
Nur Rizki Syafi thri
Bukan hanya pria yang hobi menunggangi motor berkapasitas besar. Beberapa kaum hawa di Kota Delta juga menggandrungi moge. Mereka tidak hanya membonceng suami, tetapi juga mengendarai sendiri saat perjalanan jauh.
NUR Rizki Syafithri mengatakan sudah lama akrab dengan motor cowok. Tepatnya, sejak dirinya masih duduk di kelas I SMPN 2 Gedangan. Saat itu perempuan kelahiran Sidoarjo, 19 Juni 1986, tersebut belajar motor Yamaha RX-King milik ayahnya. Perempuan yang akrab disapa Cici itu juga merasa nyaman mengendarai motor berkopling tersebut. ’’Pertama belajar motor dulu sebenarnya belajar motor bebek, tapi ternyata lebih tertarik pada motor cowok,’’ terang Cici.
Seiring berjalannya waktu, meski suka motor laki, Cici belum memilikinya. Tidak tebersit dalam pikirannya bergabung dengan klub motor. Namun, sejak menikah dengan Fahruddin Ulwy, minat Cici kembali muncul. Apalagi, suaminya juga tertarik dengan motor besar. ’’Saat hamil, saya malah pengin motor,’’ ucapnya, lantas tertawa.
Ternyata harapan Cici untuk punya motor besar kesampaian. Dia dan suami membeli motor Kawasaki berkapasitas 250 cc. Saat pergi lumayan jauh, motor kesayangan itu yang mereka pakai. ’’Suami juga gabung di klub motor GENSC (Generation Ninja 250 up Surabaya Community),’’ katanya.
Ibunda Audrey Zahira Ulwy itu mengungkapkan, dulu saat touring dirinya hanya membonceng suami. Keinginan menyetir sendiri pun semakin memuncak. Hasrat tersebut membuat dia membeli motor baru dengan kapasitas mesin 600 cc. ’’Punya motor baru sudah pasti jadi lebih sering touring, tapi selalu didampingi suami,’’ ucap perempuan yang juga hobi memasak dan bernyanyi tersebut.
Meski memiliki dua motor besar, Cici tidak selalu menggunakannya. Motor-motor itu khusus dipakai untuk perjalanan jauh. Perjalanan terjauhnya adalah Ponorogo. ’’Kalau ke pasar ya pakai motor matik,’’ ujarnya.
Cici mengatakan suka dengan motor gede karena sensasi menungganginya. Khususnya, semakin kencang laju motor gede malah semakin enteng. ’’Terus juga pakai motor gede itu kelihatan mbois, keren,’’ tambahnya.
Paling kencang, Cici pernah mengendarai motornya dengan kecepatan 180 km/jam saat perjalanan menuju Madura. ’’Saya gas terus saja, eh kecepatannya sudah 180 km/jam nggak terasa. Setelah tahu, baru agak saya pelankan,’’ terang ibu satu anak itu.
Karena hobinya menggunakan motor besar tersebut, Cici pernah dikira sebagai cowok. Cici bercerita, saat itu ada pria bermobil di depan yang menghalanginya. Namun, pria tersebut malah tidak mau minggir. Pria itu terlihat hendak marah karena tidak terima. ’’Untung, nggak jadi marah saat tahu bahwa saya cewek,’’ terang Cici.
Menggunakan motor untuk perjalanan jarak jauh sudah pasti membutuhkan daya tahan tubuh ekstra. Untuk menjaga kesehatannya itu, Cici menyiasatinya dengan rutin melakukan senam. Meregangkan otot-ototnya sehingga tidak mudah capek saat berkendara. ’’Cukup dengan senam saja,’’ ujarnya. (uzi/c7/dio/sep/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
