Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juli 2023 | 23.29 WIB

Dua Cara Penyakit Antraks Menyebar ke Manusia

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menyatakan Wolbachia merupakan suatu inovasi teknologi yang ramah dan berkelanjutan untuk melawan penyakit dengue. - Image

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menyatakan Wolbachia merupakan suatu inovasi teknologi yang ramah dan berkelanjutan untuk melawan penyakit dengue.

JawaPos.com - Direktur Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan bahwa penyakit antraks mudah menyebar melalui beberapa media. Diketahui bahwa penyakit ini telah menyerang daerah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogjakarta dan menyebabkan tiga warga meninggal dunia. 

Imran menjelaskan, penyakit antraks disebabkan oleh bakteri B.anthracis yang kemudian bakteri itu berubah menjadi spora saat berada di tanah. Di dalam tanah, spora bakteri itu bertahan hingga lebih dari 40 tahun.
 
"Spora ini bisa masuk ke manusia, kemudian masuk lewat luka pada tubuh, makan dan minum dengan kandungan spora tadi," ujarnya kepada wartawan, Kamis (6/7).
 
 
Adapun bakteri itu kemudian menyebar ke hewan seperti sapi dan kambing yang mengkonsumsi bakteri itu lewat tanah. Kemudian, bisa menyebar ke manusia lantaran daging hewan itu juga dimakan manusia.
 
"Bakteri ini bisa dimakan oleh hewan, di mana nanti hewan yang sakit dagingnya dikonsumsi oleh manusia," terangnya.
 
Dengan begitu, Imran memaparkan ada dua cara bakteri itu masuk hingga penyakit antraks menyebar ke manusia. Pertama, dengan langsung dari tanah yang ada spora di dalamnya. Kedua adalah dengan mengkonsumsi hewan yang memakan spora tersebut.
 
 
"Jadi ada dua, bisa langsung dari tanah yang ada sporanya, bisa juga masuk melalui hewan nanti sakit dan dikonsumsi daging ke manusia," ungkapnya.
 
"Pada saat hewannya mati, sporanya juga dikubur akan masuk lagi. Jadi butuh penanganan yang lebih intensif lagi," pungkas Imran.
 
Sebelumnya, Direktur Pencegahan dan Penanganan Penyakit Menular (P2P) Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menjelaskan kronologis penyakit antraks yang menyebabkan tiga orang tewas di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogjakarta.
 
 
Imran menuturkan, awal kejadian ini adalah saat ada kasus kematian sapi dan kambing milik warga berinisial KR di Gunung Kidul pada 18 Mei lalu. Usai ditemukan mati, warga justru malah menyembelih dan membagikan dagingnya kepada warga untuk dikonsumsi.
 
"Jadi ini yang menjadi salah satu penyebab penyebarannya," kata Imran kepada wartawan, Kamis (6/7).
 
Dalam proses penyembelihan sapi yang sudah mati itu, ada seorang warga berinisial WP yang ikut terlibat dan kemudian menjadi pasien yang positif antraks.
 
 
"Tanggal 1 Juni WP masuk ke rumah sakit dengan keluhan gatal-gatal, bengkak, dan luka. Waktu diperiksa ada sampel-nya positif spora antraks dari tanah tempat penyembelihan sapi tadi," ungkap Imran.
 
Dua hari berlalu, WP kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito. Di sana, ia diambil sampel darah dan dinyatakan suspek antraks.
 
"Tanggal 4 Juni WP meninggal," ucap Imran.
Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore