
Varang dalam Avatar Fire and Ash. (IMDb)
JawaPos.com - Sutradara film Avatar: Fire and Ash, James Cameron, memberikan tanggapannya terkait rencana Netflix untuk mengakuisisi Warner Bros, sebuah studio yang disebut telah berusia 102 tahun.
Melansir dari laman Antara, pada Sabtu (13/12), Cameron menyatakan bahwa Netflix harus memberikan perhatian pada para pembuat film seperti Guillermo del Toro, yang tetap mendukung keberadaan bioskop.
Ia juga tidak menutupi kekhawatirannya terhadap niat Netflix yang dianggap ingin menggantikan pengalaman menonton di layar lebar dengan layanan streaming.
Dalam wawancara bersama Deadline, Cameron yang telah memenangkan tiga penghargaan Oscar, secara tegas menentang setiap langkah yang menurutnya akan merugikan bisnis bioskop.
Ia mengungkapkan pandangan bahwa meskipun keberadaan streaming memberikan kemudahan akses bagi penonton, pengalaman sinematik memiliki nilai yang sangat berharga dan tidak boleh tergantikan begitu saja.
Cameron merasa bahwa ada sesuatu yang istimewa dan sakral dalam menonton film di bioskop. Meski perkembangan teknologi menjadikan streaming lebih luas jangkauannya, menurutnya itu bukanlah solusi yang mampu sepenuhnya menggantikan atmosfer yang ditawarkan oleh layar lebar.
"Pengalaman sinema tidak boleh diabaikan dan akan terus melawan perubahan yang membawa dampak negatif bagi bioskop," ujarnya.
Sementara itu, Ted Sarandos, Co-CEO Netflix, sempat mengubah pandangannya beberapa waktu terakhir dan menyatakan dukungannya terhadap penayangan film di bioskop. Komitmen ini terutama berlaku untuk produksi Warner Bros yang memang dirancang khusus untuk layar bioskop.
Namun, kabarnya Sarandos hanya mendorong periode eksklusif penayangan selama 17 hari sebelum film tersebut tersedia di platform Netflix, waktu yang jauh lebih pendek dibandingkan ekspektasi umum 45 hari.
Langkah tersebut dianggap sebagai pukulan berat bagi bisnis bioskop. Cameron berpendapat bahwa meskipun kemudahan akses melalui layanan streaming memberi manfaat bagi audiens, pengalaman menonton langsung di bioskop tetap memiliki keistimewaan tersendiri.
Ia mendukung pandangan bahwa layar lebar adalah medium terbaik untuk menilai keberhasilan sebuah film secara optimal.
Contohnya adalah Avatar: The Way of Water (2022), yang menjadi salah satu film terlaris dunia dengan pendapatan mencapai 2,3 miliar dolar AS setelah ditayangkan terlebih dahulu di bioskop.
Pendapatan ini kemudian menghasilkan laba sebesar 531 juta dolar AS, membuktikan pentingnya fase eksklusif di gedung bioskop.
Avatar: The Way of Water dirancang khusus untuk format spektakuler seperti 3D dan Image Maximum di bioskop. Begitu pula sekuelnya, Avatar: Fire and Ash, yang berdurasi 3 jam 15 menit dan dibuat tanpa komposit untuk memberikan pengalaman maksimal dalam format 3D layar besar.
Cameron bahkan menyampaikan bahwa kontrol visual saat menonton di rumah, misalnya dengan menggunakan remote untuk mengutak-atik tampilan gambar, bisa secara signifikan mengurangi dampak emosional dari film tersebut.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
