Ilustrasi: Hewan ternak sapi dapat menjadi perantara penyebaran wabah antraks.
JawaPos.com - Kasus penyakit antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tampaknya memang cukup parah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Direktur Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan, sejak lima tahun terakhir kasus positif antraks di Yogyakarta terus ada.
"Paling tinggi di tahun 2019 dengan 31 kasus. Kemudian 2022 cukup tinggi 23, dan baru pada tahun 2023 ini ada 3 kematian,". ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/7).
Senada dengan Imran, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementerian Pertanian Nuryani Zaenuddin mengatakan, di Gunungkidul sendiri, wilayah tersebut sudah menjadi endemi antraks.
"Saat endemis anthraks tidak dilakukan penanganan secara baik di tanah, lingkungan, maka ini akan terus berlanjut kasusnya," kata Nuryani.
Di tahun 2019, ia mengatakan bahwa kasus antraks ditemukan di Dukuh Grogol IV, Desa Bejiharjo, Kepanewon. Meski pihaknya sudah melakukan vaksinasi terhadap hewan-hewan rentan, tetapi kasus antraks masih terjadi.
"Karena terbentuk spora di tanah dan adanya faktor risiko purak saat ada hewan mati dan dibagi-kan kepada tetangga, sehingga memunculkan risiko antraks yang begitu cepat kasusnya di manusia," pungkas Nuryani.
Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menjelaskan kronologis penyakit antraks yang menyebabkan tiga orang tewas di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Imran menuturkan, awal kejadian ini adalah saat ada kasus kematian sapi dan kambing milik warga berinisial KR di Gunungkidul pada 18 Mei lalu. Usai ditemukan mati, warga justru malah menyembelih dan membagikan dagingnya kepada warga untuk dikonsumsi.
"Jadi ini yang menjadi salah satu penyebab penyebarannya," kata Imran kepada wartawan, Kamis (6/7).
Dalam proses penyembelihan sapi yang sudah mati itu, ada seorang warga berinisial WP yang ikut terlibat dan kemudian menjadi pasien yang positif Antraks.
"Tanggal 1 Juni WP masuk ke rumah sakit dengan keluhan gatal-gatal, bengkak, dan luka. Waktu diperiksa ada sampel-nya positif spora antraks dari tanah tempat penyembelihan sapi tadi," ungkap Imran.
Dua hari berlalu, WP kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito. Di sana, ia diambil sampel darah dan dinyatakan suspek antraks.
"Tanggal 4 Juni WP meninggal," ucap Imran.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
