Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Agustus 2017 | 02.18 WIB

Pakar IT: Memperjelas CCTV Penyiraman Novel Sama Saja Merekayasa Video

Pakar IT sekaligus juga praktisi keamanan internet, Nathan Gusti Ryan. - Image

Pakar IT sekaligus juga praktisi keamanan internet, Nathan Gusti Ryan.

JawaPos.com - Sayembara yang digelar PP Muhammadiyah soal memperjelas CCTV penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, mendapat tanggapan dari pakar IT. Secara logika, perlombaan itu tidak umum. Memperjelas sebuah rekaman CCTV berarti merekayasanya video itu.

Kepada JawaPos.com, pakar IT yang juga praktisi keamanan internet, Nathan Gusti Ryan mengatakan, bahwa mustahil untuk memperjelas rekaman CCTV.

Menurutnya, untuk memperjelas sebuah gambar bergerak perlu efek editing. "Sama seperti foto, kalau diperjelas berarti menambahkan efek colouring, pencahayaan, dan sebagainya. Berarti kalau seperti itu merekayasa gambar," jelasnya Selasa petang (15/8).

Nathan memaparkan, kualitas video yang direkam oleh DVR itu bergantung pada pengaturan pada CCTV dan sistem recording pada DVR. Sehingga, hasil rekaman yang tersimpan pada DVR itu sudah fix video alias statis.

"Nah, kalau memperjelas (size video, ketajaman video ) menjadi lebih daripada video aslinya maka itu merupakan rekayasa atau manipulasi yang berdasar pada imajinasi pembuatnya," lanjut pria bernama asli M. Imam Sobari tersebut.

Menurut Nathan, sah-sah saja sebenarnya bila ada pihak yang mengadakan perlombaan semacam itu. Namun perlu diperjelas, motivasi mengadakan sayembara memperjelas CCTV.

“Apalagi ini menyangkut isu yang sensitif, CCTV penyiraman air keras terhadap Novel,” imbuhnya.

Pria yang juga pernah menganalisa video keberadaan mantan Kabareskrim Susno Duadji saat menjadi buronan Kejaksaan itu melanjutkan, kalau memang tujuannya sekadar hiburan tidak jadi masalah.

"Tapi kalau untuk kepentingan proses hukum sangat riskan. Kalau (CCTV) sudah diperjelas sudah tidak otentik lagi," katanya.

Jika hasil lomba itu digunakan penegak hukum untuk memburu pelaku penyiraman, bukan tidak mungkin menjadi bumerang sendiri. Sebab, pelakunya malah bisa melarikan diri atau menyembunyikan diri.

“Dengan gambar rekayasa yang lebih detail, pelaku bisa jadi ambil jarak. Bisa jadi kabur ke luar negeri atau yang lebih ekstrem pelakunya operasi plastik," tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, membuat suatu sayembara.

Sayembara itu, membuka kesempatan kepada siapapun yang bisa memperjelas CCTV penyiraman Novel Baswedan. Ketua PP Pemudah Muhammadiyah, Dahnil Anzar Sumanjuntak mengatakan pihaknya ingin membantu kepolisian untuk memperjelas rekaman CCTV yang buram di lokasi penyiraman.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore