Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 September 2020 | 19.43 WIB

Kesadaran Dokumentasi Literasi Belum Dipunyai Musisi Indonesia

LEGENDARIS: God Bless saat tampil pada Synchronize Festival di Jakarta. God Bless selalu berhasil mengundang puluh- an ribu pendengar dalam berbagai usia. Sayang, mereka tidak mendokumentasikan perjalanan karirnya dengan baik. (Miftahulhayat/Jawa Pos) - Image

LEGENDARIS: God Bless saat tampil pada Synchronize Festival di Jakarta. God Bless selalu berhasil mengundang puluh- an ribu pendengar dalam berbagai usia. Sayang, mereka tidak mendokumentasikan perjalanan karirnya dengan baik. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Verba volant, scripta manent. Petuah bijak dalam bahasa Latin yang umurnya berabad-abad itu nyatanya masih berlaku mutlak hingga saat ini. Yang terucap akan terlupakan. Yang tertulis akan abadi. Sialnya, dokumentasi musik tanah air kita tak banyak yang hadir dalam bentuk tulisan.

---

HARUS diakui, dalam pameran atau bazar buku di tanah air, para pengunjung akan lebih gampang menemukan buku biografi The Beatles, The Rolling Stones, Guns N’ Roses, atau nama band luar negeri lainnya. Ketimbang melihat biografi Godbless, Slank, atau band-band dalam negeri.

’’Kalau kami lihat toko buku di Singapura, buku Pearljam bisa sampai 25 judul. Itu artinya band ini mampu mentransformasikan spirit mereka ke ranah kreativitas lain,’’ kata Kimung, pencabik bas band metal asal Bandung Burgerkill.

Kimung termasuk dari sedikit musisi tanah air yang sadar bagaimana pentingnya mendokumentasikan kiprah bermusik. Tidak hanya melalui video dokumenter We Will Bleed, tetapi juga menghasilkan buku foto Burgerkill Spit The Venom dan biografi almarhum vokalis Burgerkill Ivan Scumbag. Buku berjudul My Self Scumbag: Beyond Life and Death yang rilis pada akhir 2007 bisa dikatakan jadi buku literasi sejarah underground pertama di Indonesia.

”Kesadaran melakukan dokumentasi literasi, baik melalui buku, video, maupun kumpulan foto, masih belum dipunyai musisi di Indonesia,” ucap Kimung. ”Band-band legendaris Indonesia seperti Godbless atau AKA akan sangat sulit dicari jejak dokumentasi literasinya,” tambah Kimung.

Wendi Putranto, salah seorang pengamat musik tanah air, menyatakan tidak mengerti alasan persis kenapa musisi di Indonesia enggan melakukan dokumentasi musik. Namun, asumsinya hal tersebut terjadi karena Indonesia tidak punya budaya ”mendokumentasi” sejak dulu. Atau, lebih dibesarkan oleh tradisi lisan dan bukan tulisan.

Karena itu, Wendi sangat salut kepada band-band yang berhasil menunjukkan artefak sejarahnya melalui dokumentasi. Sebab, musisi-musisi ini seperti melawan arus karena tidak ikut mereka yang menjadikan dokumentasi bukan prioritas utama dalam karir. Band-band seperti Superman is Dead, Endank Soekamti, dan Rocket Rockers, misalnya.

Wendi melanjutkan, dokumentasi musik adalah bagian sejarah dari perkembangan musik populer. Walaupun memang dampaknya tidak bisa dirasakan dalam waktu dekat. Dokumentasi literasi musik musisi-musisi ini akan sangat dirasakan dan berharga puluhan tahun ke depan. Bahkan, nilai jualnya juga sangat mahal nantinya.

Di sisi lain, penulis biografi SID Rudolf Dethu berkata biografi ditujukan untuk menunjukkan hal-hal tidak banyak diketahui publik. Urusan belakang layar ini bisa meluruskan berbagai isu buruk yang berkembang soal SID.

Sedangkan pemain bas Rocket Rockers Bisma Karisma menuturkan tujuan penulisan biografi band adalah untuk meluaskan basis penggemar. Baik dari kacamata kewilayahan. Maupun diversifikasi usia.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=n1W5ESTFAko

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore