Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Maret 2021 | 18.11 WIB

Harga Flat di OTT, Film Indonesia Merindu Bagi Hasil Bioskop

Ilustrasi. Simulasi pembukaan dan peninjauan bioskop di Cililitan, Jakarta (29/8/2020). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi. Simulasi pembukaan dan peninjauan bioskop di Cililitan, Jakarta (29/8/2020). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Industri film Indonesia bisa dibilang terhenti saat tahun lalu bioskop tutup sementara. Ketika sudah dibuka pun, kapasitas 50 persen penonton membuat sejumlah rumah produksi urung merilis film anyar di bioskop. Cara lain akhirnya ditempuh demi menjaga produktivitas.

---

SELAMA pandemi, sejumlah film orisinal Indonesia bermunculan di OTT seperti Netflix, Disney+ Hotstar, atau Bioskop Online. Sebut saja Sobat Ambyar, Guru-Guru Gokil, Pelukis Hantu, Sabar Ini Ujian, Bucin, dan Story of Kale. Dengan demikian, rumah produksi tetap mendapat penghasilan sekaligus aktif merilis karya baru.

Akhir tahun lalu, film-film baru Indonesia tetap dirilis di bioskop. Namun, hasilnya tidak terlalu mengesankan. Target penonton sulit dicapai dalam waktu cepat karena ada pembatasan. Ditambah, sebagian orang masih enggan ke bioskop meski sudah ada penerapan protokol kesehatan.

Produser MD Pictures Manoj Punjabi termasuk yang merasakan sulitnya merilis film baru di bioskop. Desember lalu, rumah produksi Manoj merilis film sekuel Asih 2. Film pertamanya sukses meraih 1.714.798 penonton saat dirilis pada 2018. Sayang, Asih 2 hanya mampu meraih 252.018 penonton meski dirilis di pekan libur akhir tahun.

Saat dihubungi Kamis lalu (25/3), Manoj membenarkan bahwa keputusannya merilis film baru di bioskop saat pandemi cukup berisiko. ’’Ini film sekuel, banyak yang menantikan. Tapi, target nggak sampai, ya repot,’’ katanya. Sementara itu, daftar rilisan film MD Pictures masih mengantre. Tidak mungkin semua ditahan dalam waktu yang lama.

Agustus lalu, Manoj membuat keputusan. Sejumlah film karya rumah produksinya langsung dirilis di OTT. Salah satunya Disney+ Hotstar. Sejak September lalu, sejumlah film MD Pictures dirilis di kanal streaming tersebut. Misalnya, komedi berkonsep time loop Sabar Ini Ujian dan komedi horor Pelukis Hantu.

Awalnya, tim Disney+ Hotstar dan MD Pictures bertemu untuk membahas konten apa saja yang kali pertama dirilis. Pihak MD Pictures lantas memberikan list konten atau film yang cocok. Setelah pihak Disney+ Hotstar memilih, mereka akan membeli hak putar film-film yang mereka tentukan.

Selain film, Manoj juga merilis serial. Salah satunya My Lecturer My Husband yang tayang di WeTV. Serial yang dibintangi Prilly Latuconsina itu sukses besar sehingga akan dibuat sekuelnya. Menurut Manoj, merilis film dan serial langsung di OTT sangat membantu perusahaannya untuk bertahan di masa sulit.

Serupa dengan yang dilakukan Manoj, sejumlah produser juga merilis film langsung ke OTT. Misalnya, Linda Gozali dari Magma Entertainment yang merilis Sobat Ambyar pada Januari lalu di Netflix. Atau Shanty Harmayn dari BASE Entertainment yang merilis Guru-Guru Gokil Agustus lalu di Netflix.

Para produser mengakui bahwa film yang diproduksi semula direncanakan tayang di bioskop. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan, mereka mengubah rencana. ’’Malah dari Netflix sangat mendukung promosinya. Film jadi bisa ditonton atau diakses dari banyak negara,’’ ucap Linda.

Di samping merilis film baru, sejumlah film yang sebelumnya tayang di bioskop juga akhirnya dirilis di OTT. Sebut saja franchise Dilan (Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea). Tiga film yang menjadi film terlaris pada tahun perilisannya itu kini bisa ditonton di Netflix.

Produser MAX Pictures Ody Hidayat menjelaskan, pihak Netflix sudah membeli hak tayang tiga film Dilan besutannya. Dengan banyaknya penggemar film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu, Ody yakin bahwa merilis film di OTT cukup menguntungkan perusahaannya.

Photo

TETAP JAGA JARAK: Penggarapan Cap Cip Top, proyek Ravacana Films yang merupakan spin-off dari film pendek Tilik yang viral tahun lalu. (RAVACANA FILMS FOR JAWA POS)

Meski tren menonton di OTT sedang naik dan bisa menguatkan kondisi finansial perusahaan, para produser tetap memprioritaskan bioskop. Sejumlah film akan ’’disimpan’’ untuk perilisan bioskop. Misalnya, film horor KKN di Desa Penari yang seharusnya rilis tahun lalu. Juga, film Lara Ati yang kini diproduksi BASE Entertainment di Surabaya. ’’Tapi, tergantung lagi dari bioskop dan pemerintah. Harus ada dukungan dari semua pihak,’’ imbuh Manoj.

Kampanye Bioskop Aman

Wakil Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia Dewi Umaya mengungkapkan, upaya yang telah dilakukan pihak bioskop belum menunjukkan perkembangan signifikan. Menurut dia, seluruh stakeholder yang terlibat harus bekerja sama memberantas framing menakutkan terkait dengan pandemi.

Dia menyebutkan bahwa tingkat keamanan di bioskop lebih tinggi daripada tempat-tempat hiburan maupun rumah makan lainnya. ”Bioskop itu sebenarnya nggak lebih bahaya daripada restoran,” tegas Dewi. Sebab, saat berada di dalam studio, pengunjung akan berfokus menonton sehingga minim percakapan. Belum lagi penerapan duduk yang berjarak antar penonton. Ada juga larangan membuka masker. ”Kita semua harus berhubungan mengampanyekan bioskop aman. Karena awareness itu sendiri kan dari kita juga sebetulnya,” tuturnya.

Kurangi Kru, Masker Jadi Atribut Wajib


Diterpa pandemi dan kondisi serba terbatas, industri film di luar ibu kota tetap bergerak. Di Jogjakarta, Ravacana Films tetap berproduksi. Rumah produksi yang melejit berkat Tilik itu kembali mendapat ”pesanan” dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Jogjakarta. Kali ini mereka merencanakan film pendek untuk penonton anak-anak.

”Ditarget selesai September. Mulai produksinya habis Lebaran. Sekarang sudah masuk tahap penulisan naskah,” kata Bagus Sumartono, penulis naskah di Ravacana Films. Dia menceritakan, calon film baru itu bakal berformat musikal. Lepas dari latar atau cerita seputar pandemi. ”Secara psikologis, orang-orang sudah males liat orang bermasker,” imbuhnya.

Pandemi, diakui Bacep, sapaan Bagus, mengubah suasana di balik layar. Protokol kesehatan dijalankan. Masker menjadi atribut wajib. Tidak ada lagi kerumunan, baik kru maupun cast dan figuran. ”Di hari syuting, misalnya, keterlibatan 40–50 orang saja. Kalau memungkinkan, kita sedikitin lagi,” paparnya.

Penulisan naskah pun mau tak mau ikut beradaptasi. Bacep menghindari adegan yang secara artistik membutuhkan banyak pemeran. ”Misal, adegan butuh total 20 orang, tokoh utama dan ekstra. Karena pandemi, jadi tiga pemeran utama dan dua ekstra,” lanjutnya. Pandemi dinilai amat mungkin memicu tren baru. Yakni, film dengan lingkup cerita lebih kecil dan sedikit tokoh.

Baca Juga: Nazaruddin ke Kubu Moeldoko, Kubu AHY: Yang Waras Pasti Takkan Minat

Bacep menyatakan, ladang film di tanah air masih sangat subur. Penonton tak rewel dengan tema tertentu. Suka mencermati dialog tokoh atau suasana di film, yang lantas diunggah ulang dan didiskusikan di media sosial. ”Seneng banget ada karya dengan statemen tertentu yang bisa viral atau meledak,” paparnya.

Di Palembang, ada komunitas Layar Taman yang baru saja merampungkan proyek film pendek. ”Kami baru selesai syuting 27–28 Februari. Cepat karena memang film pendek,” kata Rifqi Mardani. Film berjudul Begancang, yang dalam bahasa Palembang berarti buru-buru, tersebut mengisahkan hubungan suami istri di bulan Ramadan. Rifqi yang menjadi produser di film itu menyatakan banyak penyesuaian produksi.

Selama masa praproduksi dan syuting, ada tim yang bertugas menyiapkan hand sanitizer dan masker serta melakukan pengecekan suhu tubuh. Tidak ada swab karena bujet terbatas. ”Yang penting selalu diingatkan pakai masker,” paparnya. Hal itu juga berlaku buat para pemeran. Kondisi kru dan cast terus dipantau hingga dua pekan setelah syuting berakhir.

