
KACA PECAH: Mobil yang terdampak ledakan di Asrama Polisi Sukoharjo. (JAWA POS RADAR SOLO)
JawaPos.com - Jawa Pos Radar Solo kemarin (26/9) menemui Ari Nur Huda di tempat parkir Umbul Manten, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Pria 22 tahun itu membenarkan bahwa dirinya membeli bahan petasan dari Jawa Barat setahun lalu.
Huda –sapaannya– mengaku membeli bahan petasan untuk memeriahkan Idul Fitri di lingkungan keluarganya. Dia bahkan sempat membuat petasan sebanyak lima kali.
Petasan itu lalu disulut di lapangan desa setempat.
Dia mengaku terjaring razia petasan saat membeli online dengan metode pembayaran cash on delivery (COD). Bahkan, Huda sempat dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sebagai saksi. ’’Sebenarnya kejadian itu sudah selesai setelah dimusyawarahkan secara kekeluargaan. Tapi, malah ada kejadian seperti ini. Jujur saja, saya kaget,” ucap pria kelahiran Klaten, 29 November 1999, tersebut.
Dia menegaskan, bahan petasan yang dibelinya tidak diperjualbelikan kembali. Murni hanya untuk memeriahkan Idul Fitri pada 2021. Dia kini ingin melupakan kejadian tersebut. Dia mendapat pelajaran berharga dan tidak mau mengulanginya lagi.
Photo
Ari Nur Huda. (JAWA POS RADAR SOLO)
Huda kini tinggal di sebuah rumah sederhana di Dusun Janjir, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Dia bekerja sebagai tenaga harian lepas di tempat wisata Umbul Siblarak dan Umbul Manten. Pekerjaan itu ditekuninya setelah lulus dari SMAN 1 Wonosari pada 2019. Dia sering diminta menjaga loket, mengelola jasa tikar, hingga mengawasi wahana permainan di dua destinasi wisata tersebut.
”Sebenarnya, setelah lulus, saya sempat melanjutkan kuliah di UPN Veteran (Jogjakarta), ambil jurusan ekonomi, tapi tak diteruskan. Kemudian, saya sempat kursus beberapa bulan terkait dengan teknik mekanik motor. Sempat juga kerja di bengkel, tetapi tidak lanjut,” ungkap pria yang memiliki hobi memancing itu.
Huda juga sempat mengikuti kursus potong rambut di Kartasura, Sukoharjo, hingga bekerja di barbershop selama sebulan. Namun, dia akhirnya memilih keluar dan merintis secara mandiri usaha potong rambut di Desa Wunut, Kecamatan Tulung. Kini bangunan berukuran 4 x 3 meter yang dijadikan tempat usahanya itu ditata.
Huda berencana fokus dengan usaha potong rambutnya tersebut. Modal yang digunakan untuk merintis usahanya itu berasal dari upah menjadi tenaga lepas di Umbul Siblarak dan Umbul Manten. Semua itu dia lakukan untuk membahagiakan orang tuanya, khususnya sang ibu. ”Ke depannya mau meninggalkan (tenaga lepas, Red) di Umbul Siblarak dan Manten ini. Mau fokus ke usaha potong rambut saja,” tandasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
