
PRAKTIS: Aplikasi penggalangan dana publik memudahkan penggalang dana untuk mencapai tujuannya dan kepada donatur untuk berbagi.
JawaPos.com - Anggota Komisi III DPR M. Nasir Djamil mengatakan, penipuan di dunia maya memanfaatkan karakter orang Indonesia yang emosional dan tidak rasional. "Ditambah orang Indonesia itu dermawan, ujar M. Nasir Djamil saat dihubungi Jawa Pos pada Sabtu (13/4).
Kedermawanan dan sifat emosional masyarakat Indonesia itu menjadi celah bagi para penipu untuk beraksi. Memanfaatkan dunia maya dan teknologi digital, mereka mengeruk keuntungan untuk diri sendiri dengan cara menipu. Tentu, hal itu tidak bisa dibiarkan.
Penyedia platform filantropi atau penggalangan dana harus berhati-hati dan melakukan verifikasi secara benar terhadap pihak yang menggalang dana lewat aplikasi daring. Selain memverifikasi kelayakan si penggalang dana, mengawasi peruntukan dan laporan penggunaan dana juga menjadi kewajiban.
Di sisi lain, pengawasan aparat perlu ditingkatkan lantaran dunia maya tidak mengenal kurator. Siapa pun bisa menjadi apa yang mereka inginkan di ranah digital. Karena itu, diperlukan campur tangan aparat untuk mengaturnya. ’’Polisi Siber Polri harus menertibkannya,’’ ucap politikus PKS itu.
Berbekal peranti mumpuni dan jaringan luas, polisi siber bisa menertibkan aksi penggalangan dana di dunia maya. Bahkan, mereka berhak meringkus pelaku penipuan yang meresahkan masyarakat. Menertibkan aksi jahat penipu online merupakan tugas yang mendesak dan harus segera dilakukan.
Nasir melanjutkan, kasus Singgih yang menyeret platform penggalangan dana kitabisa.com hanyalah satu dari banyak kasus penyalahgunaan bantuan yang terungkap. ’’Ini baru yang diketahui. Yang tidak terungkap mungkin lebih banyak,’’ ujar legislator asal Aceh itu.
Menurut dia, penggalangan dana publik dengan memanfaatkan ketokohan atau kisah sedih tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas tak bisa dibiarkan. Apalagi, tidak semua platform penggalangan dana menerapkan sistem verifikasi yang tegas dan syarat penarikan dana atau pemakaian dana dengan ketat.
Yang lebih parah, imbuh Nasir, adalah penipuan yang langsung menyasar calon korban lewat aplikasi WhatsApp. Penipuannya beragam. Salah satu modusnya adalah pembagian hadiah atau undangan, bahkan ada juga surat pemecatan. ’’Sampai sekarang, kejahatan itu belum teratasi,’’ katanya.
Dia berharap Polri di bawah komando Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bisa menyelesaikan masalah tersebut. Lagi pula, saat ini banyak aturan yang dibuat untuk mengantisipasi kejahatan di dunia digital. ’’Tinggal bagaimana Polri menanganinya,’’ tandas Nasir. (lum/c18/hep)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
