Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 27 Juli 2023 | 17.35 WIB

Anak Ferdy Sambo Lulus Akpol, Ini Kata Pemerhati Anak

Ilustrasi polisi. Antara - Image

Ilustrasi polisi. Antara

JawaPos.com–Menjadi polisi, apalagi lulusan Akpol adalah impian bagi berjuta anak lain seantero Indonesia. Hak menggapai mimpi bagi jutaan anak lain juga patut diperjuangkan LPAI.

Ketua LPAI (Lembaga Perlindungan Anak Indonesia) Provinsi Banten Adi Abdillah Marta menyatakan, untuk membersihkan lantai kotor harus memakai sapu yang bersih. Ganti sapu yang telah kotor dengan sapu lain yang lebih bersih.

Menurut dia, lulusnya anak FS di Akpol hanya menjadi bukti nyata dugaan kongkalingkong proses seleksi penerimaan para calon taruna.

”Bagi saya, anak FS lebih baik menjadi praktisi agama (menjadi pendeta dan sejenisnya). Jadi perbaikan image tak hanya sebatas narasi tapi pembuktian bahwa anak FS lebih baik masa depannya. Banyak ruang kiprah yang lebih elegan bagi anak FS hanya ketimbang menjadi polisi (lagi),” ucap Adi Abdillah Marta.

Sementara itu, pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, Kak Seto pernah mengimbau publik agar tidak menghujat anak-anak Ferdy Sambo.

”Anak-anak, kata Kak Seto, berhak dilindungi dari tindak kekerasan dan diskriminasi. Saya juga terima kabar, Kak Seto ke Mako Brimob dan Magelang,” papar Reza.

Nah, bahwa anak FS kemudian bisa melalui tahap seleksi Akpol yang pasti sangat ketat dan berat, menurut dia, itu bukti bahwa anak FS tetap mampu bertahan di tengah situasi sulit. Dalam bahasa psikologi, anak FS punya daya lenting dalam situasi kritis.

Dengan komitmen yang Kak Seto berikan, patut publik berasumsi, resiliensi anak FS juga dihasilkan dari keberpihakan Kak Seto pada anak-anak. Tak terkecuali anak-anak FS. Berkat kepedulian yang Kak Seto berikan, anak-anak tetap mampu beradaptasi bahkan berprestasi.

”Tinggal lagi, bagaimana anak FS nanti juga punya kesungguhan hati untuk membayar jasa Kak Seto. Yaitu, dengan menjadi polisi sahabat anak. Ini sesuai dengan salah satu kampanye Kak Seto dan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), yaitu Polsana,” papar Reza.

”Lain hal, saya bertanya-tanya, kelak jika bertemu Richard Eliezer, apa yang akan anak FS katakan? Toh, hitung-hitungan di atas kertas, anak FS akan selalu berpangkat lebih tinggi daripada RE. RE yang notabene dipaksa menjadi eksekutor untuk menghabisi mendiang Josua Hutabarat,” tambah Reza.

Selain itu, bagaimana pula sikap anak FS, selaku insan Tribrata yang bertugas melayani-melindungi-mengayomi, terhadap keluarga mendiang Josua. Menurut Reza, sangat elok jika Polri mempertimbangkan untuk menugaskan anak FS agar bisa melayani masyarakat di wilayah tempat keluarga mendiang Josua.

”Siapa tahu restorative justice yang hakiki akan berlangsung di situ. Yaitu, anak FS menjadi perpanjangan tangan orang tuanya yang sempat meminta maaf ke keluarga mendiang Josua,” ucap Reza Indragiri Amriel.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore