
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
JawaPos.com - Pakar kebijakan publik Agus Pambagio mengungkapkan, jumlah menteri memang hak prerogatif presiden. "Tapi, pertanyaannya apakah perlu sebanyak 44 menteri seperti informasi yang beredar," paparnya.
Sebab, penambahan jumlah menteri yang banyak akan memengaruhi anggaran dan membuat keputusan juga lebih sulit. "Anggaran yang dibutuhkan bertambah banyak. Peraturan menteri juga bertambah banyak," paparnya.
Dengan jumlah menteri yang bertambah begitu banyak, justru lebih banyak kekurangannya dibandingkan kelebihannya.
Menurut dia, agar penggabungan atau pemecahan kementerian tidak begitu berpengaruh, dibutuhkan sosok menteri yang berintegritas, mapan, quick learner, dan jaringan luar di sektor ekonomi-hukum. "Jangan sampai malah menterinya bingung membagi antara kebutuhan partai, buzzer-nya, dan dirinya sendiri. Bingung berlindung ke mana-mana kalau ada masalah," urainya.
Dia berharap Prabowo menepati janjinya untuk memilih menteri yang teknokrat seperti ayahnya, Soemitro Djojohadikoesoemo. "Politisi-politisi cukup berada di Senayan," terangnya.
Sementara itu, sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) kompak menyatakan peralihan pemerintahan era Jokowi ke Prabowo Subianto berjalan dengan baik. Dengan begitu, Prabowo bisa langsung tancap gas untuk menjalankan pemerintahannya.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, selama 10 tahun kepemimpinannya, Jokowi telah melakukan yang terbaik. Dia pun meyakini, presiden selanjutnya tak kalah bagus. Transisi pemerintahan pun berjalan dengan mulus. "Dan, saya melihat incoming president juga akan bisa melakukan lebih bagus lagi,” paparnya.
Senada, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono pun mengamini. Dia bahkan menyebut, proses transisi saat ini adalah yang paling lancar dibandingkan sebelum-sebelumnya. ’’Semua orang sepakat bahwa masa transisi Presiden Jokowi ke presiden baru, Pak Prabowo, ini mulus dan belum pernah ada masa transisi se-smooth ini dari sejarah republik kita berdiri,” tuturnya.
Dia mengungkapkan, program yang dilaksanakan Jokowi selama 10 tahun terakhir sejalan dan searah dengan presiden yang akan datang. Mulai pengentasan kemiskinan dan lainnya. Karena itu, dalam kampanye, Prabowo pun mengusung isu keberlanjutan dari pemerintahan sebelumnya.
Selain itu, Prabowo sudah dilibatkan dalam banyak hal sehingga nantinya bisa langsung tancap gas memimpin kabinet setelah dilantik. "Nah, itu saya kira, pada saat nanti beliau 10 hari lagi dilantik sudah nggak lagi, apa istilahnya ya, sudah nggak lagi orientasi, sudah langsung lari,” tutur politikus Partai Gerindra tersebut.
Ditambah lagi, lanjut dia, Prabowo sudah kenal dekat dengan beberapa menteri yang sekarang menjabat. Termasuk program-program mana saja yang mesti diteruskan. "Jadi, yang belum selesai kita selesaikan. Yang baik kita lanjutkan dan tentu saja mungkin kalau ada hal-hal yang memang dirasa kurang pas, ya bisa jadi kita koreksi,” paparnya. (tyo/idr/mia/c7/oni)

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
