Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 April 2023 | 00.17 WIB

Ketika Azan Jumatan Istiqlal dan Jumat Agung Katedral Beriringan

Jemaah saat memasuki area Gereja Katedral, Jakarta, Kamis (1/4/2021). Sebanyak 150 personel gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP melakukan pengamanan jelang rangkaian perayaan hari Paskah.  Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com - Image

Jemaah saat memasuki area Gereja Katedral, Jakarta, Kamis (1/4/2021). Sebanyak 150 personel gabungan TNI, Polri, dan Satpol PP melakukan pengamanan jelang rangkaian perayaan hari Paskah. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com

JawaPos.com - Suara azan bergema dari Masjid Istiqlal siang tadi. Orang-orang berbondong-bondong datang dari berbagai gerbang untuk datang melaksanakan panggulin salat Jumat di Masjid Raya di Jakarta itu. Itu hal yang biasa. 

Namun, hari ini panggilan azan itu seolah tak hanya memanggil para muslim untuk datang ke masjid. Pasalnya, tepat pukul 12.00 siang juga ada pelaksanaan ibadat Misa Jumat Agung di Gereja Katedral, bangunan megah yang tepat berhadapan dengan Masjid Istiqlal.
 
Oleh karenanya, di lokasi, kumandang azan yang dominan seolah memanggil dua umat dengan agama yang berbeda sekaligus untuk datang ke masing-masing tempat ibadah. Satu ke masjid, satu ke gereja. 
 
Orang-orang dengan berpakaian dominan putih, sarungan, dan peci berhamburan ke tempat sujud itu. Sedangkan orang-orang dengan pakaian random, kasual datang secara teratur ke Katedral. Tak ada masalah. 
 
Hari ini, Jumat tak hanya menjadi hari suci untuk umat Islam saja, tetapi juga untuk umat Kristiani dan Katolik. Meski dibagi untuk dua agama, kesakralan hari itu tak mengurangi apapun, malah terasa lebih harmonis. Itu yang disampaikan Humas Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) Susyana Suwadie.
 
"Itu yang menciptakan keindahan yang tidak ada di tempat lain. Dan itulah yang bisa menjadi sumber inspirasi bagaimana umat masing-masing di Katedral maupun di Istiqlal menikmati hal itu sebagai salah satu keindahan, harmoni, dan toleransi," ujarnya saat ditemui JawaPos.com di Katedral, Jumat (7/4).
 
Menurutnya suara pembacaan ayat suci Alquran ataupun suara azan yang dilantunkan melalui pengeras suara dari Masjid Istiqlal tak mengganggu jalannya peribadatan umat di Katedral. Hal itu sudah terjadi sejak lama dan menjadi titik temu untuk saling menghargai.
 
"Tradisi kita di Gereja Katedral dan Istiqlal yang saling menghargai satu sama lain," jelasnya.
 
Senada dengan yang disampaikan Susyana, salah seorang jemaat yang ikut beribadah Jumat Agung di Katedral, Yohanes, 33, mengaku tak merasa terganggu sama sekali beribadah dalam satu waktu dengan umat Islam. Sambil menggenggam tangan anaknya, ia menekankan bahwa itu adalah keunikan Indonesia yang mesti terus dipupuk.
 
"Kan ini ada terowongan silaturahmi ya. Ya bagus dong bisa beribadah bareg. Berarti kita menghormati satu sama lain," ucapnya dengan senyum sumringah di mukanya.
 
Seperti yang disampaikan dalam doa-doa dalam ibadat Jumat Agung ini, Yohanes menyampaikan bahwa agamanya mendorong dan berdoa agar kedamaian dapat melimpahi Tanah Air. 
 
"Melakukan silaturahmi antar umat beragama dengan sama, dengan baik. Semoga ini bisa tercipta lebih baik lagi, kedamaian untuk bangsa Indonesia," harapnya. 
 
Sementara itu, Septian, 24, baru saja selesai melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqlal. Mukanya cerah meski agak kecapaian setelah berkeliling terlebih dahulu untuk melihat bazzar di lingkungan masjid yang juga menjadi cagar budaya itu.
 
Sejak pertama tiba di parkiran Masjid Istiqlal, ia mengaku tahu bahwa ibadah siang itu tak hanya dilakukan oleh dirinya yang beragama Islam. Pasalnya, Septian melihat ada banyak orang juga berlalu-lalang masuk ke Gereja Katedral, tenda-tenda didirikan. 
 
Setelah usai melaksanakan kewajibannya, ia sama seperti halnya Yohanes, dirinya merasa tak terganggu sama sekali dengan keberadaan ibadah lain di hari dan bahkan waktu yang sama dengan dirinya. Orang-orang datang silih berganti dengan tertib. Menurutnya tak ada masalah.
 
"Di sini kita dapat melihat toleransi orang Indonesia dalam beragama gitu. Di mana walaupun kita bertetangga, beda agama, kita bisa saling menghormati, gak mengganggu satu sama lain," ucapnya. 
 
"Dapat beribadah sesuai keyakinan masing-masing," imbuhnya.
 
Menurut lelaki yang tinggal di Jakarta Barat itu, kejadian ini merupakan hal baik. Menurutnya para aparat juga terlihat dapat dengan humanis menjaga ketertiban di dua tempat seolah kontradiktif tersebut.
Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore