
Final Destination Bloodlines. (Warner Bros.)
JawaPos.com - Kematian adalah keniscayaan yang akan hadir dalam beragam bentuk untuk mengakhiri perjalanan hidup manusia, tidak peduli sekeras dan secerdas apapun ia diakali dan dicurangi. Kurang lebih, seperti itulah premis dari lima franchise film horor Final Destination yang tayang dalam rentang waktu tahun 2000 hingga 2011 silam.
Empat belas tahun kemudian, formula yang sama masih digunakan dalam seri keenam dari film tersebut yang berjudul Final Destination Bloodlines.
Bagi Anda yang menggandrungi franchise ini atau sudah menonton setidaknya dua film terdahulunya, formula yang digunakan masih sama persis:
Seseorang yang sedang berada di tengah keramaian tiba-tiba mendapat pengelihatan bahwa akan terjadi bencana hebat yang menewaskan dirinya dan orang-orang di situ. Setelah tersadar, sang lakon lalu berusaha memperingatkan orang lain untuk segera menyelamatkan diri, sebelum akhirnya bencana tersebut benar-benar terjadi. Berbekal visi yang ia dapat, sang lakon utama dan beberapa orang lain berhasil menyelamatkan diri, tanpa menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah mengakali Sang Maut. Dari situ lah kemudian Kematian mulai 'merancang' cara-cara yang tak lazim untuk mengambil nyawa orang-orang yang seharusnya mati tersebut.
Lantas, apa yang masih membuat franchise film ini menarik? Jawabannya jelas adalah rasa tegang dan kengerian dari proses tewasnya para pemeran. Final Destination Bloodlines menunjukkan bahwa franchise ini masih mampu membuat para penontonnya bergidik dan overthinking dalam melakukan hal-hal sederhana.
Final Destination Bloodlines dimulai dengan latar di tahun 1968 ketika seorang gadis bernama Iris Campbell (Brec Bassinger) mendadak mendapat wahyu bahwa gedung pencakar langit tempat ia berada akan runtuh dan menewaskan seluruh semua orang di dalamnya.
Pengelihatan Iris ini rupanya hadir di mimpi cucunya, Stefani Reyes (Kaitlyn Santa Buana) yang hidup 56 tahun dari kejadian horor tersebut.
Penasaran, Stefani pun berusaha mencari tahu maksud dari pengelihatan tentang neneknya itu ke keluarga dan sanak saudaranya. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban, Stefani justru diwanti-wanti untuk tidak mengungkit segala hal tentang Iris dan visinya itu.
Tidak mengindahkan peringatan keluarganya, Stefani terus menggali masa lalu neneknya hingga ia menemukan bahwa Iris masih hidup dan tengah mengasingkan diri di tengah hutan. Stefani pun berangkat menemui sang nenek, tanpa mengetahui bahwa Sang Maut sudah mulai mengintai nyawanya dan seluruh sanak saudaranya.
Disutradarai Zach Lipovsky dan Adam Stein, Final Destination Bloodlines kembali mengingatkan betapa mengerikannya franchise ini. Keseruan Final Destination Bloodlines juga dipertebal dengan betapa mengenaskannya para pemeran yang terlibat mati satu per satu dengan cara yang semakin ekstrim.
Yang menarik, film ini juga sama sekali tidak disensor, yang artinya Final Destination Bloodlines sama sekali tidak memperhalus 'pemandangan-pemandangan' seperti mulut tertembus besi, tubuh anak kecil hancur berantakan tertimpa piano, hingga tubuh manusia yang terlipat-lipat lantaran tersedot mesin MRI di rumah sakit.
Sama seperti lima film sebelumnya, Final Destination Bloodlines juga punya kekurangan dari sisi kekuatan plot cerita dan kualitas akting. Namun, rasanya hampir mustahil penonton franchise ini rela membayar tiket bioskop untuk semata-mata mencari kedalaman akting dan plot yang solid. Bagi para penikmat horor dan gore, dua elemen negatif di atas tentu saja tidak relevan untuk diperdebatkan.
Secara keseluruhan, Final Destination Bloodlines adalah tontonan seru yang bisa memacu adrenalin dan membuat para penontonnya terngiang-ngiang akan hal-hal sederhana yang bisa berujung hilangnya nyawa. Buang jauh-jauh logika dan akal sehat jika Anda mau menikmati film ini dengan maksimal, karena Final Destination Bloodlines adalah film brutal dan tak masuk akal.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
