Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Mei 2024 | 19.50 WIB

Mengenal Fenomena Psikologis Sindrom Impostor dan 5 Jenisnya, Dialami Orang Berprestasi dan Berbakat

Ilustrasi: Penderita sindrom impostor. - Image

Ilustrasi: Penderita sindrom impostor.

JawaPos.com - Sindrom impostor merujuk pada fenomena psikologis di mana individu merasa seperti penipu atau impostor meskipun telah mencapai prestasi yang sebenarnya. Fenomena ini dapat muncul dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pekerjaan, hubungan, atau usaha pribadi.

Fenomena psikologis seperti sindrom impostor ini dapat menghalangi dan menjauhkan individu dari rasa percaya diri yang seharusnya mereka miliki.

Melansir Verywell Mind, tanda-tanda sindrom impostor termasuk keraguan diri yang persisten. Bahkan di area-area di mana mereka terampil. Ini seringkali muncul sebagai kecemasan, disertai dengan rasa takut akan terbongkar sebagai tidak mencukupi. Sindrom impostor dapat mengarah pada pembicaraan negatif tentang diri sendiri. Gejala kecemasan dan depresi seringkali berdampingan dengan sindrom impostor.

Meskipun sindrom impostor tidak diklasifikasikan sebagai gangguan mental yang dapat didiagnosis, hal ini erat kaitannya dengan kecerdasan, pencapaian, perfeksionisme, dan dinamika sosial. Psikolog Suzanna Imes dan Pauline Rose Clance menciptakan istilah ini pada 1970-an untuk menjelaskan fenomena psikologis sindrom impostor.

Ironisnya, individu yang berjuang dengan sindrom impostor seringkali adalah individu yang sangat berprestasi dan berbakat. Meskipun sukses secara eksternal, mereka menyimpan perasaan ketidakcukupan, menjadikan sindrom impostor sebagai tantangan psikologis yang membingungkan yang perlu dieksplorasi.

Menurut Hannah Owens, LMSW, sindrom impostor tidak hanya mempengaruhi persepsi internal seseorang tentang pekerjaan atau harga diri, tetapi juga dapat mempengaruhi perilaku di berbagai area, memperpanjang ramalan yang menjadi kenyataan.

Dr. Valerie Young, seorang ahli tentang sindrom impostor, mengkategorikan masalah psikologis ini menjadi lima jenis:

1. The Perfectionist

Perfeksionis menetapkan standar yang tidak mungkin untuk diri mereka sendiri, percaya bahwa segala sesuatu yang kurang dari kesempurnaan sama dengan kegagalan. Meskipun meraih kesuksesan, mereka terpaku pada kekurangan kecil atau kesalahan, terus-menerus merasa tidak mencapai harapan yang tidak realistis.

Pengejaran tak henti-hentinya terhadap kesempurnaan tidak hanya menggerogoti kepercayaan diri mereka tetapi juga memperpanjang perasaan ketidakcukupan dan kepura-puraan dalam kehidupan mereka.

2. The Expert

Para Expert adalah individu yang memiliki pengetahuan dan keahlian luas dalam suatu bidang tertentu. Namun, alih-alih mengakui prestasi mereka, mereka fokus pada kesenjangan dalam pengetahuan atau keterampilan mereka.

Mereka merasa seperti impostor karena mereka percaya mereka harus tahu segalanya tentang bidang keahlian mereka. Rasa takut akan terbongkar sebagai penipu dapat menyebabkan keragu-raguan dalam membagikan pengetahuan mereka atau mencari peluang pertumbuhan, sehingga menghambat perkembangan profesional mereka.

3. The Natural Genius

Natural genius sangat pandai dalam memahami konsep-konsep baru dengan cepat dan mudah. Namun, mereka menafsirkan setiap kesulitan atau perjuangan sebagai tanda ketidakmampuan daripada bagian normal dari proses belajar.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore