Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 Desember 2023 | 02.07 WIB

Napoleon: Potret Hidup Sang Jenderal Nyentrik nan Melankolis dari Prancis yang Sedikit Melenceng dari Rekam Jejak Historis

Joaquin Phoenix sebagai Napoleon Bonaparte dalam film - Image

Joaquin Phoenix sebagai Napoleon Bonaparte dalam film

JawaPos.com - Napoleon Bonaparte adalah salah satu sosok besar dalam sejarah dunia. Dikenal sebagai jenderal perang Prancis di tahun 1799-1804 sebelum kemudian ditahabiskan sebagai kaisar di tahun 1804-1814 dan tutup usia di tahun 1821 dalam pengasingan, laki-laki yang kerap dijuluki sebagai Si Jenderal Pendek karena hanya memiliki tinggi badan 168 cm ini sudah menjalani berbagai peperangan besar dalam ambisinya menguasai seluruh Eropa.

Potret Napoleon kemudian direpresentasikan ke dalam sebuah film berjudul Napoleon oleh sutradara kenamaan Ridley Scott yang tersohor lewat franchise Alien.

Menggandeng aktor watak kawakan Joaquin Phoenix untuk memerankan Napoleon, film ini sebetulnya punya potensi yang sangat menjanjikan. Entah karena ekspektasi pribadi yang terlalu tinggi atau hal lainnya, Napoleon, sayangnya, hanya berakhir sebagai film biopik kolosal pada umumnya yang terkesan biasa saja.

Napoleon dimulai dari kondisi Revolusi Prancis, tepatnya saat Ratu Prancis terakhir, Marie Antoinette dihukum pancung di hadapan khalayak umum di tahun 1793. Napoleon (Phoenix), yang saat itu belum menjadi perwira tinggi di kemiliteran Prancis, ikut menyaksikan hal tersebut.

Adegan lalu berpindah sesuai urutan sejarah di mana Napoleon berhasil mengusir tentara Inggris dari Kota Toulon pada 1795 hingga perang terakhirnya di Waterloo pada 1815 menjelang masa-masa pengasingannya.

Pengembangan karakter Napoleon di luar medan tempur juga semakin tergali setelah ia menikahi istrinya, Josephine (Vanessa Kirby). Di sini, terlepas seberapa akurat penggambarannya, Ridley Scott menunjukkan kepada audiens bahwa di dalam istananya, Napoleon hanyalah seorang pria berhati rapuh, melankolis, haus akan seks, bahkan bucin bukan main.

Meski menyuguhkan sinematografi yang luar biasa dan penokohan yang apik, dari sudut pandang pribadi, harus diakui bahwa Napoleon bukanlah sebuah film yang menarik untuk disaksikan.

Dengan momen-momen bersejarah yang banyak ditorehkan Napoleon, Ridley Scott terlihat sekali berusaha memasukkan semua momen itu di dalam film yang berdurasi hampir 3 jam ini. Akhirnya, usaha ini justru membuat Napoleon menjadi film yang tidak fokus.

Penyuguhan karakter Napoleon sebagai pria yang kekanak-kanakan dan menjengkelkan yang sebetulnya sangat menarik disaksikan harus terus menerus terganggu dengan perpindahan adegan yang begitu jomplang dari hidup pribadi Napoleon ke hidupnya sebagai seorang militer yang juga berpolitik demi mendapatkan kekuasaan di Prancis.

Hingga titik tertentu, perpindahan adegan yang begitu lompat-lompat ini mendatangkan rasa bosan dan rasa kantuk. Yang lebih disayangkan, pola ini membuat akting dan chemistry Joaquin Phoenix dan Vanessa Kirby yang begitu dalam dan ciamik ikut menjadi korban karena pemeranan watak mereka harus berubah secara dinamis mengikuti timeline.

Film ini mungkin bisa jadi lebih menarik jika Ridley Scott memilih satu titik fokus kejadian, di mana karakter Napoleon dan seluruh tokoh pendukungnya bisa dieksploitasi habis-habisan tanpa membuat penonton bingung.

Jalan cerita yang melenceng dari fakta sejarah demi hiburan semata juga menjadi nilai minus film ini. Formula ini memang sudah kerap digunakan untuk film-film biopik lainnya, namun dalam kasus Napoleon, ada momen-momen yang rasanya terlalu dipelintir berlebihan demi memanjakan mata penonton.

Kehadiran Napoleon di pemenggalan Ratu Marie Antoinette adalah salah satunya. Sejarah tidak pernah mencatat keberadaan Napoleon di peristiwa itu, karena sejatinya Napoleon sedang sibuk berperang di Kota Toulon.

Salah satu adegan lebay lainnya adalah ketika Napoleon menembakkan meriam ke pucuk Piramida Mesir saat sedang berperang di sana. Meski peristiwa peperangannya betul terjadi, kejadian itu sama sekali tidak terekam secara historis.

Twist seperti ini memang lumrah terjadi di film-film Hollywood atas nama entertainment, namun bagi mereka yang memelajari sejarah dengan runut, hal-hal seperti ini tak bisa dipungkiri sangat mengganggu.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore