
KEJAR KEKURANGAN: Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar mendorong pemerintah agar pendidikan dokter spesialis dilakukan dengan konsep collegium-based dan hospital-based. (Istimewa).
JawaPos.com - Presiden Joko Widodo ingin agar harga alat kesehatan (alkes) dan obat-obatan di tanah air setara dengan negara-negara tetangga. Hal itu direspons Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar.
Gus Imin –sapaan akrab Abdul Muhaimin Iskandar– menyatakan bahwa seharusnya obat-obatan untuk rakyat digratiskan. ”Itu kewajiban negara menjamin kesehatan warganya,” katanya.
Pemerintah, sebut Gus Imin, semestinya memprioritaskan optimalisasi rekrutmen dokter karena Indonesia masih kekurangan banyak dokter. ”Saya kira, kalau alkes dan obat-obatan ada, tapi dokternya sedikit, ya tetap susah juga. Mereka-mereka itu yang tahu dosis tepat di bidang kesehatan,” ujarnya.
Jika dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia, jumlah dokter di Indonesia masih kalah jauh. Presiden Jokowi menyebutkan bahwa rasio jumlah dokter di tanah air saat ini hanya 0,47 atau urutan ke-147 di dunia.
Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengupayakan peningkatan jumlah dokter. ”Kami akan kejar,” tegas presiden saat sambutan di acara Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2024 pada Rabu (3/7).
KEJAR KEKURANGAN: Wakil Ketua DPR Bidang Korkesra Abdul Muhaimin Iskandar mendorong pemerintah agar pendidikan dokter spesialis dilakukan dengan konsep collegium-based dan hospital-based. (Istimewa).
Problem kekurangan dokter berlangsung sejak masa kemerdekaan. Hingga kini pun, tenaga dokter spesialis sangat minim. Bahkan, Indonesia butuh waktu 20 tahun untuk mencapai standar jumlah dokter spesialis yang menjadi acuan dunia.
Salah satu penyebab kurangnya jumlah dokter spesialis itu adalah pendidikan kedokteran yang menelan biaya besar. Untuk menjadi seorang spesialis, dokter harus berhenti praktik dulu demi mengikuti perkuliahan selama empat tahun. Setelah itu, dokter baru bisa berpraktik lagi.
Gus Imin menjelaskan, pendidikan kedokteran di berbagai negara di dunia menerapkan sistem hospital-based atau dilakukan di rumah sakit. Seharusnya Indonesia bisa mengikuti konsep tersebut.
”Pendidikan dokter spesialis akan dilakukan berdasar collegium-based bekerja sama dengan hospital-based. Dokter umum tetap akan bekerja sama dengan perguruan tinggi,” jelas Gus Imin.
Agar kualitas lulusan pendidikan dokter spesialis dengan konsep hospital-based terjaga, pemerintah bisa menggandeng lembaga tepercaya dari Amerika Serikat untuk melakukan akreditasi rumah sakit pendidikan.
Selain itu, pemerintah bisa membuat skema pembiayaan yang tidak memberatkan para calon dokter spesialis. ”Kami dari DPR siap mendorong program tersebut,” tandas Gus Imin. (c14/ran)

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
