Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 31 Juli 2019 | 19.28 WIB

Cerita Ayushita dan Adipati Dolken Tentang Film Perburuan

Pemain film Perburuan Ayushita yang berperan sebagai kekasih Hardo saat berkunjung ke Redaksi Jawa Pos di Jakarta, Senin (29/7/2019). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer ini berfokus pada kisah Hardo (diperankan Adipa - Image

Pemain film Perburuan Ayushita yang berperan sebagai kekasih Hardo saat berkunjung ke Redaksi Jawa Pos di Jakarta, Senin (29/7/2019). Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer ini berfokus pada kisah Hardo (diperankan Adipa

JawaPos.com - Aktris Ayushita dan aktor Adipati Dolken akan beradu peran dalam film berjudul Perburuan. Diangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul sama, Perburuan akan tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia pada tanggal 15 Agustus 2019.

Secara garis besar, Perburuan yang disutradarai oleh Richard Oh ini bercerita tentang seorang mantan komandan pleton pembela tanah air (PETA) bernama Hardo (Adipati Dolken) yang dikejar-kejar oleh tentara Jepang karena dianggap musuh negara. Ayushita sendiri berperan sebagai kekasih Hardo yang bernama Ningsih di film ini.

Keduanya membagikan pengalaman menarik mereka selama menjalani proses syuting ketika mampir ke kantor Jawa Pos di Gedung Graha Pena Jakarta. "Semua proses syutingnya tak terlupakan. Karena medannya berat-berat, susah situasi dan kondisinya, agak cemas saat itu. Prosesnya syutingnya sampai 20 hari," kata Ayushita.

Adipati menceritakan, tawarannya berperan sebagai Hardo sebetulnya sudah datang sejak 4 tahun lalu. Ketika dihubungi Richard Oh untuk sama-sama membicarakan penggarapan Perburuan, Adipati mengaku kala itu ia belum mengetahui apapun soal Perburuan dan novelnya.

"Saya dikasih tahu Richard Oh mau bikin film Perburuan sejak 4 tahun lalu, dia bilang 'nanti kamu saya tes ya'. Lalu saya mulai cari bukunya. Tapi kemudian sempat hilang nggak ada kabar. Tapi ternyata memang jodoh (bermain sebagai Hardo di Perburuan, Red)," ujar Adipati.

Proses pendalaman dan menghafal skrip diakui Adipati tidak terlalu menjadi beban walau dalam novelnya, Perburuan kerap menggunakan padanan kata yang sudah jarang dipakai di obrolan sehari-hari.

"Ada kata-kata yang 'ini artinya apa ya?'. Bahasanya sudah nggak dipakai lagi, dan akhirnya kami rembukin dulu cara pakainya gimana. Untungnya saya dan Ayushita pernah main film yang setipe di era 1940-an juga kan, jadi punya bekal pengalaman. Justru menghafal skripnya di tengah kesibukan kami sih," jelas Adipati.

Sementara itu, Ayushita mengaku bahwa ia memiliki kekaguman terhadap sosok Pramoedya Ananta Toer. Menurutnya, Pram adalah sosok yang berani mewakili suara rakyat yang tak bisa bersuara di zaman tersebut.

"Pramoedya orang yang sangat berani, berprinsip punya sudut pandang yang bisa mewakili orang-orang yang nggak bisa ngomong pada zamannya. Dia nggak berhenti ketika dihalangi untuk bersuara, walaupun dari dalam penjara. Itu berani sekali ya. Walaupun nggak semua (karyanya, Red) berhasil dipublikasikan, menurut saya dia orang yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada rakyat," tutur Ayushita.

Kekagumannya pada Pram pun membuat Ayushita bahagia saat ditawari terlibat dalam film Perburuan. "Bicara soal Perburuan, Pram adalah penulis keren yang berani. Membuat kami menjadi manusia yang lebih bersyukur. Nggak pernah terbayang akan main film ini. Happy banget saat ditawari," tutupnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore