
Pakar IT sekaligus juga praktisi keamanan internet, Nathan Gusti Ryan.
JawaPos.com - Sayembara yang digelar PP Muhammadiyah soal memperjelas CCTV penyiraman air keras terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan, mendapat tanggapan dari pakar IT. Secara logika, perlombaan itu tidak umum. Memperjelas sebuah rekaman CCTV berarti merekayasanya video itu.
Kepada JawaPos.com, pakar IT yang juga praktisi keamanan internet, Nathan Gusti Ryan mengatakan, bahwa mustahil untuk memperjelas rekaman CCTV.
Menurutnya, untuk memperjelas sebuah gambar bergerak perlu efek editing. "Sama seperti foto, kalau diperjelas berarti menambahkan efek colouring, pencahayaan, dan sebagainya. Berarti kalau seperti itu merekayasa gambar," jelasnya Selasa petang (15/8).
Nathan memaparkan, kualitas video yang direkam oleh DVR itu bergantung pada pengaturan pada CCTV dan sistem recording pada DVR. Sehingga, hasil rekaman yang tersimpan pada DVR itu sudah fix video alias statis.
"Nah, kalau memperjelas (size video, ketajaman video ) menjadi lebih daripada video aslinya maka itu merupakan rekayasa atau manipulasi yang berdasar pada imajinasi pembuatnya," lanjut pria bernama asli M. Imam Sobari tersebut.
Menurut Nathan, sah-sah saja sebenarnya bila ada pihak yang mengadakan perlombaan semacam itu. Namun perlu diperjelas, motivasi mengadakan sayembara memperjelas CCTV.
“Apalagi ini menyangkut isu yang sensitif, CCTV penyiraman air keras terhadap Novel,” imbuhnya.
Pria yang juga pernah menganalisa video keberadaan mantan Kabareskrim Susno Duadji saat menjadi buronan Kejaksaan itu melanjutkan, kalau memang tujuannya sekadar hiburan tidak jadi masalah.
"Tapi kalau untuk kepentingan proses hukum sangat riskan. Kalau (CCTV) sudah diperjelas sudah tidak otentik lagi," katanya.
Jika hasil lomba itu digunakan penegak hukum untuk memburu pelaku penyiraman, bukan tidak mungkin menjadi bumerang sendiri. Sebab, pelakunya malah bisa melarikan diri atau menyembunyikan diri.
“Dengan gambar rekayasa yang lebih detail, pelaku bisa jadi ambil jarak. Bisa jadi kabur ke luar negeri atau yang lebih ekstrem pelakunya operasi plastik," tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, membuat suatu sayembara.
Sayembara itu, membuka kesempatan kepada siapapun yang bisa memperjelas CCTV penyiraman Novel Baswedan. Ketua PP Pemudah Muhammadiyah, Dahnil Anzar Sumanjuntak mengatakan pihaknya ingin membantu kepolisian untuk memperjelas rekaman CCTV yang buram di lokasi penyiraman.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
