Cuplikan film Avatar: The Way of Water. (20TH Century Studios)
JawaPos.com – Di Avatar: The Way of Water, penonton diajak menjelajah lautan Pandora, yang dihuni bangsa Avatar laut Metkayina. Pemilihan latar baru itu lahir dari kecintaan James Cameron terhadap laut. Dalam wawancara dengan National Geographic yang dirilis pekan lalu, sutradara sekaligus kreator Avatar itu mengaku jatuh cinta pada samudra dan laut dalam sejak kecil.
Beranjak dewasa, Cameron pun mulai menyelam. ’’Ada ungkapan ’tulislah yang kau ketahui’ dan aku tahu banyak tentang laut. Aku cinta laut. Dan kupikir, kenapa tidak menyatukan dua hal yang kucintai secara bersamaan?’’ ungkapnya.
Sesuai judul sekuel, The Way of Water, sineas asal Kanada tersebut ingin menceritakan perjalanan wilayah perairan dari waktu ke waktu. Termasuk di kondisi rusak seperti saat ini.
Selama mengembangkan Avatar 2, fokus utama Cameron adalah menceritakan Metkayina. Klan itu dikisahkan merupakan penduduk Na’vi daratan yang telah beradaptasi dengan lingkungan laut. Metkayina juga memiliki budaya dan hubungan erat dengan samudra yang jadi tempat tinggal mereka.
’’Kami melakukan riset tentang suku asli yang hidup berdampingan dengan samudra. Kami mempelajari Polinesia, yang punya budaya berkano. Lalu, bagaimana kami ’menerjemahkan’ kultur suku asli lewat sudut pandang Pandora? Ada suku Sama-Bajo, masyarakat di Indonesia yang masih tinggal di rumah apung dan rakit,’’ papar sutradara pemilik tiga piala Oscar tersebut.
Hal itu juga diungkap produser Avatar Jon Landau. Dalam sesi roundtable Oktober lalu, dia mengaku terinspirasi lautan dari berbagai belahan dunia untuk mengembangkan biota laut Pandora. Landau juga dibantu pengalaman menangani dokumenter tentang laut dan hobi menyelam.
’’Avatar 2 juga terinspirasi laut Indonesia. Aku beberapa kali scuba diving di kawasan kepulauan di sana. Terumbu, ikan, serta makhluk laut lainnya begitu kaya dan penuh warna,’’ ujar James Cameron.
Keseriusan Avatar 2 dalam menggambarkan lautan Pandora tak cuma mendapat apresiasi kritikus maupun penonton. Profesor ilmu lingkungan dan kelautan Northeastern University Brian Helmuth mengakui, Cameron dan tim punya pemahaman yang baik tentang samudra. Dia menyebut tim efek visual dan sinematografi jeli mengamati dinamika fluida atau zat cair.
’’Secara alamiah, mata manusia sangat peka dalam ’melihat’ perbedaan aliran alami dan buatan. Kurasa, Cameron dan tim sangat luar biasa dalam hal fluida. Lautnya terlihat nyata alami, sehingga otak kalian tak akan ’terganggu’ dengan apa yang kalian lihat di laut Pandora,’’ terang pria yang juga fans berat Avatar itu.
Dia berharap kesuksesan Avatar 2 –yang dianggap punya penggambaran laut paling mendekati nyata dan alami– bisa ikut membangun kepedulian penonton akan laut. ’’Sebanyak 95 persen kehidupan di bumi ada di lautan, tapi orang-orang tak menyadarinya, meski mereka sangat terpukau dengan apa yang ada di dalam laut,’’ tegas Helmuth.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
