Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Juli 2023 | 19.46 WIB

Sebelum Mutilasi Sleman, Inilah Kasus Mutilasi Pertama di Indonesia yang Hingga Kini Masih Misteri

2 pelaku mutilasi Sleman (kiri) dan korban (kanan). (Istimewa) - Image

2 pelaku mutilasi Sleman (kiri) dan korban (kanan). (Istimewa)

JawaPos.com - Saat ini publik Tanah Air sedang dihebohkan dengan kasus 'mutilasi Sleman' yang menimpa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Redho Tri Agustian. Banyak spekulasi yang muncul tentang motif dari kasus ini. Kabar baiknya, polisi sudah berhasil menangkap pelaku.

Namun tahukah kamu, jauh sebelum kasus mutilasi di Sleman, ada kasus mutilasi yang pernah menghebohkan Indonesia dan belum terpecahkan. Kasus ini menjadi kasus mutilasi pertama di Indonesia. Ia disebut sebagai 'Setiabudi 13'.
 
Dirangkum dari berbagai sumber, kasus Setiabudi 13 merupakan kasus pembunuhan mutilasi yang pertama kali terjadi di Indonesia, pembunuhan ini menimpa seorang pria pada tanggal 23 November 1981, di trotoar jalan Jendral Sudirman, Setiabudi, Jakarta.
 
Kasus ini terbilang sangat misterius. Sebab pria tak bernyawa itu ditemukan dengan tubuh terpotong sebanyak 13 bagian dan hingga hari ini pihak kepolisian belum mampu menangkap pelakunya. 
 
Dalam kronologi pengungkapan kasus ini, pada pagi hari, dua orang satpam dari kantor PT Garuda Mataram Motor, menemukan dua kardus aneh yang terletak di trotoar jalan Sudirman pada tanggal 23 November 1981. Kardus-kardus aneh itu tampak dikeremuni oleh lalat dan dari arahnya tercium bau busuk.
 
Satpam itu langsung melaporkan hal itu kepada seorang petugas polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Namun karena sedang sibuk, kardus-kardus itu pun dibiarkan begitu saja hingga akhirnya dua orang gelandangan melintas ke tempat itu. 
 
Kedua gelandangan itu lalu membuka kardus tersebut, tak disangka-sangka kardus pertama berisi 13 potongan tulang serta sebuah kepala. Pada kardus kedua ditemukan potongan daging manusia yang meliputi, hati, paru-paru dan limpa.
 
Selain itu, untuk bagian tubuh seperti kandung kemih, anus hingga pankreas tidak ditemukan. Menurut ahli forensik, Mun'im Idris yang memimpin proses autopsi, kasus ini menjadi kasus bengis dan berkesan dalam hidupnya, sebab tubuh korban dipotong-potong seperti kambing guling.
 
Berdasarkan penyelidikan kepolisian setelah hasil autopsi dikeluarkan, pria tanpa identitas itu ditaksir berusia 18-21 tahun, tinggi badan 165 cm, dan berbadan gemuk. Korban diperkirakan tewas sekitar 1-2 hari sebelum mayatnya ditemukan.
 
Dugaan dari kepolisian, kemungkinan pelaku yang melakukan mutilasi itu berjumlah lebih dari satu orang. Pada waktu itu, wajah dan sidik jari dari korban masih utuh, sehingga kepolisian masih mampu menggambar sketsa dari korban untuk kemudian disebarkan ke publik.
 
Ratusan orang yang merasa kehilangan anggota keluarganya kemudian berdatangan untuk mencocokkan identitas mereka masing-masing dengan korban. Meskipun sudah dilakukan penyelidikan mendalam serta proses identifikasi, sayangnya pihak kepolisian belum mampu menangkap pelaku dan mengungkap identitas dari korban mutilasi itu.
 
Korban pun akhirnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU), Kalideres, Jakarta Barat pada tanggal 27 November 1981. Hingga hari ini, sudah 42 tahun berlalu dan kasus ini masih menjadi misteri bagi masyarakat Indonesia.
 
Keterbatasan teknologi menjadi kendala penyelidikan waktu itu. Polisi membeberkan bahwa dugaan sementara pembunuhan adalah balas dendam.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore