Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 06.03 WIB

Kasus Antraks di Gunungkidul Sudah Tinggi Sejak 5 Tahun Lalu

Ilustrasi: Hewan ternak sapi dapat menjadi perantara penyebaran wabah antraks.

JawaPos.com - Kasus penyakit antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tampaknya memang cukup parah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Direktur Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan, sejak lima tahun terakhir kasus positif antraks di Yogyakarta terus ada.

"Paling tinggi di tahun 2019 dengan 31 kasus. Kemudian 2022 cukup tinggi 23, dan baru pada tahun 2023 ini ada 3 kematian,". ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/7).

Senada dengan Imran, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementerian Pertanian Nuryani Zaenuddin mengatakan, di Gunungkidul sendiri, wilayah tersebut sudah menjadi endemi antraks.

"Saat endemis anthraks tidak dilakukan penanganan secara baik di tanah, lingkungan, maka ini akan terus berlanjut kasusnya," kata Nuryani. 

Di tahun 2019, ia mengatakan bahwa kasus antraks ditemukan di Dukuh Grogol IV, Desa Bejiharjo, Kepanewon. Meski pihaknya sudah melakukan vaksinasi terhadap hewan-hewan rentan, tetapi kasus antraks masih terjadi.

"Karena terbentuk spora di tanah dan adanya faktor risiko purak saat ada hewan mati dan dibagi-kan kepada tetangga, sehingga memunculkan risiko antraks yang begitu cepat kasusnya di manusia," pungkas Nuryani.

Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menjelaskan kronologis penyakit antraks yang menyebabkan tiga orang tewas di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Imran menuturkan, awal kejadian ini adalah saat ada kasus kematian sapi dan kambing milik warga berinisial KR di Gunungkidul pada 18 Mei lalu. Usai ditemukan mati, warga justru malah menyembelih dan membagikan dagingnya kepada warga untuk dikonsumsi.

"Jadi ini yang menjadi salah satu penyebab penyebarannya," kata Imran kepada wartawan, Kamis (6/7).

Dalam proses penyembelihan sapi yang sudah mati itu, ada seorang warga berinisial WP yang ikut terlibat dan kemudian menjadi pasien yang positif Antraks.

"Tanggal 1 Juni WP masuk ke rumah sakit dengan keluhan gatal-gatal, bengkak, dan luka. Waktu diperiksa ada sampel-nya positif spora antraks dari tanah tempat penyembelihan sapi tadi," ungkap Imran.

Dua hari berlalu, WP kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito. Di sana, ia diambil sampel darah dan dinyatakan suspek antraks.

"Tanggal 4 Juni WP meninggal," ucap Imran.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore