
Photo
JawaPos.com- Ainun Najib, sosok yang viral setelah diminta pulang Presiden RI Joko Widodo, Kamis (3/2) malam turut hadir secara virtual di Peringatan Haul Ke-2 KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Anak muda NU asal Desa Klotok, Kecamatan Balongpanggang, Gresik, itupun diminta untuk memberikan testimoni tentang Gus Sholah.
Ainun Najib mengaku kaget saat diminta ikut hadir oleh Irfan Asyari Sudirman Wahid (Gus Ipang), salah seorang putra Gus Sholah. ‘’Nggih siapalah saya. Saya ini seorang muhibbin (pecinta) saja. Santri pun, mungkin itungannya santri kilat mawon,’’ ujarnya seperti dilansir di channel YouTube Tebuireng Official.
Dia menyampaikan, dirinya hanyalah bagian dari para muhibbin nahdliyyin, yang perjalanan hidupnya di dunia umum atau dunia eksakta. ‘’Saya hanya mencintai para kiai, mencintai NU, dan melanjutkan tradisi dari keluarga saya, dari abah saya, para buyut saya,’’ lanjutnya.
Sebagai santri kilat, Ainun Najib pun bercerita, ada satu hal spesifik yang membuatnya terkenang pada sosok almarhum Gus Sholah. ‘’Saya ingat betul, beliau itu berpandangan bahwa santri atau kalangan nahdliyyin itu mesti menguasai sains dan teknologi. Mesti belajar di jalur umum,’’ kenangnya.
Santri, lanjut Ainun Najib, harus berkuliah di kampus seperti ITB, UI, UGM, ITS, dan di mana-mana. ‘’Di seluruh dunia, kuliah di universitas dan institut sains dan teknologi yang terbaik,’’ ucap dia.
Dia ingat betul dengan pandangan Gus Sholah tersebut. ‘’Itu berkesan sekali. Bukan karena untuk ngadem-ngademi saya. Tapi, sebenarnya itu menunjukkan bahwa ilmu, adab, dan karakter agama adalah akar, bekal yang mutlak atau wajib dimiliki,’’ jelasnya.
Ainun Najib melanjutkan, yang penting adalah melihat ke depan. Memiliki visi yang lebih besar untuk umat, bangsa, dan negara. Di era saat ini, visi yang besar itu bisa dicapai dengan penguasaan. Bukan hanya mampu atau sekadar memiliki kemampuan. Namun, betul-betul menguasai dan unggul di bidang sains dan teknologi. ‘’Zamannya memang sedemikian,’’ ungkapnya.
Dia mencontohkan kondisi di Amerika Serikat. Sebuah negara yang memiliki sejarah peradaban demokrasi paling tua. Hampir tiga abad. Tapi, karena gagal menguasai, maka struktur sosialnya dikacaubalaukan oleh sosial media dengan hoaks, fake news, dan semacamnya. Karena itu, terjadilah polarisasi besar. Dampaknya sangat signifikan pada kestabilan sosial di negara tersebut. Nah, apalagi di Indonesia.
‘’Kita sedang mengalami problem itu. Menurut saya, itu bukan problem sosial, tetapi sejatinya problem teknologi. Karena belum menguasai hanya sekadar mampu menyikapi hadirnya teknologi informasi dan sosial media,’’ paparnya.
Kondisi demikian itu, sambung Ainun Najib, baru awal. Dalam dekade-dekade ke depan, akan lebih mengerikan. Lebih cepat lagi perubahan-perubahan teknologi. ‘’Karena itu, kalangan muda lebih siap. Terutama kalangan nahdliyyin,’’ ungkapnya.
Selain Ainun Najib, sejumlah tokoh yang memberikan testimoni di Peringatan Haul Ke-2 Gus Sholah antara lain Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, advokat senior Hotman Paris, dan Najwa Shihab.
Saat menyampaikan sambutan, Kang Emil—sebutan Ridwan Kamil—juga sempat melontarkan ‘’gojlokan’’ pada Ainun Najib. ‘’Mas Ainun Najib ini sedang dicari oleh Pak Jokowi. Sedang dikerahkan TNI-Polri untuk memulangkan dari Singapura. Saking istimewanya,’’ kelakar mantan Wali Kota Bandung itu. Dari layar, Ainun pun terlihat tersenyum sambil menangkupkan dua telapak tangannya menanggapi sentilan Kang Emil itu.
Sebelumnya, saat memberikan sambutan di acara pengukuhan pengurus PBNU masa khidmat 2022-2027 dan peringatan Harlah ke-96 NU di Balikpapan, Kaltim pada Senin (31/1) lalu, Jokowi meminta agar Ainun Najib mau pulang ke Indonesia.
Tapi, di Singapura gaji Ainun Najib disebut Jokowi sudah sangat tinggi. Kalau diminta pulang ke Indonesia, tentu harus bisa menggajinya lebih besar daripada di Singapura. ‘’Ini tugasnya nanti Pak Kiai. Kalau beliau yang ngendiko (berbicara, Red), digaji berapa pun, bismillah pasti mau,’’ kata mantan Gubernur DKI itu.
Ainun Najib adalah pemuda berusia 32 tahun. Di lahir di Desa Klotok. Sebuah kampung di ujung selatan Gresik. Jaraknya sekitar 33 km dari Kota Gresik. Ainun Najib anak pasutri dari H. Abdul Rozaq dan Hj Rustinah. Ayahnya seorang kiai kampung, alumnus Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan, Kecamatan Bungah, Gresik. Ibunya seorang guru SD.
Ainun Najib memulai pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah, Desa Ganggang, Balongpanggang, Gresik. Setelah itu, melanjutkan ke SMPN Balongpanggang dan SMAN 5 Surabaya. Selepas itu, mendapat beasiswa di kampus ternama, Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura. Lulus dari NTU, Ainun Najib bergabung dengan IBM Singapura sebagai software engineer. Kini, dia menjabat Head of Analytics, Platform & Regional Business di Grab Singapura.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
