
GUNUNG AKTIF: Gunung Merapi mengeluarkan lava seperti yang terlihat dari Wonokerto, Jogjakarta (19/4). (DEVI RAHMAN/AFP)
JawaPos.com - Menyusul aktivitas terbaru Gunung Semeru di Jawa Timur dan Gunung Merapi di perbatasan Jogjakarta-Jawa Tengah, masyarakat sekitar diminta mewaspadai area-area yang dikategorikan berbahaya.
Pos Pengamatan Semeru mencatat letusan setinggi 600 meter di atas puncak. Sementara pada Sabtu (20/7) lalu, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan awan panas guguran.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Sigit Rian Alfian menyampaikan bahwa erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 08.30. ”Tinggi kolom letusan teramati sekitar 600 meter di atas puncak atau 4.276 meter di atas permukaan laut,” kata Sigit seperti dikutip dari Antara.
Dari pengamatan yang dilakukan petugas, kolom abu vulkanis dari letusan tersebut tampak berwarna putih hingga kelabu. Intensitas tebalnya mengarah ke barat.
Berdasar angka yang ditunjukkan seismograf, erupsi gunung tertinggi di Jawa itu terekam dengan amplitudo maksimum 21 mm dan berdurasi 83 detik. Senin (15/7) pekan lalu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menurunkan status aktivitas Gunung Semeru. Dari siaga atau level III menjadi waspada atau level II.
”Sehingga, petugas memberikan imbauan sesuai dengan rekomendasi PVMBG,” terang Sigit.
Selain diminta waspada, masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara, persisnya di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 kilometer dari puncak. Di luar area itu, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas apa pun pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Larangan itu dikeluarkan karena masih ada potensi perluasan awan panas dan aliran lahar sampai jarak 13 kilometer dari puncak.
Masih berdasar rekomendasi PVMBG, lanjut Sigit, masyarakat tidak boleh beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah Gunung Semeru. Sebab, area tersebut rawan lontaran batu pijar.
Lebih lanjut, dia meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Khususnya, sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Sigit menambahkan, potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan juga perlu diwaspadai.
Terpisah, pihak BPPTKG menyampaikan bahwa awan panas guguran Gunung Merapi teramati pada 20 Juli 2024. Tepatnya pukul 19.46.
”Dengan amplitudo maksimum 35 mm, durasi 119 detik, jarak luncur 1.200 meter ke arah Kali Bebeng dengan arah angin ke barat daya,” bunyi keterangan BPPTKG melalui akun media sosial mereka.
Selain itu, pada hari yang sama BPPTKG mendeteksi 27 kali guguran dengan jarak luncur maksimal 1.800 meter mengarah ke barat daya atau Kali Bebeng. Atas kondisi tersebut, mereka mengeluarkan rekomendasi yang menunjukkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya.
”Meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, lalu Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer,” papar BPPTKG.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
