Film Lafran Dibintangi Dimas Anggra./istimewa
JawaPos.com - Pahlawan Nasional Lafran Pane yang juga merupakan pendiri organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diangkat ke dalam film berjudul Lafran. Film tersebut dibintangi Dimas Anggara, Mathias Muchus, dan Lala Karmela. Serta diperkuat oleh sejumlah aktor lain yaitu Ariyo Wahab, Tanta Ginting, dan lain-lain.
Ide pembuatan film ini dilatarbelakangi oleh situasi bangsa yang dalam beberapa tahun belakangan menghadapi masalah tentang persatuan. Adalah Akbar Tanjung, salah satu senior KAHMI yang mengusulkan agar film keteladanan ini dibuat.
Gagasan Lafran Pane yang memiliki gagasan kuat tentang keislaman dan keindonesiaan yang menyatukan dianggap relevan untuk diangkat ke dalam film guna memberikan pesan dan inspirasi bagi generasi muda.
Baca Juga: Tekan Angka Monkeypox, Dinkes DKI Jakarta Berikan Vaksinasi Cacar Monyet Dosis Kedua
"Kepahlawanan itu harus disampaikan ke publik. Yang kita angkat di sini dari sisi keteladanan yang bisa diajarkan oleh Lafran Pane kepada anak muda," kata Arief Rosyid Hasan selaku Produser Eksekutif film Lafran dalam keterangan tertulis diterima JawaPos.com.
Film Lafran menjalani syuting sebelum masa pandemi Covid-19. Jadwal penayangannya terpaksa ditunda akibat pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia dan juga di banyak negara di dunia.
Pasca-produksi film Lafran baru dikerjakan setelah pandemi berakhir. Film ini rencananya akan tayang pada 2024 mendatang.
Berikut Sinopsis Film Lafran
Lafran ditinggalkan oleh dua perempuan paling dekat dalam hidupnya sejak masih kecil. Saat Laftan berusia 2 tahun, ibunya meninggal dunia. Selang beberapa tahun kemudian neneknya juga menyusul atau meninggal dunia.
Kehilangan dua sosok perempuan terdekat dalam hidupnya membuat Lafran jadi kurang pengasuhan. Ayahnya, Sutan Pangurabaan, tokoh pergerakan di Sumatera Utara, terlalu sering berpergian hingga Lafran harus ditinggal bersama kakaknya.
Di usianya yang masih kecil, Lafran menjadi pemberontak atas kondisi ketidakadian yang menuntut dia harus pindah ke berbagai sekolah. Lafran bahkan sempat menjadi petinju jalanan.
Kakaknya, Sanusi dan Armijn Pane, yang mendorong Lafran supaya energi pemberontaknya diubah ke dalam bentuk karya. Perjalanan Lafran dari Tapanuli Selatan ke Jakarta hingga Jogjakarta mewarnai perubahan cara pandangnya dalam berjuang.
Idealismenya menguat, prinsip hidup harus ditegakkan menjadikan Lafran Pane punya visi besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia..
Saat pendudukan Jepang, Lafran sempat ditahan karena membela para peternak sapi. Dia kemudian dibebaskan setelah ayahnya menebus dengan menyerahkan bus Sibual-buali kepada tentara Jepang.
Sejak itu, Lafran begitu antusias terlibat dalam berbagai arus gerakan kemerdekaan, termasuk para pemuda yang mendorong Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI.
Semasa kuliah di Jogjakarta, Lafran gelisah melihat kaum muslim terpelajar yang terlalu larut dalam pemikiran sekuler. Mereka sering melupakan ibadah utama. Maka, muncul kemudian gagasan untuk dia mendirikan HMI sebagai wadah untuk berjuang dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.
Mewujudkan hal itu tentu bukan perkara mudah mengingat arus politik aliran pada saat itu sangat kencang. Keberadaan HMI ditentang oleh organisasi Islam yang sudah ada. Belum lagi adanya resistensi dari gerakan kelompok sosialis.
Dari semua pertentangan dan gesekan yang dihadapi, Lafran punya tekad dan niat yang bulat serta hati yang mantap untuk mewujudkan visi panjangnya tentang keislaman dan keindonesiaan yang sejuk, damai, indah, dan menyatukan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
