
Ilustrasi beras di gudang (Dok/JawaPos.com)
JawaPos.com - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Partai Demokrat Suhardi Duka mengingatkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mampu memperbaiki hulu produksi pangan. Sehingga tidak berorientasi hanya pada impor. Hal ini menyusul harga rata-rata beras yang terpantau mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan data panel harga pangan Bapanas, harga beras premium naik Rp 140 atau sebesar 0,90 persen ke level Rp 15.660 per kilogram. Harga beras medium juga naik tipis sebesar 0,22 persen atau Rp 30 menjadi Rp 13.550 per kilogram.
Suhardi juga menyoroti adanya skandal mark up impor impor 2,2 juta ton beras senilai Rp 2,7 triliun yang diduga merugikan negara akibat demurrage impor beras senilai Rp 294,5 miliar.
“Saya menilai dengan hadirnya Bapanas, terjadi perubahan orientasi tentang pangan yang tadinya kita fokus untuk memperbaiki hulu dan produksi kini berubah menjadi ketersediaan dengan orientasi impor,” kata Suhardi kepada wartawan, Jumat (12/7).
Menurut Suhardi, Bapanas dan Perum Bulog seharusnya dapat bersinergi memperbaiki hulu pangan. Ia tak menginginkan, Perum Bulog yang dipimpin Bayu Krisnamurthi berubah menjadi operator impor dan penjualan semata.
“Bulog juga berubah orientasi tidak lagi menjadi penyangga hasil panen tapi menjadi operator impor dan penjualan,” ujar Suhardi.
Suhardi memandang, jika tidak ada perubahan kebijakan dari kedua lembaga tersebut, maka impor pangan terkhusus beras akan menjadi sumber ketersedian bukan sekadar produksi. “Kalau paradigma ini tidak diperbaiki maka impor akan menjadi sumber ketersediaan bukan lagi produksi,” tegasnya.
Sementara, Direktur Rumah Politik Fernando Emas mendorong agar pembentukan panitia khusus (Pansus) di DPR terkait masalah impor beras yang telah dilaporkan ke KPK dapat segera dibentuk. Menurut Fernando, pansus diperlukan untuk menata pengelolaan pangan yang berpihak kepada rakyat atau petani, bukan untuk para importir.
“Diharapkan selain proses hukum berjalan di KPK, di DPR ada juga upaya secara politik untuk menata pengelolaan ketersediaan pangan terutama beras yang berpihak kepada petani bukan pada para importir dan segelintir orang,” ungkap Fernando.
Ia berharap, DPR dapat segera membuktikan keberpihakannya kepada para petani dengan segera membentuk Pansus soal impor beras. “Saatnya DPR membuktikan memang benar sebagai wakil rakyat yang berpihak kepada para petani dengan membentuk Pansus dan bukan berpihak kepada para importir beras atau kebutuhan pangan lainnya,” urai Fernando.
Lebih lanjut Fernando mengharapkan, ke depan pemerintah dapat membuat kebijakan yang benar-benar berpihak kepada para petani. Ia juga mengingatkan, pemerintah tidak sekadar janji dalam membuat kebijakan untuk para petani.
“Atau jangan-jangan memang ada unsur kesengajaan karena Pemerintah memang berpihak kepada para pemburu rente yang memanfaatkan impor beras untuk menumpuk pundi-pundi kekayaan dari kesengsaraan petani,” pungkas Fernando.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
