
Reza Rahadian pemeran Biru Laut dalam film Laut Bercerita
JawaPos.com - Aku melayang-layang ke dasar lautan. Aku selalu menyangka, pada saat kematian tiba, akan ada gempa atau gunung meletus dan daun-daun gugur. Aku membayangkan dunia mengalami separuh kiamat. Manusia, binatang, dan segala makhluk hidup akan tenggelam. Karena itu, aku mengira begitu aku karam, kematianku akan menghasilkan guncangan besar. Ternyata itu hanya ilusi. Kematianku tak lebih dari seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya. Atau seperti saat listrik mendadak mati.
Demikian dikatakan Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa tahun 1998, dalam hati ketika tubuhnya yang babak belur dihempaskan ke laut, lengkap dengan borgol dan pemberat yang mengunci kakinya.
Sebelumnya, bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia diculik dan disekap di ruang bawah tanah, tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka diinterogasi, disetrum, dipukuli, ditendang, digantung, dan direndam dalam bak air hanya untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan, Siapakah sosok dibalik gerakan aktivis dan mahasiswa?
Dua tahun berselang hingga keluarga Biru Laut dibantu Tim Komisi Orang Hilang mencoba mencari jejak mereka dengan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Orang-orang terdekat dari mereka yang hilang dengan setia terus menuntut kejelasan. Namun, hingga presiden silih berganti, nasib aktivis yang hilang tetap tak jelas. Sementara, Biru Laut, dari dasar laut bercerita pada dunia tentang apa yang terjadi dengan dia dan kawan-kawannya.
Demikian cuplikan film Laut Bercerita yang dibuat untuk peresmian novel terbaru Leila S. Chudori dengan judul yang sama.
Uniknya, film pendek ini didukung oleh segenap pihak yang dengan sukarela membantu, diantaranya Pritagita Arianegara (Sutradara), Wisnu Darmawan dan Gita Fara (Produser), Reza Rahadian (Biru Laut), Dian Sastrowardoyo (Kekasih Biru Laut), Ayushita Nugraha (Adik), Tio Pakusadewo (Ayah), Aryani Willems (Ibu), Lukman Sardi (Intel), Tanta Ginting (Alex Perazon), Ade Firman Hakim (Naratama), Haydar Salizh (Sunu Dyantoro), Adjie N.A (Intel dan penjaga penjara). Serta, didukung oleh Cineria Films dan Yayasan Dian Sastrowordoyo.
"Sangat meremas hati dan jantung" ungkap Nezar, aktivis 98 yang diculik dan kembali, usai menyaksikan film karya Pritagita Arianegara tersebut.
Dia menuturkan kekagumannya pada Leila yang secara apik mampu menggambarkan kondisi tragedi 1998 dari sisi keluarga dan pribadi-pribadi yang hilang. Bahkan, beberapa nama ditulis apa adanya di buku karyanya.
"Saya seperti ada tekanan saat mengingat kembali detil semua ini. Yang paling menyentuh saya adalah ketika banyak pihak keluarga ikut mencari setelah beberapa yang hilang itu kembali. Meski akhirnya, beberapa orang tua lebih dahulu meninggal sebelum yang hilang kembali, sebelum jelas nasib anak-anaknya," tutur Nezar dengan beberapa kali helaan nafas dan menyeka ujung matanya.
Kemudian, Nezar mengkisahkan bagaimana ayah Noval, sahabatnya sesama aktivis, yang setiap malam menunggu anaknya pulang. Bahkan, selalu menyisihkan jatah makanan Noval dengan harapan anaknya akan pulang suatu saat nanti.
“Kami orang-orang yang diculik saat (tragedi) 98 adalah cerita yang belum selesai," imbuh mantan ketua umum Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) tersebut.
Malam itu, hadir pula Wahyu Susilo, adik dari Wiji Thukul seorang aktivis sekaligus sastrawan yang turut diculik tahun 1998 dan tak diketahui keberadaannya hingga pemerintahan terus berganti.
"Saya kira pernah ada pembacaan puisi saat Jokowi jadi Wali Kota (DKI Jakarta) untuk menggugat kasus HAM (Hak Asasi Manusia) yang lalu, tapi nyatanya selama jadi presiden belum ada gerakan yang didedikasikan kepada keluarga orang-orang yang hilang. Selama itu sebatas pidato tanpa aksi nyata, saya kira sama saja," tutur Wahyu kecewa.
Melalui karya Leila dan kawan-kawan ini, kita semua diingatkan untuk melawan lupa. Melalui karya ini, mereka berharap ke depannya aksi Kamisan mendapat tanggapan nyata dari penguasa.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