Di lokasi syuting, Rifqi menyatakan, tidak ada peraturan khusus karena hanya terpatok di dua lokasi: rumah dan jalanan. Namun, tim produksi mengurangi kru untuk pengambilan gambar di jalan. Kepala Divisi Humas Layar Taman itu mengatakan, tidak terlalu banyak kendala saat syuting. ”Mungkin karena di Palembang, nggak seketat Jakarta. Izin mudah selama menjalankan protokol kesehatan,” lanjutnya.

Tahun lalu, dia mengakui segalanya seakan melambat. ”Harusnya awal tahun ini kami syuting film (berdurasi) panjang. Semua kena dampak, proyek di-cancel, enggak ada job,” kata Rifqi. Namun, Layar Taman tetap beraktivitas lewat diskusi dan skrining. Memasuki akhir tahun lalu, kondisi dirasakan membaik. ”Klien-klien mulai nelpon, ada tawaran kolaborasi. Kelihatannya tahun ini mulai dan akan lebih longgar,” ungkapnya.

Tetap Berkarya dengan Aman


Para pelakon film juga menjadi pihak yang terdampak pandemi Covid-19. Sejumlah produksi film terpaksa dihentikan sementara sampai pandemi reda. Namun, sejak pemberlakuan new normal sekitar Juli-Agustus 2020, sejumlah rumah produksi mulai melanjutkan proses syuting. Namun dengan sejumlah peraturan baru dan protokol kesehatan, tentu saja.

Para pelakon pun memutuskan tetap berkarya di masa pandemi. Di antaranya aktris Asri “Welas” Pramawati. Perempuan yang tenar berkat sitcom Suami-Suami Takut Istri itu menjalani syuting film Keluarga Cemara 2 dan Susah Sinyal The Series selama pandemi. “Itu syutingnya barengan lho. Satu di Puncak, satu di Anyer,” kata Asri, Rabu lalu (24/3).

Asri tidak memungkiri bahwa syuting di masa pandemi cukup berisiko. Selain karena bekerja di luar, dia juga harus bertemu dengan banyak orang. Namun, Asri mengakui bahwa tim rumah produksi yang menggandengnya sangat bertanggung jawab. “Memang berisiko, tapi situasi kerjanya dibuat sangat aman,” kata ibu 3 anak itu.

Dua rumah produksi yang menggandeng Asri untuk syuting, Visinema Pictures dan Starvision Plus, menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Setiap cast dan kru datang untuk reading atau syuting, mereka wajib mengikuti tes swab.

Ketika masa syuting, para cast ditempatkan di satu wilayah yang sudah disterilkan. Hanya mereka yang berkepentingan dan sudah di-swab yang boleh masuk. “Nah kalau aku kan bolak-balik Puncak-Anyer. Tiap kali aku datang ke satu tempat, aku swab dulu biar aman,” kata Asri.

Hal yang sama juga dialami aktris Putri Ayudya. Pertengahan tahun lalu, Putri melakukan syuting di beberapa kota untuk film dan serial Yowis Ben. Selain menerapkan sistem swab seminggu sekali, Putri dan cast lain juga diwajibkan berada di 1 hotel yang sudah disterilkan. “Yang udah di-swab bakalan ketemu yang juga udah di-swab. Gitu-gitu aja,” jelas Putri.

Saat ini Putri tengah berada di Pekalongan untuk syuting film terbarunya, Alang-Alang. Sama seperti saat syuting Yowis Ben, protokol kesehatan pun tetap dilakukan sehingga Putri dan cast lainnya aman. “Aku sadar kalau buat aku, akting itu kebutuhan berkarya sekaligus kebutuhan ekonomi. Daripada di rumah nggak ngapa-ngapain kan,” katanya.

Baca Juga: Anaknya Ditampar Ibu Ara, Alasan Pelaku Menculik Ara

Bekerja di masa pandemi tentu cukup berisiko bagi kedua aktris itu. Namun, mereka mengaku bahwa soal honor, tidak ada penambahan atau pengurangan. Masih sama seperti saat mereka syuting sebelum pandemi. Justru mereka sekarang bekerja dengan pengawasan yang lebih bertanggung jawab dari tim rumah produksi yang memastikan mereka terhindar dari Covid-19.

Baik Putri maupun Asri sama-sama tidak mempersoalkan soal honor. Bagi mereka, dengan adanya sistem yang aman dan terkontrol selama syuting, itu sudah lebih dari cukup. Sebab, kebutuhan berkarya, ekonomi, hingga keselamatan mereka terjamin penuh.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=ZKkS4AGOD9g

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore