
Ilustrasi polisi. Antara
JawaPos.com–Menjadi polisi, apalagi lulusan Akpol adalah impian bagi berjuta anak lain seantero Indonesia. Hak menggapai mimpi bagi jutaan anak lain juga patut diperjuangkan LPAI.
Ketua LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) Provinsi Banten Adi Abdillah Marta menyatakan, untuk membersihkan lantai kotor harus memakai sapu yang bersih. Ganti sapu yang telah kotor dengan sapu lain yang lebih bersih.
Menurut dia, lulusnya anak FS di Akpol hanya menjadi bukti nyata dugaan kongkalingkong proses seleksi penerimaan para calon taruna.
”Bagi saya, anak FS lebih baik menjadi praktisi agama (menjadi pendeta dan sejenisnya). Jadi perbaikan image tak hanya sebatas narasi tapi pembuktian bahwa anak FS lebih baik masa depannya. Banyak ruang kiprah yang lebih elegan bagi anak FS hanya ketimbang menjadi polisi (lagi),” ucap Adi Abdillah Marta.
Sementara itu, pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, Kak Seto pernah mengimbau publik agar tidak menghujat anak-anak Ferdy Sambo.
”Anak-anak, kata Kak Seto, berhak dilindungi dari tindak kekerasan dan diskriminasi. Saya juga terima kabar, Kak Seto ke Mako Brimob dan Magelang,” papar Reza.
Nah, bahwa anak FS kemudian bisa melalui tahap seleksi Akpol yang pasti sangat ketat dan berat, menurut dia, itu bukti bahwa anak FS tetap mampu bertahan di tengah situasi sulit. Dalam bahasa psikologi, anak FS punya daya lenting dalam situasi kritis.
Dengan komitmen yang Kak Seto berikan, patut publik berasumsi, resiliensi anak FS juga dihasilkan dari keberpihakan Kak Seto pada anak-anak. Tak terkecuali anak-anak FS. Berkat kepedulian yang Kak Seto berikan, anak-anak tetap mampu beradaptasi bahkan berprestasi.
”Tinggal lagi, bagaimana anak FS nanti juga punya kesungguhan hati untuk membayar jasa Kak Seto. Yaitu, dengan menjadi polisi sahabat anak. Ini sesuai dengan salah satu kampanye Kak Seto dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), yaitu Polsana,” papar Reza.
”Lain hal, saya bertanya-tanya, kelak jika bertemu Richard Eliezer, apa yang akan anak FS katakan? Toh, hitung-hitungan di atas kertas, anak FS akan selalu berpangkat lebih tinggi daripada RE. RE yang notabene dipaksa menjadi eksekutor untuk menghabisi mendiang Josua Hutabarat,” tambah Reza.
Selain itu, bagaimana pula sikap anak FS, selaku insan Tribrata yang bertugas melayani-melindungi-mengayomi, terhadap keluarga mendiang Josua. Menurut Reza, sangat elok jika Polri mempertimbangkan untuk menugaskan anak FS agar bisa melayani masyarakat di wilayah tempat keluarga mendiang Josua.
”Siapa tahu restorative justice yang hakiki akan berlangsung di situ. Yaitu, anak FS menjadi perpanjangan tangan orang tuanya yang sempat meminta maaf ke keluarga mendiang Josua,” ucap Reza Indragiri Amriel.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
