Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 Oktober 2023 | 18.11 WIB

GFF Healthcare 2023 Dorong Sinergi Transformasi Kesehatan Nasional dan Regional

Program Global Future Fellows 2023: Advancing Southeast Asia’s Predictive Healthcare (GFF Healthcare 2023) oleh Pijar Foundation resmi ditutup pada Kamis (5/10). - Image

Program Global Future Fellows 2023: Advancing Southeast Asia’s Predictive Healthcare (GFF Healthcare 2023) oleh Pijar Foundation resmi ditutup pada Kamis (5/10).

JawaPos.com–Program Global Future Fellows 2023: Advancing Southeast Asia’s Predictive Healthcare (GFF Healthcare 2023) oleh Pijar Foundation resmi ditutup pada Kamis (5/10) di Jakarta dengan presentasi hasil dan diskusi dengan Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin.

GFF Healthcare 2023 merupakan program residensi yang bertujuan mendorong sinergi antara sektor publik, privat, dan komunitas, dalam proses transformasi kesehatan nasional dan regional. Selama empat hari, 41 peserta (fellows) yang terdiri atas pelaku dan pemain strategis sektor kesehatan, mulai dari dokter, kementerian, hingga perusahaan rintisan, dari 6 negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, dan Filipina) terlibat dalam serangkaian diskusi, pemberian materi oleh para ahli, serta kelas khusus (masterclass) mengenai kolaborasi.

Semua hasil diskusi dikonsolidasikan dalam White Paper Rencana Aksi Bersama, yang kemudian akan dikoordinasikan dengan para pemangku keputusan terkait. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya kolaborasi dan kerja cepat dalam memperbaiki tingkat kesehatan Indonesia.

”Saya, dan kita, ini dikejar waktu. Pertama, masa kerja saya hanya 3 tahun 9 bulan. Kedua, Indonesia dikejar target 2030, puncak bonus demografi kita yang akan menentukan kemampuan kita melewati batasan dari negara berpendapatan menengah ke pendapatan tinggi,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

”Jika periode ini terlewat, kita akan terus jadi negara menengah selamanya. Untuk memaksimalkan bonus demografi, kita butuh masyarakat yang pintar dan juga sehat. Karena itulah, kita harus kerja cepat dan melakukan banyak gebrakan,” tambah dia.

Perubahan terbesar, menurut Menkes, adalah perubahan fundamental dari arah kegiatan kementerian kesehatan. Sekitar 80 persen waktu dan anggaran diarahkan untuk mengobati yang sakit, bukan mengupayakan masyarakat yang sehat.

”Padahal, menjadikan masyarakat yang sehat harusnya jadi fokus utama karena lebih efektif dan lebih murah untuk kesejahteraan jangka panjang. Pendekatan ini yang sedang kami ubah. Salah satunya melalui transformasi digital,” tutur Budi Gunadi Sadikin.

Dia mengatakan, pemerintah mendorong rumah sakit dan fasilitas kesehatan (faskes) daerah melakukan standarisasi dan digitalisasi rekam medis dan database hingga akhir tahun ini. Data yang terpusat dan dapat diakses dengan mudah akan mengubah wajah kesehatan Indonesia.

”Pasien akan punya rekam jejak personal yang reliabel dan portabel. Secara makro, kita bisa menggunakannya untuk prediksi penyakit dan pengobatan ke depan. Di sisi lain, data seperti ini akan mendorong transparansi dan pemerataan harga layanan kesehatan,” jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Untuk melakukan itu semua, Menkes menekankan pentingnya kolaborasi multisector dan multipihak, seperti saat dulu berbagai lapisan masyarakat gotong-royong mempercepat proses vaksinasi nasional.

”Kerja sama multisector dan regional. Dengan semangat kerja sama inilah GFF Healthcare 2023 hadir,” ucap Budi Gunadi Sadikin.

Direktur Kebijakan Publik Pijar Foundation Cazadira F. Tamzil mengatakan, belajar dari pandemi Covid-19, saat ini masalah kesehatan tak hanya fokus satu negara, melainkan lintas negara. Terlebih setelah Indonesia menjabat sebagai ketua ASEAN pada 2023, kesehatan juga diangkat sebagai isu kritis untuk masa depan.

”Seperti juga yang ditekankan dalam ASEAN Leaders’ Declaration on One Health Initiative. Karena itu, saatnya bagi kita untuk mengubah sistem kesehatan yang bersifat introspektif, kuratif, dan reaktif, menjadi pendekatan yang lebih kolaboratif, prediktif, dan efektif secara regional,” papar Cazadira F. Tamzil.

”Meskipun tidak ada sistem perawatan kesehatan nasional yang sama, pandemi membuat negara-negara semakin menyadari bahwa tantangan kesehatan sangat kompleks dan memerlukan solusi inovatif dan kolaboratif melibatkan sektor publik, swasta, dan masyarakat. Melalui GFF Healthcare ini saya percaya bahwa pada akhirnya, solusi kesehatan tidak hanya tentang obat-obatan atau perangkat medis, tetapi juga tentang berbagai regulasi pendukung, mekanisme distribusi, dan keterlibatan masyarakat,” ujar Cazadira.

Untuk mendukung pemeriksaan kesehatan berbasis analisis prediktif dan pelayanan kesehatan preventif di ASEAN, GFF Healthcare 2023 memberikan sejumlah rekomendasi. Salah satunya adalah mengembangkan ekosistem riset dalam teknologi kesehatan berbasis AI dan mempermudah proses integrasi data lintas negara. Solusi itu menjadi dasar untuk mempercepat transformasi sistem kesehatan di Asia Tenggara.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore