Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 15 Januari 2026 | 14.53 WIB

'28 Years Later: The Bone Temple': Kala Pemuja Setan Lebih Mengerikan dari Setan

Adegan dalam film 28 Years Later: The Bone Temple. (Istimewa) - Image

Adegan dalam film 28 Years Later: The Bone Temple. (Istimewa)

JawaPos.com - Juni 2025 lalu, Sony Pictures merilis film ketiga dari franchise 28 Days Later yang berjudul 28 Years Later. Meski megah dan menawan secara visual dan tata suara, plot dari film besutan Danny Boyle tersebut menyisakan plot hole yang cukup mengganggu dan mengundang banyak tanya.

Segala tanda tanya tersebut rupanya sudah disiapkan untuk installment keempat waralaba ini, yang berjudul 28 Years Later: The Bone Temple.

Disutradarai oleh Nia DaCosta, film berdurasi 109 menit ini menitikberatkan pada sepak terjang sosok dr. Ian Kelson yang hadir sebagai sosok misterius di 28 Years Later lalu. Selain Ian, film ini juga mengisahkan nasib yang dialami oleh Spike, anak kecil yang jadi protagonis utama di rilisan terdahulu, setelah ending dari 28 Years Later yang sangat menggantung.

Film ini mengambil latar waktu tepat setelah penghabisan film sebelumnya, di mana Spike (Alfie Williams) yang dikepung oleh gerombolan zombie diselamatkan oleh kelompok pemuda aneh berbaju warna-warni.

Tanpa sepengetahuan Spike, grup pimpinan pria gila yang menamai dirinya sebagai Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O'Connell) ini ternyata merupakan kawanan pemuja setan yang sadis bukan kepalang.

Alih-alih mendapatkan kawan baru, Spike justru terjebak dalam situasi 'lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya'. Selain dipelonco dan dipaksa bertarung untuk membuktikan dirinya layak hidup, Spike juga menyaksikan sendiri betapa kejamnya kelompok yang menyembah sosok iblis bernama Nick Tua tersebut.

Tak punya pilihan, Spike terpaksa bergabung dengan Jimmy dan para anak buahnya demi keselamatan nyawanya sendiri.

Di tempat lain, dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes) tanpa sengaja mengungkap sebuah penemuan bahwa zombie-zombie yang berkeliaran di seluruh penjuru bumi ternyata bisa disembuhkan.

Hal ini ia buktikan lewat eksperimen hari-harinya bersama Samson (Chi-Lewis Parry), salah satu zombie alfa yang menguasai hutan tempat Ian tinggal.

Meramu sebuah obat dari beragam bahan herbal dan morfin medis, Ian menyuntikkannya lewat senjata sumpitan yang ia bawa setiap hari ke arah tubuh Samson setiap kali sang zombie ingin menyerangnya. Hasilnya, sang zombie tidak hanya menjadi jinak, tapi juga bisa diajak berinteraksi.

Takdir pun akhirnya kembali mempertemukan Ian dan Spike yang berada di bawah naungan kelompok Jimmy Crystal, di mana pertumpahan darah pun tidak terelakkan lagi.

Di luar dugaan, 28 Years Later: The Bone Temple ternyata berhasil dikemas sebagai film yang lebih menyentuh dari pendahulunya. Film ini menunjukkan bahwa, sejatinya, tidak ada yang lebih mengerikan dari manusia di dunia ini walau peradaban sedang terpapar oleh invasi zombie lapar. 

Yang juga jadi hal menarik, adegan kejar-kejaran dengan zombie juga sangat minim di film ini, berbeda dengan tiga film sebelumnya. Di 28 Years Later: The Bone Temple, sutradara Nia DaCosta seolah ingin menunjukkan bahwa dalam keadaan dunia yang hancur sekalipun, ancaman utama bagi umat manusia sebetulnya tidak lain dan tidak bukan datang dari sesama manusia itu sendiri.

Anggapan banyak orang bahwa manusia lebih menakutkan dari setan betul-betul digambarkan dengan baik lewat perilaku psikopat Jimmy dan antek-anteknya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore