Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Maret 2022 | 00.48 WIB

Bridgerton 2 yang Makin Kompleks, Bawa Pesan Isu Feminisme

Bridgerton 2. (Netflix) - Image

Bridgerton 2. (Netflix)

Sejak Rege-Jean Page, pemeran Duke of Hastings, mundur dari Bridgerton, fans mulai panik. Mereka khawatir sekuel Bridgerton tidak lagi menarik tanpa wajah charming-nya. Namun, Bridgerton Season 2 dijanjikan berjalan mulus. Tentu saja, ada wajah-wajah baru yang menghiasi, misalnya Simone Ashley dan Charithra Chandran. Ceritanya semakin rumit, tapi seru.

---

DAPHNE dan suaminya, Simon Basset alias Duke of Hastings, telah menjalani hidup bahagia secara terpisah dari keluarga besar Bridgerton. Kini lampu sorot mengarah kepada Anthony (Jonathan Bailey), anak tertua di keluarga Bridgerton yang sekaligus memegang takhta sebagai Lord Bridgerton menggantikan mendiang ayahnya.

Anthony terus didesak oleh sang ibu, Lady Violet (Ruth Gemmel), untuk segera mencari cinta sejati. Demi mendapatkan yang terbaik, dia berikrar siapa pun gadis yang dipilih menjadi berlian oleh sang ratu (Golda Rosheuvel) akan dinikahinya. Gelar itu rupanya jatuh kepada Edwina Sharma (Chandran).

Seharusnya, Anthony bisa dengan mudah menikahi Edwina. Namun, dia terhalang oleh sosok kakak Edwina, Kate (Ashley) yang superprotektif. Awalnya, Anthony berusaha mengambil hati Kate agar merestuinya dengan Edwina. Namun tanpa disadari, Anthony justru jatuh cinta pada Kate.

’’Aku pikir Kate dan Anthony adalah cermin,’’ kata kreator Chris van Dusen kepada Jawa Pos pada Selasa (22/3). Sosok Kate mengingatkan pada Anthony yang sangat protektif terhadap Daphne di season pertama. Mereka sama-sama memikul tanggung jawab besar untuk memimpin keluarga. ’’Hal utama yang dieksplorasi dalam season ini adalah hati vs nafsu dan tugas vs cinta,’’ imbuhnya.

Bridgerton 2 terdiri atas banyak layer. Selain kisah Anthony dan Kate, juga dari karakter lainnya. Salah satunya sosok Lady Whistledown (Nicola Coughlan) yang kini mendapat lebih banyak porsi setelah penonton mengetahui bahwa dia adalah Penelope Featherington pada akhir season 1. Lady Whistledown alias Penelope mulai dihadapkan pada banyak masalah di season ini.

Mulai tulisannya yang dianggap membosankan, masalah keluarga yang dihadapinya, hingga identitasnya yang diketahui oleh sahabatnya sendiri, Eloise Bridgerton (Claudia Jessie).

’’Aku pikir Penelope melakukan tugasnya dengan baik dalam memisahkan pikirannya. Tapi ketika dia harus berhadapan dengan kebohongannya, dia benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapinya,’’ kata Coughlan kepada Jawa Pos pada Selasa (22/3) lalu.

Bridgerton lebih dari sekadar kisah cinta atau Gossip Girl versi era Regency. Serial tersebut membawa pesan feminisme yang semakin terasa kental pada season kedua ini. Misalnya, penggambaran karakter Eloise. Eloise tidak suka berdansa dan menghadiri pesta seperti kebanyakan perempuan seusianya. Dia lebih suka membaca dan menyuarakan feminisme dengan mendobrak stigma.

Lalu, ada Penelope yang memiliki side hustle demi menyalurkan hobi menulisnya. Tapi di sisi lain, Penelope juga ingin jatuh cinta dan menikah seperti kebanyakan perempuan lainnya. ’’Itu benar-benar sangat relateable dibandingkan kelihatannya,’’ kata Coughlan. Belum lagi kisah keluarga Featherington yang berjuang keras hidup mandiri setelah satu-satunya laki-laki di rumahnya, Lord Featherington, meninggal.

’’Yang aku suka dari serial ini adalah menampilkan banyak umur berbeda. Bukan hanya ada satu tipe perempuan di dalam satu tipe cerita. Itu mencakup semuanya,’’ ujarnya.

CHIT-CHAT DENGAN COGHLAN DAN DUSSEN

Pada Rabu (22/3) lalu Jawa Pos mendapat kesempatan berbincang langsung via Zoom dengan Nicola Coughlan, pemeran Penelope alias Lady Whistledown, dan Chris Van Dussen selaku kreator.

Apa alasan dipilihnya Simone Ashley untuk memerankan Kate?

’’Aku melihat keindahan Simone adalah dia memiliki kerapuhan di balik matanya yang membawa banyak lapisan, kompleksitas, dan nuansa pada karakter. Itu sangat menjadikannya Kate yang sempurna. Penampilannya di season ini sangat menonojol.’’

Season ini menampilkan lebih banyak scene pesta dansa, bagaimana menyiapkannya?

’’Para aktor melakukan boot camp intens sebelum syuting. Kami punya koreografer luar biasa, Jack Murphy, yang melatih seluruh gerakan para aktor. Bukan hanya dansa, tapi juga bagaimana cara para perempuan dan pria muda itu memasuki ruangan dan cara mereka berhadapan dengan sang ratu. Ini adalah seni.’’

Siapa Bridgerton favoritmu?

’’Sangat berat memilihnya. Aku pikir Collin dan Eloise, terutama Eloise karena aku cinta karakternya. Claudia memerankannya dengan sangat brilian. Dia sosok yang berterus terang dan memberi dorongan. Tidak mungkin tidak jatuh cinta dengannya.’’

Apa scene paling sulit di season 2?

’’Tentu saja ketika Penelope dan Eloise berargumen. Aku pikir kepedulian kami (Couglan dan Jessie, Red) terhadap karakter itu sangat dalam. Syuting scene itu sangat menguras emosi. Kamu tahu kamu tidak ingin melihat keduanya berargumen.’’

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore