Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Agustus 2024 | 21.46 WIB

BMKG soal Peringatan Zona Megathrust, Tidak Ada Yang Tahu Pasti Kapan Terjadi Gempa

Ilustrasi gempa bumi. Dok. JawaPos - Image

Ilustrasi gempa bumi. Dok. JawaPos

JawaPos.com – Gempa yang bersumber dari Megathrust Nankai di Jepang menimbulkan tanda tanya. Terutama terkait dengan kemungkinan terjadi di Indonesia. Sebab, Indonesia juga memiliki Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang seismic gap atau jarak waktu gempanya jauh lebih lama dibandingkan Megathrust Nankai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai semua pihak perlu meningkatkan kewaspadaan. Namun, tidak berarti gempa bisa terjadi dalam waktu dekat.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menuturkan, pembahasan mengenai potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut bukan hal baru. Sudah lama, bahkan ada sebelum gempa dan tsunami Aceh 2004. ’’Munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona megathrust saat ini bukanlah bentuk peringatan dini yang seolah-olah dalam waktu dekat terjadi gempa besar,’’ ujarnya.

BMKG hanya mengingatkan kembali keberadaan zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut sebagai sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar atau seismic gap. Seismic gap sudah berlangsung selama ratusan tahun. ’’Seismic gap ini memang harus kita waspadai karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,’’ terangnya.

’’Peristiwa semacam ini menjadi momentum yang tepat untuk mengingatkan kita di Indonesia akan potensi gempa di zona seismic gap Selat Sunda dan Mentawai-Siberut,’’ ujarnya.

Berdasar catatan sejarah, lanjut Daryono, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946. Itu berarti usia seismic gap sekitar 78 tahun. Sementara itu, gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757. Dengan begitu, usia seismic gap 267 tahun.

Lalu, gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 dengan usia seismic gap 227 tahun. Artinya, periodesitas kedua seismic gap di Indonesia jauh lebih lama jika dibandingkan dengan seismic gap Nankai. ’’Sehingga mestinya kita jauh lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya,’’ jelasnya.

Terkait informasi BMKG yang menyebut gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut tinggal menunggu waktu, itu disebabkan di dua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar. ’’Dikatakan tinggal menunggu waktu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah menimbulkan gempa besar. Sementara, di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga saat ini belum terjadi,’’ ujarnya.

Daryono mengatakan, hingga saat ini belum ada ilmu pengetahuan dan teknologi yang dengan tepat dan akurat mampu memprediksi terjadinya gempa. ’’Jadi, kita semua juga tidak tahu kapan gempa akan terjadi sekalipun tahu potensinya,’’ paparnya. (idr/c7/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore