
Film live action Lilo & Stitch (Dok. IMDb)
JawaPos.com - Film Lilo and Stitch versi live-action resmi tayang di layar bioskop dan langsung mengundang perhatian. Baik dari penggemar setia versi animasinya maupun penonton baru. Film yang disutradarai oleh Dean Fleischer Camp itu mengangkat kembali kisah klasik Disney tahun 2002 dengan pendekatan yang lebih emosional dan kontekstual terhadap nilai keluarga, khususnya dalam budaya Hawaii.
Ceritanya masih berfokus pada Lilo Pelekai (Maia Kealoha), gadis kecil yang tinggal bersama kakaknya Nani (Sydney Agudong) setelah kehilangan orang tua. Hidup mereka berubah ketika Lilo mengadopsi Stitch, makhluk alien hasil eksperimen yang awalnya destruktif, tapi kemudian belajar mencintai dan menjaga melalui hubungan eratnya dengan Lilo.
“Film ini tetap mempertahankan inti cerita tentang ‘ohana—keluarga—tetapi dengan sudut pandang yang lebih relevan dengan realitas saat ini,” ujar Dean Fleischer Camp dalam wawancaranya bersama The Hollywood Reporter.
Beberapa elemen penting dari versi animasi diubah untuk memperkuat nuansa realistis. Captain Gantu dihilangkan, dan karakter Dr. Jumba Jookiba (diperankan Zach Galifianakis) kini menjadi antagonis utama dengan karakter yang lebih serius. Agen Pleakley (Billy Magnussen) tampil lebih kalem tanpa penyamaran komikal seperti di versi kartun.
Salah satu tambahan paling mencolok adalah karakter Tūtū (Amy Hill), tetangga yang menjadi figur nenek bagi Lilo. Karakter ini mewakili konsep hanai dalam budaya Hawaii—praktik pengasuhan oleh anggota komunitas. “Tūtū adalah bentuk penghormatan pada struktur keluarga di Hawaii yang tidak selalu biologis,” jelas produser Jonathan Eirich.
Namun, perubahan terbesar dan paling kontroversial ada pada akhir cerita. Di versi live-action, Nani memutuskan untuk kuliah ke California, sedangkan Lilo tetap tinggal bersama Tūtū di Hawaii. Banyak penggemar menganggap akhir ini bertentangan dengan pesan asli film, yakni bahwa keluarga tidak meninggalkan siapa pun.
“Kami ingin memberi ruang pada karakter Nani untuk berkembang secara pribadi, tanpa menghilangkan nilai keluarga yang kuat dalam komunitasnya,” jelas Eirich dalam wawancara bersama Collider.
Pengembangan film ini sebenarnya telah diumumkan sejak Oktober 2018. Pengambilan gambar utama dimulai pada April 2023 dan berlangsung hingga Juli 2023. Proses produksi kemudian dilanjutkan pada awal tahun berikutnya, yakni Februari hingga Maret 2024.
Secara visual, film ini menggunakan teknologi CGI untuk menampilkan Stitch dengan tampilan yang lebih realistis. Meski ada penyesuaian bentuk, suara khas Stitch tetap diisi oleh Chris Sanders, pengisi suara aslinya di film animasi sehingga memberi rasa nostalgia bagi penonton lama.
Dari sisi musikal, Lilo & Stitch live action tetap mempertahankan lagu-lagu ikonik seperti “Hawaiian Roller Coaster Ride” dan “Aloha ʻOe” serta menyelipkan aransemen baru yang dibawakan musisi lokal Hawaii, memberikan nuansa budaya yang lebih autentik.
Pemeran utama, Maia Kealoha, mengungkapkan kebahagiaannya memerankan Lilo. “Saya sangat senang bisa menjadi bagian dari film ini dan menunjukkan budaya Hawaii kepada dunia," ungkapnya dalam wawancara dengan IMDb.
Film ini mendapat pujian karena berhasil menyampaikan pesan universal tentang keluarga, kehilangan, dan penerimaan, dengan pendekatan yang lebih dewasa. Memberikan pengalaman emosional yang segar, walau tetap mengundang diskusi soal bagaimana seharusnya sebuah kisah klasik diadaptasi.
Live-action Lilo & Stitch sudah bisa disaksikan di bioskop sejak 23 Mei 2025 dan akan tersedia untuk streaming melalui Disney+ setelah pemutarannya di bioskop.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
