JawaPos.com - Pengamat politik Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC) Husaini Dani menilai, Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang masih akan diisi oleh partai-partai besar di jajaran atas. Dia memprediksi akan menghasilkan komposisi 5 besar partai politik di tingkat tertinggi.
Kelima parpol tersebut yakni PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Golkar, PKB dan Partai NasDem. Dari seluruh nama tersebut, PDIP menjadi partai yang berpotensi memenangkan pemilu legislatif 3 kali berturut-turut.
"Kelima partai politik tersebut diuntungkan antara lain dari adanya coattail effect yang dihasilkan dari pencalonan masing-masing paslon capres-cawapres di Pilpres 2024 dari masing-masing partai atau koalisi partai tersebut," kata Husaini kepada wartawan, Jumat (19/1).
PDIP meskipun tren elektabilitasnya cenderung menurun akibat berseberangan dengan Jokowi, namun partai ini diprediksi masih cukup mengungguli partai-partai lainnya. Basis pendukung yang merata, loyal dan banyaknya kader partai yang menduduki jabatan kepala daerah dan jabatan-jabatab strategis memberikan akses penggalangan politik bagi partai ini untuk tetap unggul pada Pileg 2024.
"Alasan lain yang membuat PDIP masih cukup kuat karena basis loyalis PDIP mengalami proses konsolidasi ketika Jokowi diposisikan berseberangan dan mendukung Prabowo-Gibran. Hal itu membuat pendukung PDIP justru di bawah semakin solid mendukung eksistensi partainya sekaligus mendukung Ganjar sebagai capres," jelasnya.
Sementara Partai Gerindra dinilai mendapatkan keuntungan dari popularitas ketua umumnya Prabowo Subianto yang maju sebagai calon presiden dan berada di urutan tertinggi berbagai survei pilpres 2024. Dengan Prabowo menggandeng Gibran Rakabuming yang merupakan putra pertama dari Jokowi, maka Gerindra dinilai berpotensi mendapatkan dukungan suara dari para pendukung Jokowi.
"Dalam hal ini termasuk pula Partai Golkar. Partai Golkar mencoba mengambil momentum dari konflik antara Jokowi serta putra-putranya dengan PDIP, dan mendekati Gibran untuk bergabung (dengan Golkar). Diharapkan adanya limpahan suara dari para pendukung Jokowi ke Golkar. Meski sebenarnya, partai ini telah memiliki basis dan infrastruktur politik yang kuat dan menyebar secara merata tingkat nasional sampai daerah," ungkapnya.
Sedangkan di kubu Anies-Cak Imin, dua partai yang kemungkinan besar memperoleh coattail effect paling tinggi adalah Partai NasDem dan PKB. Keduanya secara high profile melakukan penggalangan politik secara terbuka untuk mendukung Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar.
"Artinya jika kita melihat latar belakang dukungan partai politik di Pilpres, kelima partai politik ini elektabilitasnya cenderung meningkat beriringan dengan elektabilitas pasangan yang mereka usung. PKB dan Nasdem dalam hal ini memiliki konsistensi peningkatan suara dalam setiap pelaksanaan pemilu. Apalagi jika ditambah dengan sentimen capres-cawapres maka hasilnya kemungkinan akan lebih kuat lagi," pungkas Dani.