Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Oktober 2021 | 22.17 WIB

La Nina, Curah Hujan Tinggi hingga Februari

Pejalan kaki melintas di bawah guyuran hujan di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (9/1/2019).  Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) akan diterpa hujan sedang hin - Image

Pejalan kaki melintas di bawah guyuran hujan di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (9/1/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) akan diterpa hujan sedang hin

JawaPos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan berlangsung pada periode Desember 2021 sampai Januari 2022. Peningkatan curah hujan setiap bulan mencapai 20 sampai 50 persen. Selain dinamika meteorologis lokal, peningkatan curah hujan dipengaruhi fenomena suhu lautan Pasifik La Nina.

Data BMKG menunjukkan, indeks La Nina terus meningkat. Yakni, 0,5 pada Agustus; 0,55 pada September; dan 0,61 pada Oktober. Indeks itu menunjukkan bahwa La Nina telah melewati ambang batas normal.

Meski demikian, menurut Deputi Meteorologi BMKG Guswanto, indeks La Nina masih dikategorikan lemah. ”Kategorinya lemah sampai sedang,” jelas Guswanto kepada Jawa Pos kemarin (28/10).

Guswanto mengatakan, berdasar analisis perbandingan dengan kejadian La Nina 2020, curah hujan meningkat pada November–Desember–Januari, terutama di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga NTT, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan. BMKG memprediksi La Nina tahun ini relatif sama. Dampak yang akan ditimbulkan, antara lain, peningkatan curah hujan bulanan berkisar 20–50 persen di atas normal.

Dengan peningkatan curah hujan pada periode musim hujan tersebut, perlu kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. ”Untuk puncak musimnya pada bulan Desember–Januari,” jelas Guswanto.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, kondisi peningkatan anomali cuaca harus dipersiapkan setidaknya hingga Februari 2022. Pemerintah daerah, masyarakat, serta pihak yang terkait dengan pengelolaan sumber daya air seperti sungai, danau, dan drainase harus bekerja sama mengurangi risiko bencana. Misalnya, banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung, maupun terjadinya badai tropis.

Berdasar data BMKG, sampai dengan November 2021 diperkirakan 87,7 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan. Kemudian, pada akhir Desember 2021, BMKG memperkirakan 96,8 persen wilayah Indonesia memasuki musim hujan.

Sementara itu, dalam sebulan terakhir, berbagai bencana hidrometeorologis dilaporkan terjadi di berbagai daerah. Terbaru, banjir bandang di Kecamatan Wanareja dan Majenang di Kabupaten Cilacap yang terjadi sejak Kamis (28/10) pagi pukul 05.30 WIB. Sungai Cipalebuh di Kabupaten Garut juga dilaporkan meluap hingga merendam rumah warga di Desa Mandalakasih. Banjir setidaknya terpantau sejak Rabu (27/10) sore.

Kemudian, angin kencang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Selasa (26/10). Sejumlah wilayah terdampak meliputi Desa Mattiro Walie dan Desa Kolala di Kecamatan Maniangpajo; Desa Ugi dan Desa Pallimae di Kecamatan Sabangparau; dan Kelurahan Wiripalennae di Kecamatan Tempe.

Berdasar laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Wajo, kejadian itu mengakibatkan sedikitnya 277 rumah warga rusak. Perinciannya, 45 rumah warga rusak berat, 60 rumah rusak sedang, dan 172 rumah rusak ringan. BPBD Kabupaten Wajo memastikan tidak ada korban jiwa akibat insiden tersebut.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore