
Photo
JawaPos.com - Sensor film kerap kali menjadi 'musuh' para moviegoer. Selain memotong adegan-adegan tertentu, sensor film juga kerap kali dilakukan di adegan kurang tepat yang berujung pada rusaknya jalan cerita. Film horror paling ditunggu tahun ini, Midsommar, mengalami hal teresebut.
Dibesut oleh sutradara Ari Aster yang namanya melejit lewat Hereditary, Midsommar yang sudah mengudara secara internasional pada 3 Juli lalu baru kebagian tayang di Tanah Air pada 12 September lalu setelah beberapa kali mundur karena masalah sensor. Alasan sensor film yang aslinya berdurasi 147 menit (171 menit dalam versi Director's Cut, Red) ini sebetulnya cukup manusiawi: Midsommar adalah film yang kelewat sadis.
Lewat proses sensor yang dilakukan Lembaga Sensor Film, Midsommar akhirnya tayang di Indonesia dengan durasi 138 menit, 9 menit lebih pendek dari durasi aslinya. Sayangnya, pemotongan ini membuat jalan cerita Midsommar menjadi cacat karena penonton tidak dapat menyaksikan beberapa adegan yang, mungkin, punya poin penting dalam cerita ini.
Midsommar bercerita tentang seorang gadis muda bernama Dani Ardor (Florence Pugh) yang tengah dilanda kesedihan dan depresi berat lantaran kematian keluarganya dan hubungannya yang rusak dengan sang pacar, Christian Hughes (Jack Reynor). Untuk memperbaiki hubungan sembari membuat Dani melupakan kesedihannya yang berlarut-larut, keduanya memutuskan pergi ke Desa Harga di Halsingland, Swedia bersama tiga kawan lain yakni Pelle (Vilhelm Blomgren), Mark (Will Poulter), dan Josh (William Jackson Harper).
Keberangkatan mereka ke Swedia sebetulnya merupakan undangan dari Pelle yang merupakan penduduk asli Desa Harga. Pelle mengajak keempat kawannya ke kampung halamannya itu untuk ikut serta dalam festival pertengahan musim panas selama 9 hari yang diadakan setiap 95 tahun sekali.
Tiba di Desa Harga, mereka langsung disambut ramah oleh warga setempat yang mengenakan pakaian serba putih di tengah hamparan padang rumput hijau yang sangat luas. Sayangnya, baik Dani, Christian, Mark, dan Josh tidak menyadari bahwa Pelle dan penduduk Desa Harga ternyata adalah sekelompok sekte yang tengah melangsungkan ritual tradisional sangat yang brutal.
Kehebatan Ari Aster dalam membuat sebuah film horror dengan jalan cerita yang lambat namun tidak membosankan layak diacungi jempol di film ini.
Lewat teknik pengambilan gambar yang apik dan iringan musik Bobby Krlic, Midsommar adalah film horror gaya baru yang bisa membuat para penonton yang tidak kuat mental mengalami trauma psikis. Walau menyuguhkan setting lokasi yang terang benderang serta penuh dengan warna-warni bunga, Ari Aster berhasil membuat para penontonnya merasa tidak nyaman sepanjang film berjalan.
Namun, kengerian yang dinantikan pada akhirnya justru hampir tidak terasa sama sekali karena banyaknya adegan yang disensor. Plot dan adegan yang terkesan lompat-lompat pun menjadi nilai minus utama Midsommar akibat sensor. Beberapa adegan yang butuh penjelasan visual akhirnya hilang begitu saja dan langsung berganti ke adegan berikutnya.
Adegan-adegan lain yang semestinya krusial tetapi harus kena sensor pun akhirnya cuma menyisakan tanda tanya. Tidak ada penggambaran detail bagaimana beberapa lakon utama tewas akibat kebengisan warga Desa Harga. Padahal, kesadisan perilaku para penduduk desa sejatinya merupakan jualan utama dari film ini.
Namun, tentu tidak adil jika melabeli Midsommar sebagai film horror medioker lantaran plot yang tidak jelas. Bagaimanapun, segala kekurangan dan ketidaksempurnaan film kedua Ari Aster ini adalah buntut kebijakan Lembaga Sensor Film. Meskipun tayang dengan sensor gila-gilaan, pada akhirnya Midsommar tetaplah sebuah film horror jempolan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
