
Ilustrasi. Simulasi pembukaan dan peninjauan bioskop di Cililitan, Jakarta (29/8/2020). (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)
Industri film Indonesia bisa dibilang terhenti saat tahun lalu bioskop tutup sementara. Ketika sudah dibuka pun, kapasitas 50 persen penonton membuat sejumlah rumah produksi urung merilis film anyar di bioskop. Cara lain akhirnya ditempuh demi menjaga produktivitas.
---
SELAMA pandemi, sejumlah film orisinal Indonesia bermunculan di OTT seperti Netflix, Disney+ Hotstar, atau Bioskop Online. Sebut saja Sobat Ambyar, Guru-Guru Gokil, Pelukis Hantu, Sabar Ini Ujian, Bucin, dan Story of Kale. Dengan demikian, rumah produksi tetap mendapat penghasilan sekaligus aktif merilis karya baru.
Akhir tahun lalu, film-film baru Indonesia tetap dirilis di bioskop. Namun, hasilnya tidak terlalu mengesankan. Target penonton sulit dicapai dalam waktu cepat karena ada pembatasan. Ditambah, sebagian orang masih enggan ke bioskop meski sudah ada penerapan protokol kesehatan.
Produser MD Pictures Manoj Punjabi termasuk yang merasakan sulitnya merilis film baru di bioskop. Desember lalu, rumah produksi Manoj merilis film sekuel Asih 2. Film pertamanya sukses meraih 1.714.798 penonton saat dirilis pada 2018. Sayang, Asih 2 hanya mampu meraih 252.018 penonton meski dirilis di pekan libur akhir tahun.
Saat dihubungi Kamis lalu (25/3), Manoj membenarkan bahwa keputusannya merilis film baru di bioskop saat pandemi cukup berisiko. ’’Ini film sekuel, banyak yang menantikan. Tapi, target nggak sampai, ya repot,’’ katanya. Sementara itu, daftar rilisan film MD Pictures masih mengantre. Tidak mungkin semua ditahan dalam waktu yang lama.
Agustus lalu, Manoj membuat keputusan. Sejumlah film karya rumah produksinya langsung dirilis di OTT. Salah satunya Disney+ Hotstar. Sejak September lalu, sejumlah film MD Pictures dirilis di kanal streaming tersebut. Misalnya, komedi berkonsep time loop Sabar Ini Ujian dan komedi horor Pelukis Hantu.
Awalnya, tim Disney+ Hotstar dan MD Pictures bertemu untuk membahas konten apa saja yang kali pertama dirilis. Pihak MD Pictures lantas memberikan list konten atau film yang cocok. Setelah pihak Disney+ Hotstar memilih, mereka akan membeli hak putar film-film yang mereka tentukan.
Selain film, Manoj juga merilis serial. Salah satunya My Lecturer My Husband yang tayang di WeTV. Serial yang dibintangi Prilly Latuconsina itu sukses besar sehingga akan dibuat sekuelnya. Menurut Manoj, merilis film dan serial langsung di OTT sangat membantu perusahaannya untuk bertahan di masa sulit.
Serupa dengan yang dilakukan Manoj, sejumlah produser juga merilis film langsung ke OTT. Misalnya, Linda Gozali dari Magma Entertainment yang merilis Sobat Ambyar pada Januari lalu di Netflix. Atau Shanty Harmayn dari BASE Entertainment yang merilis Guru-Guru Gokil Agustus lalu di Netflix.
Para produser mengakui bahwa film yang diproduksi semula direncanakan tayang di bioskop. Namun, karena kondisi tidak memungkinkan, mereka mengubah rencana. ’’Malah dari Netflix sangat mendukung promosinya. Film jadi bisa ditonton atau diakses dari banyak negara,’’ ucap Linda.
Di samping merilis film baru, sejumlah film yang sebelumnya tayang di bioskop juga akhirnya dirilis di OTT. Sebut saja franchise Dilan (Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea). Tiga film yang menjadi film terlaris pada tahun perilisannya itu kini bisa ditonton di Netflix.
Produser MAX Pictures Ody Hidayat menjelaskan, pihak Netflix sudah membeli hak tayang tiga film Dilan besutannya. Dengan banyaknya penggemar film yang dibintangi Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu, Ody yakin bahwa merilis film di OTT cukup menguntungkan perusahaannya.
Photo
TETAP JAGA JARAK: Penggarapan Cap Cip Top, proyek Ravacana Films yang merupakan spin-off dari film pendek Tilik yang viral tahun lalu. (RAVACANA FILMS FOR JAWA POS)
Meski tren menonton di OTT sedang naik dan bisa menguatkan kondisi finansial perusahaan, para produser tetap memprioritaskan bioskop. Sejumlah film akan ’’disimpan’’ untuk perilisan bioskop. Misalnya, film horor KKN di Desa Penari yang seharusnya rilis tahun lalu. Juga, film Lara Ati yang kini diproduksi BASE Entertainment di Surabaya. ’’Tapi, tergantung lagi dari bioskop dan pemerintah. Harus ada dukungan dari semua pihak,’’ imbuh Manoj.
Kampanye Bioskop Aman
Wakil Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia Dewi Umaya mengungkapkan, upaya yang telah dilakukan pihak bioskop belum menunjukkan perkembangan signifikan. Menurut dia, seluruh stakeholder yang terlibat harus bekerja sama memberantas framing menakutkan terkait dengan pandemi.
Dia menyebutkan bahwa tingkat keamanan di bioskop lebih tinggi daripada tempat-tempat hiburan maupun rumah makan lainnya. ”Bioskop itu sebenarnya nggak lebih bahaya daripada restoran,” tegas Dewi. Sebab, saat berada di dalam studio, pengunjung akan berfokus menonton sehingga minim percakapan. Belum lagi penerapan duduk yang berjarak antar penonton. Ada juga larangan membuka masker. ”Kita semua harus berhubungan mengampanyekan bioskop aman. Karena awareness itu sendiri kan dari kita juga sebetulnya,” tuturnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
