Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juni 2024 | 15.34 WIB

Ketahui Cara Kerja Ransomware, Bikin Pemerintah Indonesia Klepek-klepek Tak Berdaya, Data PDN Lenyap Begitu Saja

 
 
 
 

Ilustrasi: Aksi hacker yang sering bikin repot jadi bukti lemahnya kedaulatan digital di Indonesia. (Kaspersky).

JawaPos.com - Masih ramai bahasan terkait ransomware. Bikin geger gara-gara menyerang PDN atau Pusat Data Nasional yang dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Sepekan berlalu, data PDN yang diserang ransomware jatuh ke tangan hacker atau peretas, lenyap begitu saja.
 
Mengutip laman CSIRT Polri, ransomware adalah serangan malware yang dikirim peretas untuk mengunci dan mengenkripsi perangkat komputer milik korban. Lalu, peretas akan meminta uang tebusan untuk memulihkan aksesnya. Kurang lebih, seperti itulah gambaran apa itu Ransomware secara sederhana.
 
Namun, pada kenyataannya cara kerja ransomware dan proses penanganannya tidaklah sederhana. Jika beruntung, korban masih bisa mendapatkan kembali akses ke perangkat mereka. Namun jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada data-data penting yang dimiliki. Kondisi ini yang sedang dialami pemerintah Indonesia.
 
Ada beberapa jenis ransomware yang dibedakan berdasarkan cara kerjanya. Pertama, 'Encrypting Ransomware', jenis ini menginfeksi perangkat dengan cara mengenkripsi file maupun folder penting yang ada di perangkat korban. Setelah target berhasil terkunci dan terenkripsi, akan muncul notifikasi mengenai tebusan yang harus dibayarkan untuk membuka kembali data yang telah terkunci.
 
Kedua, ada yang namamya 'Locker Ransomware'. Ransomware jenis ini tidak bekerja dengan cara mengenkripsi file maupun folder milik korban, melainkan mengunci akses korban ke perangkat. Biasanya, target Locker Ransomware adalah penguncian file maupun perangkat. 
 
Tapi terkadang, malware jenis ini juga menyasar hardware milik korban seperti keyboard atau mouse. Locker fansomware termasuk gangguan tingkat rendah yang masih bisa ditangani cukup dengan menghapus script, dan sebagainya. Sehingga, tebusan yang dibayarkan untuk malware jenis ini bisa dibilang lebih sedikit.
 
Dilansir dari Acer Indonesia, cara kerja ransomware dimulai dari pelaku yang memasukkan malware jahat tersebut ke dalam sistem, baik melalui email, file, maupun jalur lainnya. Setelah malware itu berhasil mendapatkan akses ke sistem, ransomware akan mulai mengenkripsi file dan membuat sistem tidak dapat digunakan tanpa adanya kunci dekripsi yang hanya diketahui oleh pelaku.
 
Setelah mengenkripsi file, ransomware biasanya akan menampilkan pesan yang sering disebut sebagai catatan tebusan. Isi pesan tersebut bertujuan untuk memberi informasi kepada korban bahwa serangan telah dilakukan dan korban harus segera mengikuti petunjuk untuk melakukan pembayaran uang tebusan jika ingin sistem dipulihkan. 
 
 
Catatan ini biasanya juga berisi ancaman penghapusan file atau pembekuan sistem secara permanen, disertai dengan peningkatan jumlah uang tebusan jika pembayaran tidak segera dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
 
Apabila suatu sistem telah terkena serangan malware jahat, maka sistem tersebut tidak akan bisa diakses sebelum korban mengirimkan uang tebusan kepada pelaku. Namun, uang tebusan ini tidak selalu bisa menjadi jaminan bahwa sistem akan kembali dipulihkan oleh pelaku. Bisa jadi, pelaku justru akan semakin terdorong untuk meminta sejumlah tebusan lainnya karena merasa korban dapat mengikuti seluruh permintaannya.
 
Oleh karena itu, korban serangan ransomware umumnya akan meminta bantuan kepada ahli IT untuk memulihkan sistem itu sendiri. Hasilnya? Tergantung, ada yang berhasil, banyak juga yang tidak.
 
 
 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore