Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Juli 2025 | 03.40 WIB

Review Jurassic World: Rebirth yang Dinilai Penuh dengan CGI hingga Minim Ketegangan dan Pengembangan Karakter

Scarlett Johansson dan Jonathan Bailey dalam Jurassic World: Rebirth. (IMDb) - Image

Scarlett Johansson dan Jonathan Bailey dalam Jurassic World: Rebirth. (IMDb)

JawaPos.com – Film “Jurassic World: Rebirth” garapan sutradara Gareth Edwards mencoba menghidupkan kembali waralaba dinosaurus ikonik yang telah kehilangan arah sejak trilogi keduanya.

Meski menyandang status film yang berdiri sendiri, kehadirannya tetap tidak mampu menyamai kejayaan film “Jurassic Park” pertama karya Steven Spielberg.

Dilansir dari laman Indie Wire pada Rabu (2/7), Cerita “Rebirth” berlatar 32 tahun setelah kemunculan kembali dinosaurus, dengan latar dunia di mana manusia telah kehilangan ketertarikan terhadap makhluk purba tersebut.

Namun, ambisi perusahaan farmasi ParkerGenix untuk mengeksploitasi darah dinosaurus demi obat jantung, menjadi pemicu konflik baru di pulau peninggalan InGen.

Scarlett Johansson memerankan Zora Bennett, pemimpin misi pencarian darah tiga spesies dinosaurus.

Bersama timnya yang beragam termasuk Mahershala Ali dan Jonathan Bailey mereka harus menghadapi bahaya dari makhluk purba yang belum dijinakkan di pulau tersebut. Misi yang tampaknya mulia justru membuka bencana baru.

Kehadiran dinosaurus baru bernama Distortus Rex menjadi daya tarik utama film ini. Namun, desain dan dampak karakter tersebut dianggap tidak berkesan.

Kritikus mencatat bahwa makhluk tersebut kurang meninggalkan kesan mendalam, bahkan dengan efek CGI canggih yang digunakan dalam produksinya.

Film ini juga dikritik karena terlalu bergantung pada nostalgia tanpa menawarkan inovasi berarti. Beberapa adegan seperti penghormatan kepada pertemuan di dapur dari film pertama justru dinilai melemahkan upaya film ini untuk berdiri sendiri.

Referensi berlebihan malah menegaskan betapa sulitnya film ini lepas dari bayang-bayang masa lalu. Meskipun Edwards memiliki rekam jejak mengesankan lewat film “Godzilla”, “Rebirth” dianggap tidak menampilkan ciri khas penyutradaraannya.

Karakter-karakter dalam film ini dinilai hampa secara emosional dan sulit membuat penonton peduli pada nasib mereka, kendati visual efek dinosaurus tampil meyakinkan.

Dengan kekurangan pada sisi cerita dan emosi, “Jurassic World: Rebirth” tampak lebih sebagai upaya studio untuk mempertahankan waralaba daripada melanjutkan warisan sinematik yang kuat.

Film ini menegaskan bahwa tanpa evolusi yang berarti, bahkan waralaba sebesar “Jurassic” pun bisa menjadi fosil di mata penonton.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore