harus kita lakukan berdiri di kaki sendiri untuk mengelola kekayaan sumber daya alam kita, itu mazhab saya," sambungnya.
Bahlil menyebut, hingga saat ini realisasi jarga di Indonesia masih minim. Paling besar tercatat di Jawa Timur (Jatim) sebesar 6 persen, sedangkan Jawa Barat sebesar 4 persen, dan paling kecil di Jawa Tengah yang hanya sebesar 2 persen.
Ia menilai, minimnya realisasi jargas itu disebabkan belum dibuatnya pipa-pipa penyalur gas. Itu sebabnya, ia berniat untuk membangun jalan tol pipa gas tersebut dan sudah berkomunikasi dengan Menteri Keuangan (Menkeu).
"Karena pipanya enggak dibangun, saya udah minta ke Menkeu, kemarin ini pipa ini harus kita bangun sebagai jalan tol. Supaya apa? Biaya yang kita berikan kepada rakyat untuk membeli gas, itu terjangkau," jelasnya.
Lebih lanjut, Bahlil juga mengatakan bahwa jumlah subsidi gas yang sudah disalurkan pemerintah mencapai Rp 60-80 triliun. Adapun satu sebabnya, karena sejak tahun 2006-2007 harga gas itu tidak pernah dinaikkan.
"Harga gas sekarang per kg itu kurang lebih sekitar Rp 18 ribu, tapi kita rakyat beli itu tidak lebih dari Rp 6 ribu maksimal, kalau nambah-nambah dikit ya itu ada gerakan tambahan," pungkasnya.