Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 21.46 WIB

Kabar Kabinet Indonesia Maju Pecah, Dicap Sebagai Serangan Politis

Presiden Joko Widodo minum teh bersama Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep di Bandung, Jawa Barat. - Image

Presiden Joko Widodo minum teh bersama Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep di Bandung, Jawa Barat.

JawaPos.com–Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) R. Haidar Alwi turut memperhatikan perkembangan dinamika politik terakhir. Di antaranya adalah isu atau tudingan kabinet Indonesia Maju sedang mengalami perpecahan. Menurut dia isu tersebut adalah serangan politis. 

Dia mengatakan isu perpecahan kabinet adalah serangan politis terkait Pilpres 2024. Menurut dia, kinerja kabinet tetap berjalan seperti biasa. Meskipun digempur isu tersebut. Meskipun Mahfud MD mundur, itu karena dia jadi Cawapres. Bukan indikator kabinet sedang tidak baik-baik saja. 

”Saya meyakini kinerja kabinet tidak akan terpengaruh serangan-serangan politis yang belakangan ini dinarasikan tengah mengguncang istana,” kata Haidar Alwi dalam keterangannya Minggu (4/2).

Dia mengatakan, di antara isu perpecahan di kabinet bahwa sejumlah menteri disebut-sebut ingin mengundurkan diri menyusul Menkopolhukam Mahfud MD. Mulai dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, serta menteri lain yang berasal dari PDIP.

”Kabinet solid seperti yang dikatakan Presiden Jokowi,” jelas Haidar Alwi. 

Menurut Haidar Alwi, kalaupun ada turbulensi, itu biasa. Dia optimistis Presiden Jokowi sebagai pilot di kabinet mampu meredam. Sehingga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kinerja kabinet. Menteri-menteri bekerja seperti biasa. Respons Presiden Jokowi juga terlihat santai.

Dia mengatakan, mundurnya menteri dari kabinet adalah hal yang biasa. Layaknya keluar-masuk seorang pegawai dari sebuah perusahaan. Hal itu tidak dapat dijadikan gambaran ada perpecahan di kabinet. Tak terkecuali karena perbedaan pilihan politik. Sebab, dalam negara demokrasi perbedaan adalah sebuah keniscayaan.

”Mundur itu adalah hak setiap menteri dan saya kira dalam hal ini Presiden Jokowi sangat demokratis sekali,” kata dia.

Jokowi dinilai sosok yang menghargai keputusan itu seperti menyikapi mundurnya Menkopolhukam Mahfud MD. 

Dari sekian banyak menteri yang diisukan mundur, sampai hari ini hanya Mahfud MD yang benar terbukti. Oleh karena itu, dia menduga isu perpecahan di kabinet sengaja diembuskan untuk mendiskreditkan Presiden Jokowi. 

”Awal mula isu ini kan dari PDIP,” jelas Haidar Alwi.

Menteri-menteri yang diisukan mundur juga terafiliasi PDIP yang mendukung Ganjar-Mahfud. Kalau memang ada perpecahan di kabinet atau tekanan mendukung Prabowo-Gibran, tentu menteri-menteri dari Nasdem dan PKB yang mendukung Anies-Muhaimin juga akan bereaksi. 

”Tapi nyatanya itu tidak terjadi. Makanya, arahnya jelas dan tujuannya gampang ditebak. Mendiskreditkan Presiden Jokowi. Dengan harapan memberikan sentimen negatif terhadap Prabowo-Gibran,” ucap Haidar Alwi.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore