
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Dimas Nur Apriyanto/JawaPos.com
JawaPos.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan bahwa Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sah mewakili umat Islam dan tidak bertentangan dengan syariat.
“Presiden sah mewakili umat Islam Indonesia, tetapi Jawaharlal Nehru itu sah nggak mewakili umat Islam India? Mao Tse Tung apakah sah mewakili Islam di China? Kepala negara non-Muslim apakah sah menjadi wakilnya umat Islam? Alhamdulillah, jawabannya sah dari segi isinya karena tidak bertentangan syariat sesuai dengan maqashid syariat,” ujar Gus Yahya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, (27/3).
Ia menuturkan bahwa Piagam PBB sah dari segi penandatanganan karena melibatkan entitas politik yang sah secara de facto dan de jure (fakta dan hukum).
"Mereka sah secara niscaya karena kepala negaranya dianggap sah. Walaupun non-Muslim, mereka sah mewakili warga negara Muslim," ucapnya.
Gus Yahya menegaskan, bahwa Piagam PBB ini sah dengan titik tolak imperatifnya adalah perdamaian yang secara syariat adalah sah.
"Kalau tidak ada itu, ya tidak ada landasannya. Tanpa landasan itu, kita semua wajib perang," kata Gus Yahya.
Isi perjanjian Piagam PBB itu sendiri bagi Gus Yahya lebih bersifat visioner ketimbang sesuatu yang langsung diterapkan. Piagam PBB merupakan visi walaupun belum bisa sepenuhnya diterapkan untuk saat ini.
Oleh karena itu, menurutnya, sebuah tugas bagi semua pihak untuk melanjutkan imperatifnya. Jika Piagam PBB diterima sebagai kesepakatan, maka tentu harus ada imperatif ikutan.
Dalam perspektif Islam, katanya, sudah ada landasan syariat tentang kenapa tidak boleh bermusuhan dengan kelompok yang berbeda, yaitu perjanjian ini.
"Harapannya ke depan wawasan terkait ini bisa dikembangkan lebih lanjut dan dijabarkan ke dalam berbagai produk akademik yang kita perlukan, termasuk bahan ajar untuk anak-anak kita," kata Gus Yahya.
Untuk itu, ia mengajak seluruh pihak untuk mempersiapkan generasi selanjutnya dalam mengemban misi perdamaian. Dengan demikian, misi perdamaian tersebut tidak hidup dalam mulut manis para imam dan pendeta saja, tetapi hidup dalam diri seluruh umat beragama.
"Mulai hari ini, bisa kita siapkan untuk anak-anak kita sehingga visi perdamaian tidak hanya mulut manis dari para imam dan pendeta saja, tetapi hidup dari umat beragama," ujarnya.
Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika menghadiri Seminar Nasional Bertema "Prospek dan Tantangan Fiqih Peradaban sebagai Solusi Krisis Tata Dunia Global". Kegiatan ini diselenggarakan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
