
Ketua Bawaslu Rahmat Bagja memberikan keterangan terkait Pemetaan TPS Rawan dan Strategi Pencegahan Jelang Pemungutan Suara di Kantor Bawaslu RI, Jakarta, Minggu (11/2/2024).
JawaPos.com - Dalam menanggapi kritik yang ditujukan kepada Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI dalam film dokumenter ‘Dirty Vote’ karya Sutradara Dandhy Dwi Laksono, Ketua Bawaslu RI, Rahmat Bagja, buka suara.
Dilansir dari Antara Senin (12/2), Rahmat Bagja, sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI, menegaskan bahwa lembaga tersebut menghargai setiap kritik yang disampaikan.
Bawaslu RI terus berupaya sekuat tenaga menjalankan tugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dalam konteks ini, Bagja menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi yang mengatur fungsi dan tanggung jawab Bawaslu RI dalam menjalankan proses pemilihan umum.
Selain itu, Bagja juga menggarisbawahi bahwa baik Bawaslu RI maupun pengawas pemilu di tingkat daerah telah melakukan tugas mereka dengan baik, sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Hal ini menunjukkan keyakinan Bagja akan kinerja lembaga pengawasan pemilu di seluruh wilayah, serta kepercayaan mereka terhadap penilaian yang akan dibuat oleh masyarakat terhadap kinerja mereka.
Dengan demikian, Bawaslu RI memberikan penekanan pada kewajiban mereka untuk memenuhi tuntutan regulasi dan kepercayaan masyarakat dalam menjalankan fungsi pengawasan pemilihan umum.
Walaupun lembaga ini memberikan penghargaan terhadap kebebasan berpendapat, Bagja menegaskan bahwa Bawaslu RI telah beroperasi sesuai dengan kerangka hukum yang telah ditetapkan.
Film dokumenter ‘Dirty Vote’ menampilkan tiga pakar hukum tata negara yang mengkritik Bawaslu RI atas kekurangannya dalam menjatuhkan sanksi terhadap pelanggaran pemilu, yang dinilai tidak memberikan efek jera sehingga pelanggaran tersebut cenderung berulang.
Sutradara Dandhy Dwi Laksono menggambarkan film tersebut sebagai sebuah upaya pendidikan bagi masyarakat, khususnya menjelang pemungutan suara pada 14 Februari 2024.
Proses pembuatan film melibatkan partisipasi dari 20 lembaga yang berbeda, menunjukkan kerjasama lintas sektor dalam menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.
Dalam waktu sekitar 8 jam setelah dirilis di YouTube, film tersebut telah ditonton oleh lebih dari satu juta orang, menunjukkan minat yang besar dari masyarakat terhadap isu-isu yang dibahas dalam film tersebut.
Hal ini menegaskan bahwa film tersebut memiliki dampak yang signifikan dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik mengenai permasalahan pemilihan umum.
***

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
