Salah satu pengungsi Sudan yang terpaksa harus hidup di pengungsian dengan kondisi yang mengenaskan.
JawaPos.com - Situasi di Sudan begitu memilukan. Musababnya, hampir 13 juta orang di Sudan kini menjadi pengungsi. Untuk mengatasi hal ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, bahwa bencana kemanusiaan harus segera diatasi agar tidak semakin memburuk. Salah satunya dengan acara membuka akses langsung ke Sudan.
“Akses sangat penting dan segera dibutuhkan agar kita dapat mencegah situasi kesehatan yang buruk,” kata perwakilan WHO untuk Sudan, Shible Sahbani, pada pengarahan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa melalui tautan video, dikutip dari Antara, Rabu (17/7).
Tanpa adanya tindakan yang segera, lanjutnya, situasi yang memburuk dengan cepat di Sudan bisa menjadi tidak terkendali, sehingga bisa menyebabkan penyakit, kekurangan gizi, dan trauma yang tidak terkendali, serta berdampak pada generasi berikutnya rakyat Sudan.
Sahbani menyebutkan, bahwa ia berada di Chad, Afrika Bagian Tengah, pekan lalu sebagai bagian dari misi tingkat tinggi WHO dari wilayah Mediterania Timur dan Afrika.
Menurutnya, kebutuhan yang ia lihat di Chad mencerminkan apa yang dialami para pengungsi di Sudan.
“Memilukan... Perempuan dan anak-anak bicara tentang kelaparan, penyakit, kekerasan, dan kehilangan. Penderitaan mereka tergambar di wajah mereka,” ucapnya.
Sahbani menekankan bahwa semua pengungsi yang ia temui menyebutkan kelaparan sebagai alasan mereka mengungsi dari Sudan.
Hampir 13 juta orang di Sudan kini menjadi pengungsi. Lebih dari 10 juta di antaranya tersebar di Sudan dan sedikitnya dua juta orang mencari perlindungan di negara-negara tetangga.
Selain itu, negara bagian Darfur, Kordofan, Khartoum, dan Al Gezira terputus dari bantuan kemanusiaan dan kesehatan akibat pertempuran yang tiada henti.
Perwakilan WHO itu mengatakan situasi di Darfur sangat mengkhawatirkan karena di daerah-daerah seperti El Fasher, tempat lebih dari 800.000 orang terkepung. Mereka tidak bisa mendapatkan pasokan makanan, layanan kesehatan, dan kebutuhan medis.
Para warga yang terluka juga tidak dapat dapat memperoleh perawatan darurat, termasuk anak-anak dan wanita hamil yang semakin melemah karena kelaparan akut.
Sahbani juga menyoroti kesenjangan pendanaan yang sangat besar. Ia mengatakan Rencana Respons Kemanusiaan untuk Sudan hanya mendapat dana 26 persen dari kebutuhan dan rencana respons kesehatan didanai 36 persen.
“Kita memerlukan tindakan segera untuk menjembatani kesenjangan itu,” tutur dia.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
