Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 1 April 2024 | 18.54 WIB

Mengulas Kemasan Konten Budaya Lokal yang Jadi Kekuatan Film Indonesia sebagai Hiburan

NANA: Happy Salma (kiri) dan Laura Basuki dalam Before, Now, & Then yang diadaptasi dari novel Jais Darga Namaku. - Image

NANA: Happy Salma (kiri) dan Laura Basuki dalam Before, Now, & Then yang diadaptasi dari novel Jais Darga Namaku.

Film-film Indonesia kian dicintai publik tanah air. Seiring berjalannya waktu, para penikmat film menjadi lebih luwes dalam mengapresiasi tontonan. Jika dulu subtitle dianggap mengganggu, kini justru dianggap perlu karena bisa menjadi acuan informasi.

SUTRADARA Ifa Isfansyah masih ingat masa-masa penggunaan bahasa daerah atau munculnya konten budaya dalam film dianggap basi. ’’Dulu film Indonesia harus berbahasa Indonesia. Bahkan, produser sampai berpikiran jangan ada subtitle (dalam film) kalau mau laku,” katanya saat dijumpai di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, pada Rabu (27/3).

Masa-masa yang diceritakan Ifa itu sudah lewat. Sekarang, publik sangat bisa menerima film-film yang dialognya menggunakan bahasa daerah. Fenomena itu direspons baik oleh para produser. Bahkan, beberapa di antaranya justru meminta agar ada muatan budaya lokal dalam film garapan mereka. Petunjuknya pun jelas, bumbu budaya lokal itu harus eksplisit dan beragam. Bisa dari judul filmnya, latarnya, atau dialek para tokohnya.

’’Sekarang lebih mudah (menawarkan film berbudaya ke produser, Red). Bahkan, sekarang produser yang punya keinginan agar filmnya lebih mengangkat culture apa gitu,” papar Ifa. Faktanya, film yang unsur budayanya kental justru menuai apresiasi baik dalam masyarakat. ’’Semakin dekat budayanya dengan penonton, produser semakin senang,” imbuhnya.

Para penikmat film Indonesia, menurut Ifa, tidak lagi risi pada subtitle. Faktor itu memicu perkembangan pesat produksi film. ’’Sekarang orang udah biasa nonton pakai subtitle. Justru bikin keberagamannya lebih banyak,” tutur produser serial Gadis Kretek itu.

Dari sudut pandang sineas, unsur budaya dalam sebuah film merupakan nilai plus. Tidak hanya menjadi lebih diterima oleh penikmat film tanah air yang budayanya beragam, tapi juga oleh masyarakat global. Unsur budaya dalam film Indonesia menjadikan gengsinya naik di mata dunia.

KAMPUNG: Rieke Diah Pitaloka luwes memaknai kebaya saat memerankan Ningsih dalam Before, Now & Then.

Sebagai negara kepulauan yang masyarakatnya majemuk dari Sabang sampai Merauke, Indonesia punya begitu banyak peluang untuk membikin film yang khas. ’’Kalau ngomongin kekuatan film Indonesia ya hanya ini cara memenangkan dari semua karakternya. Nggak ada negara yang lebih beragam dari Indonesia,” terang Ifa.

Ifa menambahkan, untuk menjaga mood publik terhadap film-film dengan muatan budaya lokal, insan film juga harus bisa mempromosikan karya mereka dengan menarik. ’’Jangan template. Film itu kan pekerjaan kreatif. Bukan hanya dari sisi produksi dan skripnya aja, tapi promosinya pun harus kreatif,” ungkapnya.

Bagi Prilly Latuconsina, film bermuatan budaya yang penggarapannya apik juga menjadi promosi tersendiri. ’’Justru buatku itu sesuatu yang sangat positif bisa mempromosikan budaya Indonesia,” tuturnya kepada Jawa Pos.

Menurut pemain film yang belakangan juga menjadi produser itu, film bertema budaya tidak harus saklek menampilkan muatan budaya secara utuh dalam film. Genrenya pun tidak harus drama, biopik, atau sejarah. Film bergenre komedi pun bisa diberi muatan budaya lokal. ’’Produser harus pintar mengemasnya. Kalau nggak, orang akan menganggap film itu menggurui. Jadi tetap harus dikemas dengan cara menghibur dan menyenangkan,” ucapnya. (shf/c17/hep)

---

INDUSTRI FILM INDONESIA SAAT INI

  • Opsi Tontonan Lebih Banyak
  • Selain bioskop, ada beragam layanan OTT yang bisa diakses dari gawai.
  • Penonton Punya Kontrol
  • Masifnya penggunaan media sosial membuat penonton mampu andil dalam industri film. Misalnya, lewat boikot atau malah memviralkan.
  • Kritikus Makin Kritis
  • Kini, kritik dan ulasan film tak hanya tentang bagus/tidak bagus. Banyak kritikus yang membahas teknis seperti kontinuitas cerita dan akurasi film berlatar sejarah.
  • Kru Jawasentris, Produksi Jakartasentris
  • Kru utama perfilman Indonesia didominasi nama yang itu-itu saja. Tak bisa dimungkiri, proyek besar masih berpusat dari rumah produksi yang berbasis di Jakarta.
  • Sukses Tidak Selalu Sinyal Positif untuk Sekuel
  • Banyak film laris yang lantas dibikin sekuelnya. Ekspektasi penonton biasanya menjadi lebih tinggi pada film lanjutannya. Sementara itu, dari segi kualitas produksinya justru menurun karena hanya memanfaatkan momentum.

Sumber: Hasil wawancara Jawa Pos

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore