
Ilustrasi dispenser pertalite dan premium di SPBU Jakarta
JawaPos.com - Presiden Jokowi blak-blakan mengatakan manuver pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) relatif berat. Karena dilakukan di tengah harga minyak mentah dunia yang masih tertahan tinggi, hingga pertengahan tahun ini.
Sementara, sebagian besar negara sudah menyesuaikan harga BBM mereka mengikuti tren pasar dunia.
Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS Mulyanto menilai, Presiden tidak seharusnya curhat dan mengeluh seperti itu. Karena tugas negara memang membantu rakyat.
"Sesuai dengan amanat Pembukaan UUD tahun 1945, tujuan negara adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum," kata Mulyanto, Kamis (26/5).
Dia menyebut, kehadiran negara memang bantalan bagi masyarakat dari turbulensi ekonomi global. Sehingga kejutan ekonomi yang menghantam dari luar dapat diredam agar tidak membuat masyarakat menjadi susah.
Terkait lonjakan harga BBM, akibat Perang Rusia-Ukraina, menurut Mulyanto, seluruh negara-negara di dunia potensial menerima akibat turbulenesi harga minyak global yang sama. Akan tetapi ada perbedaan substansial terhadap harga BBM di antara negara-negara tersebut. Secara umum bergantung pada daya beli masyarakat.
Menurutnya, negara kaya memiliki harga BBM yang lebih tinggi dibandingkan negara yang lebih miskin. Negara yang memproduksi dan mengekspor minyak, menjual minyak dengan harga rendah secara domestik.
Perbedaan harga minyak di masing-masing negara, tergantung pada variasi besaran pajak dan subsidi domestik untuk komoditas ini. Sehingga tergantung bagaimana sikap Pemerintah mereka terkait dengan kebijakan pajak dan subsidi.
"Ambil contoh negara serumpun seperti Brunei dan Malaysia menjual BBM dengan harga yang jauh lebih murah dibanding Indonesia. Harga bensin dengan RON 90 di Brunei sebesar Rp 3.800 per liter. Sementara harga bensin dengan RON 95 di Malaysia dijual sebesar Rp 6.900 per liter. Di kita bensin Pertalite (RON 90) dijual dengan harga Rp 7.650 per liter," jelas Mulyanto.
Fakta lain, lanjut Mulyanto, lonjakan harga migas dunia ternyata diikuti dengan kenaikan harga SDA yang menjadi andalan ekspor Indonesia seperti batubara, gas alam, CPO, tembaga, nikel, dan lainnya.
"Akibatnya, turbulensi ekonomi global ini malah membawa berkah bagi surplus perdagangan kita dan memperkuat penerimaan APBN kita," imbuhnya.
Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo saat acara Evaluasi Aksi Afirmasi Bangga Buatan Indonesia, Jakarta, Selasa (24/5) mengatakan harga BBM domestik seperti Pertalite dan Pertamax yang masing-masing sebesar Rp 7.650 dan Rp 12.500 jauh lebih murah ketimbang negara lain. Dia mencontohkan, harga BBM di Singapura sudah mencapai Rp 32.000, Jerman di angka Rp 31.000 dan Thailand sebesar Rp 20.000.
Ia menambahkan, bahwa Indonesia berusaha menahan terus, namun angka subsidi tersebut terus membesar.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
